Mengawal Bagai Kanal, Biar Deras Air Mengalir

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*)

Suatu malam di penghujung bulan Agustus, dalam perjalanan pulang dari kampus, berjalan seorang diri melintasi tepi Botanic Garden yang gelap sepi, aku menerawang memandang angkasa, dan benak mulai bertanya: Tuhan, mengapa Kau mengirim aku ke tempat ini? Sejenak kemudian aku tersenyum. Ilham itu datang bagai belai angin mengabarkan: Jalani saja takdirmu, dan kau kelak akan temukan jawabnya.

Jalan hidup manusia tak pernah bisa diterka. Setiap insan pasti punya cerita. Dan Tuhan sebaik-baiknya penulis skenario sekaligus sutradara. Karena itu, percaya saja, pasti ada hikmah di balik setiap kisah. Jadi hilangkan resah, usah gelisah, sebab sudah tiba saatnya kembali ke sekolah (dan tak perlu lagi malu pada semut merah berbaris di dinding.)

Aku pernah muda, belum tua, baru beranjak dewasa. Tiga puluh empat tahun usiaku. Usia yang matang, begitu kata orang. Mungkin sedikit terlambat untuk kembali jadi “anak kuliah”, setelah sembilan tahun menunggu datangnya kesempatan itu, namun lebih baik terlambat daripada tidak pernah terlambat. Aku tak pernah menyesal meski sudah empat kali gagal! Acapkali hanya hampir, cuma mampir, aku tidak putus asa, bangkit, kembali mencoba! Sebab aku percaya, kekuatan doa sanggup mengubah takdir, dan tiap sesuatu ada masanya, kesungguhan dan kesabaran pasti ada buahnya.

Dua puluh tahun lalu, jalan takdir menuntun ayahku menuntut ilmu ke negeri dingin bersalju, menerima beasiswa pascasarjana untuk program MBA di Saint Mary’s University, Halifax, Nova Scotia, Canada. Tak pernah terbayang, aku akan mengulang, menapaki jejaknya: Menerima beasiswa S2 untuk program MBA Advanced di University of Wollongong, New South Wales, Australia. Almarhumah ibuku pernah berkata, jalanku akan panjang dan lebih jauh dari ayah dan ibuku. Aku rasa ibuku ada benarnya, setidaknya MBA-ku ada tambahan Advanced-nya. Jika dulu kami sekeluarga mendampingi ayah belajar di bumi belahan utara, kini giliranku mengguratkan kisah di bumi terhampar belahan selatan.

Empat kali mencoba beasiswa ke Jepang, gagal! Aku sadar, jalanku bukan ke sana. Atau, mungkin juga, belum. Maka aku pun tersenyum, sambil memalingkan wajah, dari semula mendongak ke atas menjadi lebih menunduk dan merunduk, introspeksi dan memperbaiki diri. Ketika Australia Awards Scholarship mengetuk, menghampiri, Bismillah, kucoba lagi! Alhamdulillah, ternyata jalanku memang ke sana.

Maka di sinilah aku. Abdi negara yang ditugaskan sinau di negeri Kangguru. Aku bukan Neil Armstrong yang satu pijakannya di bulan sebagai manusia menandai lompatan besar bagi kemanusiaan. Aku hanya manusia biasa yang amat beruntung, dan aku sangat bersyukur. Salah satu wujud kebersyukuran konon adalah bersitan niat baik untuk berbuat lebih baik, baik untuk diri sendiri maupun dalam skala lebih luas, untuk memberi sebesarnya manfaat bagi umat. Lagi-lagi, bagai tirai yang tersibak, jalan itu pun terbuka bagi siapa hamba-Nya yang percaya!

Ahmad Almaududy Amri. Itu namanya. Bukan namaku. Namaku Dhimas Wisnu Mahendra. Adapun ‘Mas’ Dudy, aku mengenalnya tak langsung lewat Pak Made Andi Arsana saat Information Day diselenggarakan AAS di Jakarta, diberi alamat surel Ketua PPIA Ranting Wollongong untuk informasi terkait akomodasi. Tak berbeda dari Pak Made Andi yang ramah dan banyak membantu, terutama melalui blog-nya yang sering dijadikan rujukan peminat belajar dan pencari beasiswa di Australia itu, ternyata pemuda itu pun begitu. Terus terang aku terkejut ketika mempelajari profilnya. Dia masih begitu muda, baru dua puluh tiga, tetapi saat ini sedang menjalani program doktoral alias S3! Kapan mulai Sekolah Dasar-nya, ya?

