Beritakanlah, Kawan: Air Mengalir Sampai Jauh…

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*

Akhirnya… :)

Sesuatu yang berawal dengan apik, dan telah berjalan sangat baik, ketika tiba masa berakhir, sepantasnya ia diakhiri dengan indah pula. Setahun begitu cepat. Serasa baru kemarin saya memberi pengantar untuk Diary PPIA dengan tulisan berjudul “Mengawal Bagai Kanal, Biar Deras Air Mengalir”. Semasih tak cukup banyak kisah bisa dirangkai, kini tahu-tahu periode kepengurusan PPIA Aktivis 2014-2015 sudah harus berakhir.

Jika sebuah kisah memiliki prolog, selayaknya ia ditutup dengan epilog. Butuh waktu khusus bagi saya menuliskan ini, di sela persiapan ujian, menata emosi dan bergulat dengan damai hati. Saya bahkan butuh memutar lebih dahulu lagu-lagu legendaris dari Ebiet G. Ade hingga almarhum Gesang untuk mendapatkan atmosfir yang mengena sebelum menulis. Maka inilah semacam catatan akhir periode dan laporan pertanggungjawaban Diary PPIA sebagai sebuah program baru yang diperkenalkan oleh PPIA Aktivis.

Siapa yang tidak pernah menulis diary? Barangkali, berpuluh tahun setelah dituliskan, ketika membersihkan gudang di loteng, tak sengaja kita menemukan dan memungut diary di lemari berdebu. Bayangkan betapa takjub saat kembali membaca baris demi baris bernuansa magis, senyum pun rekah terkembang. Begitulah harapan kami saat diluncurkan Diary PPIA ini.

Meski namanya diary, namun sesungguhnya ia adalah milik bersama, maka jangan heran jika penulisnya pun beragam dan ceritanya juga bervariasi. Itulah warna kebersamaan indah yang kita corak ronakan sebagai kenangan dan kenang-kenangan, agar tidak terlupakan, bahwa kita pernah berjuang bersama, melalui suka duka dalam berbagai kisah yang kelak dengan bangga namun rendah hati, bisa kita ceritakan kepada anak cucu, untuk dijadikan pelajaran, refleksi, semangat, motivasi dan inspirasi.

Bahwa kita pernah menjadi bagian dari gejolak pemuda dan pemudi pelajar mancanegara yang turut menggelorakan perubahan yang positif bagi bangsa melalui kiprah aktif dalam berorganisasi, sembari giat menimba ilmu di luar negeri, penggalan sejarah itulah yang coba dipotret dan dibingkai dalam Diary PPIA Aktivis ini. Semoga upaya sederhana ini tetap dapat bermanfaat, mengabadikan kisah serta memperkenalkan wajah para calon pemimpin negeri di masa mendatang.

Meski hanya berhasil “merayu” sepuluh penulis untuk berbagi ibrah melalui tuturan kiprah, saya berterima kasih atas kontribusi teman-teman Aktivis atas sumbangsih perspektif yang berharga, tentang harapan, semangat, cita-cita, impian, juga tentang perjuangan, pengorbanan, dedikasi, kesungguhan, dan yang tak kalah pentingnya, persaudaraan dan persahabatan dalam aktif berperhimpunan. Semoga ghirah luar biasa yang mekar merekah ditumbuhkembangkan, sebagaimana tercermin dari pencapaian hasil kerja keras dan kerja cerdas yang bukan main-main dan bukan main, dapat ditularkan kepada pengurus PPIA periode berikutnya.

