Mengejar Kebahagiaan yang Dapat Diterima Diri Sendiri

IMG_0354

 

Sebenarnya apa sih yang perlu manusia lakukan selama hidupnya? Menurut saya, setiap pribadi perlu berjuang untuk mengejar kebahagiaannya dengan cara yang bisa diterima oleh dirinya sendiri, bukan yang bisa diterima oleh lingkungan. Terdengar klasik yah, tapi itulah yang selalu saya pegang untuk terus bahagia. Saya tidak pernah kecewa dengan konsep hidup tersebut – karena dari hal tersebut, saya bisa berdiri di mana saya sekarang.

Nama saya Marvin Lucky. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen. Kenapa saya memulai dengan informasi ini? Karena saya bangga dengan kondisi saya saat ini. Saya menjalani masa perkuliahan saya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Dari sanalah, rasa cinta saya pada Republik Indonesia ini terpupuk dan bertumbuh. Semakin banyak saya tahu tentang pertanian Indonesia, semakin saya ingin menjadi bagian dalam perkembangan bangsa. Apakah latar belakang saya membuat saya mundur? Tentu tidak. Saya mengerti dan sadar, menjadi pejuang pertanian dengan latar belakang sebagai mahasiswa Indonesia-Tionghoa bukan hal yang lumrah. Dimana sebagian besar lebih tertarik menjadi seorang pebisnis, saya mencoba untuk bertahan dengan idealisme ini.

 

Sempat hampir menyerah dengan idealisme tersebut, Tuhan memberikan jalan untuk tetap bertahan dan berjuang di bidang pertanian. Saya mendapatkan beasiswa LPDP Indonesia (terima kasih banyak, LPDP, untuk kesempatan ini). Tidak ingin membuang kesempatan emas ini, saya segera bergerak dan mencari kampus dan jurusan pertanian terbaik di dunia. Pilihan saya jatuh ke the University of Adelaide. Saya mengambil Master of Global Food and Agricultural Business untuk jangka waktu 2 tahun perkuliahan. Tidak pernah ada penyesalan saat mengambil keputusan ini, karena the University of Adelaide adalah universitas terbaik dengan sejarah pertanian yang kuat. Saya banyak belajar (hingga sekarang) dari sistem pembelajaran, ilmu baru, dan teman-teman yang luar biasa.

 

Dua minggu setelah menginjakkan kaki di Adelaide, saya ditawarkan untuk menyalonkan diri menjadi ketua PPIA The University of Adelaide periode 2015. Awalnya, saya sempat minder karena latar belakang saya. Tapi saya memutuskan untuk menyalonkan diri. Meskipun ada kemungkinan kalah, setidaknya saya telah berjuang. Prinsip yang saya pegang teguh saat proses pemilihan hingga sekarang adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan berkat prinsip tersebut saya berhasil menjadi Ketua PPIA The University of Adelaide tahun lalu. Setahun bersama tim PPIA The University of Adelaide memberikan pengalaman dan cerita yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Susah, senang, capek, dan semangat mengiringi jalan kami selama setahun. Saya belajar untuk menerima kritik, untuk menerima perbedaan, dan untuk terus merangkul seluruh mahasiswa Indonesia di Adelaide. Saya sadar saya ketua yang jauh dari sempurna ketika menjalankan tugas, akan tetapi saya bangga dapat menyelesaikan masa jabatan saya dengan baik.

 

Selama berkuliah, mimpi saya adalah untuk pergi ke Roma, Italia dan bekerja di FAO-UN (Food and Agricultural Organization – United Nations) yang berpusat di ibu kota Italia. Saya bercita-cita untuk membantu seluruh manusia di dunia ini untuk mendapatkan makanan yang cukup, sehat, dan bergizi. Mimpi yang cukup simple, bukan? Memang, tapi saya sadar saya harus banting tulang dan berkorban demi mewujudkan impian saya. Meskipun begitu, saya tidak akan menyerah karena saya tahu saya sedang berjuang untuk mengejar kebahagiaan diri saya sendiri. Jujur, saya masih belum mengerti bagaimana cara terbaik untuk menuju ke sana. Namun saat ini saya sedang magang di UNORCID (United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia) yang bergerak di bidang kerusakan hutan dan pengurangan emisi karbon. Rasa cinta saya terhadap Indonesia semakin bertambah setelah saya mengerti bahwa sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi mengapa banyak orang Indonesia tidak ingin berkontribusi untuk memajukan Indonesia? Kenapa orang Indonesia cenderung merusak tatanan yang sudah baik ini? Kenapa orang Indonesia hanya bisa menggerutu dan protes saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya? Sebagai informasi, menurut World Bank 2015, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tahun 2015 menghasilkan kerugian dua kali lebih banyak dibandingkan dana yang diperlukan untuk membangun Aceh setelah tsunami. Singkatnya, tiga bulan kebakaran di tahun 2015 sama dengan rekonstruksi pembangunan di Aceh selama 10 tahun, dikali dua!

 

Sebagai penutup, saya bukan orang yang cukup percaya diri dengan masa depan. Saya pun belum memiliki gambaran jelas mengenai diri saya sendiri dalam lima tahun ke depan. Saya hanya ingin mengejar kebahagiaan yang bisa saya terima. Saya pun mengajak rekan-rekan untuk terus berjuang. Sesulit atau serumit apapun itu, jangan pernah menyerah. Tidak perlu minder akan masa lalu dan segala sesuatu yang sudah “nempel” di diri kita, tapi banggalah karena kita tidak menyerah untuk berjuang untuk bahagia. Salam PPIA ^^

___________________________________________________________________________________________

Marvin Lucky adalah penerima beasiswa LPDP yang saat ini sedang menekuni gelar Master of Global Food and Agricultural Business di University of Adelaide.

Comment (1)

  1. Tina

    artikel yg membuat saya terinspirasi utk terus berjuang menggapai mimpi, dan berbahagia dlm proses menggapainya. thanks Marvin

    Reply

Leave a Reply to Tina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>