Seperti Pak Made Andi yang saat itu hampir menyelesaikan S3 di Wollongong, keberadaan sosok energik yang menarik kian memantapkan hasrat untuk berkuliah di UOW, alih-alih memilih Australian National University di Canberra (maaf, ANU-ers!) sebagai pilihan utama, hal mana membuat heran banyak teman. Sejak aku melihat foto Grand Pacific Drive highway yang berkelok di sepanjang tepian pantai New South Wales, selain tentu mengenal mereka berdua, aku langsung jatuh cinta pada kota kecil yang tenang dan damai. Nama Wollongong sendiri dalam bahasa Aborigin kabarnya berarti bisikan laut, alias “the Sound of the Sea”, dan aku selalu mencintai laut, pantai, pasir, ombak, nyiur yang melambai, serta angin yang membelai. Ada bebas dalam luas, debar dalam debur, ada lebih dari sekedar romansa, aku merasakan getar resonansi yang menguat saat mendekat ke sana. Bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa di tempat yang tak biasa, aku merasa Tuhan pasti menyimpan alasannya.

Dua tahun tidak lama. Empat bulan berlalu tidak terasa. Sejak kedatanganku di bulan Mei, beberapa kali aku bertemu dan berinteraksi dengan ‘Mas’ Dudy. Siapapun yang bertemu dengannya dapat merasakan energi darah muda menggelegak dan tak berhenti bergolak, meski di permukaan pembawaannya tetap tenang terkendali. Mengingatkanku pada masa mudaku (ehm, belum tua, baru…) yang juga lincah dan tidak bisa diam. PPIA UOW di bawah kepemimpinannya kaya akan dinamika. Untuk waktu singkat aku pun merasakan serunya gotong-royong, baik dengan PPIA maupun dengan komunitas Indo-Wollongong, seperti saat mempersiapkan event Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 24 Agustus 2014. Aku banyak belajar darinya maupun teman-teman mahasiswa yang aktif dalam organisasi PPIA UOW.

Dua tahun tidak lama. Aku bertekad untuk mengisi waktuku di sini dengan sebaik-baiknya. Aku kembali teringat kepada sebuah tanya. Inikah salah satu jawaban dari pertanyaan itu? Tak dinyana, ‘Mas’ Dudy melalui Kongres PPIA Pusat di Brisbane, QLD, kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PPIA Pusat yang baru untuk periode 2014-2015! Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi PPIA UOW, sang ketua diberi amanat dan kepercayaan lebih besar untuk berkiprah di kancah nasional, sesuatu yang memang pantas baginya, atas pencapaian dan kerja kerasnya. Dan ia tidak berhenti! Bagai kereta peluru, terus melesat berpacu! Dalam waktu singkat, Ketum PPIA Pusat itu membentuk kabinet yang diberinya nama AKTIVIS! Seperti dirinya yang selalu aktif dan senantiasa bergerak, ditularkannya hasrat dan semangat itu kepada rekan sesama aktivis yang terpilih untuk mendampinginya, yakni mereka-mereka yang terpanggil untuk turut berkiprah di PPIA Pusat melalui Open Recruitment sebagai gebrakan dan pintu gerbangnya.

Inilah panggilan itu! Apakah aku harus mengabaikannya dan fokus saja belajar yang menjadi misi utama aku berada di sini, atau menjawab dengan siap mengorbankan waktu, energi, serta sumber daya, untuk sesuatu yang lain, dan untuk orang lain, sesuatu yang berbeda, namun memberi alasan untuk terjun dan membuat perbedaan? Bismillah, aku yakin ini jalannya. Tiap pertemuan atau perpisahan tak lepas dari takdir-Nya. Sekali lagi, tabir baru terbuka! Aku mendaftarkan diri dan menyampaikan CV untuk menjadi anggota PPIA Pusat, dan ternyata diterima! Subhanallah, semoga direstui dan bisa menjadikan manfaat.

Meski awalnya aku berminat berkutat di bidang kajian dan akademis, karena aku memang suka menulis, namun lagi-lagi ‘Mas’ Dudy melihat potensi dan menemukan saluran yang lebih tepat agar bisa berkarya lebih bermakna. Aku ditempatkan di Departemen Media dan Komunikasi, karena satu alasan dan untuk sebuah misi, yang ternyata adalah menjadi Project Officer untuk Diary PPIA AKTIVIS, sebuah tantangan dan kepercayaan yang semoga bisa aku jawab serta laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Maka di sinilah aku! Bersama banyak teman baru dengan hasrat dan semangat menggebu, dan lagi-lagi mereka masih begitu belia, usia dua puluhan, namun kecakapan serta kesungguhan mereka luar biasa! Aku bangga bisa berada di tengah-tengah, serta belajar dari mereka, para calon pemimpin bangsa di masa mendatang! Seperti Cokroaminoto menemukan pemuda Soekarno dan tunas merekah lainnya, aku sadar generasiku adalah perintis yang menyabit liar ilalang rerumputan, dan tugas kami adalah mempersiapkan kuntum-kuntum mekar ini, hingga berbunga indah menebarkan semerbak yang kelak mewangi, pada waktunya.