Teriring ucap selamat kepada Ketua PPIA terpilih, Mutiasari Mubyl Handaling, dan selamat bertugas kepada Kabinet PPIA Cemerlang 2015-2016! Semoga semakin banyak tunas bangsa yang bersemi mendewasa melalui kiprah, kinerja dan karya, menyongsong tantangan dengan senyum dan harapan, untuk Indonesia yang lebih cerah menggemilang! :)

* * *

(BGM: Berita Kepada Kawan – Ebiet G. Ade)

Di atas kertas, dan di layar monitor, boleh jadi sebagian besar kiprah PPIA Aktivis terangkum, sebagaimana dilaporkan oleh Sekretariat PPIA Pusat, sebagai berikut:

PPIA kepengurusan periode 2014-2015 berhasil memenangkan penghargaan sebagai Asosiasi Pelajar Internasional Terbaik di Australia dari Dewan Pelajar Internasional Australia (CISA). Selain itu, OlymPPIA 2015 yang merupakan program unggulan PPIA Aktivis juga masuk ke dalam 5 besar kategori Best International Event of the Year. Program unggulan lainnya yang telah dilaksanakan oleh PPIA diantaranya adalah PPIA Mengajar, PPIA Incorporated, Radio PPIA, Buku Pintar PPIA, serta melakukan advokasi bagi penerima beasiswa DIKTI.

Selama satu tahun kepengurusan, PPIA 2014-2015 telah melaksanakan 93 program kerja riil, mempublikasikan 13 e-book, dan 21 program kerja baru. Capaian dan prestasi ini merupakan kontribusi pamungkas untuk menutup kepengurusan PPIA Aktivis dengan apik.

PPIA yang mengusung Kabinet Aktivis dengan visi Aktif, Kreatif, dan Visioner yang dipimpin oleh Ahmad Almaududy Amri tersebut mampu membuktikan kualitasnya kepada khalayak komunitas internasional di Australia. Hal ini juga ditandai dengan suksesnya laporan pertanggung jawaban PPIA 2014-2015 yang diterima tanpa catatan dan diapresiasi oleh mayoritas peserta kongres. Capaian dan prestasi yang telah diraih selama ini diharapkan dapat diteruskan dan ditingkatkan oleh kepengurusan yang selanjutnya di bawah pimpinan Mutiasari Mubyl Handaling.

(PPI Australia: Best International Student Association In Australia! – Sekretariat PPIA, July 9, 2015)

Meski demikian, patut disadari, bahwa semua itu tidak akan bisa terwujud, tanpa kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas, serta yang tak kalah pentingnya, kerja sama…

Dari seluruh pengurus Kabinet PPIA Aktivis 2014-2015! Semuanya tanpa kecuali telah berkontribusi nyata melalui beragam cara dan upaya, maka tulisan ini hanya sebentuk apresiasi, karena semua layak mendapatkannya. Terima kasih dan jangan berhenti berjuang dan berkarya!

“Dudududu… Dududududu… Dudududu… Dududududu…”

“Perjalanan ini…”

Benar. Ini perjalanan.

“Terasa sangat menyedihkan…”

Dan perjalanan ini belum berakhir…

“Sayang engkau tak duduk, di sampingku, Kawan…”

Yang jelas, tak semestinya perjalanan ini terasa menyedihkan seperti dilantunkan, karena tak seperti dalam lagu, kita pernah duduk bersama!

Maka ketika tiba saat berpisah, jangan sedih! Sebab sejatinya kita tak benar-benar terpisah. Bukankah kita pernah bersama dalam sepenggal kisah yang kelak menyejarah? Dan kita tak hendak berhenti di sini, meski tak lagi menjadi bagian aktif dari organisasi PPI Australia.

Seumpama berkendara, hanya berpisah untuk sementara, dari bus berpindah naik kapal laut, dan yang lain melanjut dengan pesawat. Jalan yang ditempuh tidak mesti sama, tapi arah yang dituju tetap satu. Tetap langkah, jangan berhenti berkiprah!

* * *

“Tubuhku terguncang, dihempas batu jalanan…

Hati tergetar, menampak kering rerumputan…”

Aku tercekat, buyar dari lamunan.

Bus yang kutumpangi sudah hampir tiba di dermaga.

“Perjalanan ini pun, seperti jadi saksi…

Gembala kecil menangis sedih…”

Aku menatap kelok sungai mengering dan tanah merah yang terpecah merekah.

Inikah wajah dan derita bangsaku?

Sesungguhnya apa yang dahulu dicita-citakan dan diidamkan para pendiri bangsa, Indonesia adil makmur, sejahtera merata, masih jauh dari bisa diwujudkan!

Masih butuh kerja, kerja dan kerja, tanpa henti, berkesungguhan!

Maka, janganlah berhenti…

Singsing lengan baju, angkat pacul lagi!

Ini bukan kerja rodi!

Ini kerja demi cinta kita kepada Pertiwi!

“Sesampainya di laut, kukabarkan semuanya…

Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari…

Tetapi semua diam, tetapi semua bisu…

Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit…”

Teringat lagi aku pada penggal puisi…

“Karawang-Bekasi”…

Ya. Benar kau, Chairil!

“Kerja belum selesai.

Belum apa-apa…”

Bus memasuki dermaga…

Kita berpisah sementara di sini…

Terima kasih, Kawan…

Sampai kita bertemu lagi…

* * *

(BGM: Bengawan Solo – Gesang)

“Itu perahu, riwayatnya dulu…”

Peluit kapal laut melengking nyaring, menelan jerit parau pengamen yang memainkan musik keroncong demi mengisi perut berkeroncongan.

Bobot berton besi nan mengapung mulai bergerak. Tangan-tangan mungil semakin mengecil, melambai di kejauhan.

Aku lanjut menulis dalam Diary…

Mungkin kini kita tengah bermuara di telaga, lepas dari kanal sungai, sebelum melanjutkan perjalanan menuju laut. Barangkali inilah saat tepat untuk melakukan refleksi atas perjalanan yang telah ditempuh.

Ibarat sebuah waduk, PPIA adalah wadah bagi titik-titik air bertemu dan beraduk.

Barangkali kita tak melulu mesra. Mungkin ada perbedaan pandangan dan silang pendapat di sana, tapi saat pusaran air melarut, dalam tenang diresapi, insaflah bahwa semua itu bagian dari pembelajaran, persiapan mematangkan dan proses mendewasakan. Selalu ada romantika di dalam perjuangan. Dinamika dalam berorganisasi hendaknya kita sikapi sebagai hal yang biasa untuk dapat dijadikan inspirasi dan motivasi lebih giat memperbaiki diri.

Maka jangan berhenti dan terpaku menatap langit!

Jangan puas dengan pencapaian yang kini mungkin terlihat hebat, sebab kita masih belum apa-apa! Perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai!

Tinggi dalam cita, teguh dalam asa…

Pertahankan budi, tetap rendah hati…

Yang menjadikan insan mulia adalah keluhuran pekerti, kesungguhan, serta keikhlasan hati…

Ingat dari mana kita berasal, kemana menuju, dan kemana kelak kita kembali…

Setinggi dan sejauhnya burung terbang, tetap rindu kembali pulang ke sarang…

Terbanglah tinggi, tapi tetap membumi!

Menjejaklah!

Dan melompat lebih tinggi!

* * *

“Mata airmu dari Solo, terkurung gunung seribu.

Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…”

Kita mungkin hanya titik-titik air…

Tapi selama kita terus bergerak, bergelombang…

Sinergi mengantarkan kita mengalir sampai jauh…

Ini bukan akhir…

Teruslah mengalir…

Sampai jauh…

:)

 

*) Penulis adalah mahasiswa pascasarjana MBA Advanced dan Wakil Ketua PPIA University of Wollongong, NSW, serta Project Officer Diary PPIA, Departemen Media dan Komunikasi PPI Australia Aktivis 2014-2015.

Comment (1)

  1. Syarif

    How amazing story…!!!
    Hopefully my dream study oberseas come true!!!

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>