Seperti titik-titik air hujan yang rintik-rintik, setetes air yang jatuh mungkin dapat melubangi batu, tapi butuh waktu ratusan tahun lamanya. Lain halnya jika titik-titik air bersinergi menjadi aliran sungai yang bergerak dalam pencarian jalan menuju ke samudera. Ratusan dari ribuan titik-titik air yang mereguk pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di Australia kini, memilih untuk menjadi air terjun, dan kian deras mengalir! Mereka adalah titik-titik air yang bergerak, siap untuk melakukan perubahan. Merekalah yang kelak menerjang badai serta menghempaskan karang. Aku yang semula setitik air dalam kubangan yang hanya diam, membusuk tanpa daya, berbau serta hampir menguap, kini bagai disegarkan kembali, terselamatkan, turut terbawa arus nan bergelombang bersama derap maju para Aktivis PPIA.

Meski aku sekarang belajar di Australia, aku masih memegang erat budaya dan ajaran luhur bangsa. Ki Hajar Dewantara mengajarkan tiga peranan mulia untuk diterapkan. Ing Ngarso Sung Tulodho, di depan memberi teladan. Ing Madyo Mangun Karso, di tengah menggelorakan semangat. Tut Wuri Handayani, di belakang memberi dorongan. Dimanapun berada dan apapun peranannya, hendaknya kita tetap giat bekerja dan berkarya, bersinergi melakukan perubahan dan membuat perbedaan. Seorang pemimpin tak ada artinya tanpa pendukung yang bersedia berkorban bersamanya demi menggapai cita-cita mulia. Seorang prajurit tak kalah besar kontribusinya dari jenderal dan tak jarang menentukan kemenangan dalam pertempuran. Aku belajar arti pentingnya, tidak hanya kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, serta kerja tuntas, tapi juga kerja sama! Dan itu adalah ketika kita lebih mendahulukan kepentingan bersama serta orang lain dari kepentingan pribadi. Sebab, hanya titik-titik air yang mau dan mampu bekerja sama yang bisa bersama mencapai tujuan dengan saling menguatkan.

Aku sudah tahu dimana kini aku berada, dan untuk alasan apa. Melalui Diary PPIA yang kugawangi, aku ingin memainkan peranan sebagai kanal, yang memberi jalan lapang dan mengawal aliran air yang deras dan bergulung-gulung hingga tak terbendung, agar mencapai tujuan, berhasil tiba di luas dan lepasnya samudera. Aku siap menjadi martir, jadi air yang bergulat dengan tanah, jadi lumpur mengeras sehingga menciptakan kanal, jika itu dapat mengakselerasi laju teman-teman dengan memulus-lancarkan jalan. Setiap insan memainkan peranan. Negara butuh Soekarno. Tapi juga butuh Soekarni dan para pemuda pemberani lainnya yang bernyali menculik Dwi Tunggal ke Rengasdengklok, sebelum dikembalikan ke Jakarta, untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Meski hanya mempunyai mesin ketik, naskah proklamasi mungkin akan berbeda jika tak diketik Sayuti Melik. Maka biarkan para Aktivis memainkan peran dengan sebaik-baiknya. Selebihnya, sejarah akan mencatat!

PPIA laksana kawah Chandradimuka bagi Aktivis yang berjibaku di dalamnya. Di sinilah mereka digodok, ditempa, digembleng, hingga menjadi Gatotkaca muda gagah perkasa, dipersiapkan sebagai jago para dewa serta garda terkemuka bangsa. Ujian dan pertempuran sesungguhnya adalah kelak saat mereka kembali ke tanah air dan terjun untuk membangun Indonesia. Semoga dengan adanya Diary PPIA Aktivis ini, perjuangan dan pengorbanan para Aktivis yang luar biasa dapat terdokumentasikan dengan baik, sehingga dapat menjadi rekam jejak dan pelajaran berharga bagi generasi baru penerus dan pembaharu. Jika mendiang Soe Hok Gie meninggalkan memoar “Catatan Seorang Demonstran”, PPIA merangkum dalam Diary: “KARENA KAMI AKTIVIS!”. Jika Depmedkom dapat berperan sebagai kanal besar bagi para Aktivis anggota PPIA Pusat 2014-2015, itu sudah cukup memberikan arti bagi kami. Seperti ketulusan Bu Inggit kepada Soekarno menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, “Kuantarkan engkau sampai pintu gerbang.”

Semoga menjadi kontribusi nyata… 🙂

 

*) Penulis adalah Project Officer Diary PPIA, Departemen Media dan Komunikasi, PPIA Aktivis 2014-2015 dan mahasiswa program pascasarjana MBA Advanced di University of Wollongong, New South Wales.

Comment (1)

  1. Nur Hotimah

    senang membaca diary ini, sangat menginspirasi 🙂

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *