Jangan Berhenti Sampai Mati

Oleh: Felix Chandra*

Berasal dari keluarga sederhana di kota kecil, saya mempunyai cita-cita yang besar untuk menjadi seseorang yang berguna bagi siapapun. Kesempatan bersekolah di Singapura adalah cikal-bakal saya terbuka kepada mata dunia. Di sana saya merasa sangat terbantu dalam meningkatkan daya percaya diri dan menjalin koneksi dari berbagai macam negara serta menumbuhkan sikap mandiri dalam melaksanakan tugas. Di sana juga saya mulai berkesempatan berorganisasi dengan menjadi salah satu “prefect” yakni istilah yang ditujukan bagi murid yang bertugas menegakkan ketertiban berdasarkan peraturan dari sekolah. Singkat cerita, saya merasa terbantu dengan pengalaman ini dimana saya harus menjadi panutan bagi murid-murid lainnya.

Setelah menyelesaikan “secondary school” dan menyelesaikan ujian GCE-O level dengan hasil memuaskan, saya mulai memikirkan langkah untuk jenjang studi selanjutnya. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia selama satu tahun untuk masa “foundation” sebelum melanjutkan ke RMIT University. Australia, itulah negara kangguru yang merupakan salah satu negara yang ingin saya kunjungi sejak lama. Saya mendapat tawaran untuk menuntut ilmu di negara ini dalam bidang nutrisi pangan dan teknologi.

Diamanatkan menjadi salah satu ketua publikasi dalam proyek tahunan PPIA RMIT yang ke-3 bertemakan “Project O IGNITE” merupakan kesempatan emas mengasah ketertarikan saya untuk menjadi ketua dan di bidang yang cukup menarik perhatian dalam sebuah acara besar. Mandat ini pun saya laksanakan dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan bagi saya. Selepas masa jabatan ini, saya diberi kesempatan untuk melayani hubungan masyarakat PPIA RMIT pada tahun 2014. Jabatan tersebut saya jalankan selama satu tahun dibarengi dengan pendaftaran untuk menjadi penanggung jawab media sosial PPI Australia.

Kesempatan selalu datang pada saat yang kurang tepat, namun apalah arti tepat itu jika kita sudah siap. Saya percaya bahwa kesempatan hanya datang sekali, maka ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan PPIA Pusat, saya sangat senang. Di lain sisi, saya juga harus siap dengan segala konsekuensi serta tanggung jawab yang diamanatkan kepada saya. Dengan mengusung semangat PPIA Aktivis yang dikepalai oleh Mas Ahmad Almaududy Amri dan mendapat kesempatan dimentori Mbak Tri Mulyani Sunarharum dan Puteri Anetta Komaruddin adalah kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan. Kekompakan dan juga kekurangan yang saya rasakan dalam menjalakan tugas ini cukup riskan dikarenakan banyak hal-hal baru yang harus saya pelajari dan mengerti, baik dalam hal menjawab atau meneruskan informasi kepada khalayak ramai.

Terpilihnya Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia membawa banyak kontroversi yang turut berpengaruh terhadap PPIA sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan di luar negeri. Pemilihan Umum Presiden dan Wapres RI telah menghasilkan beragam argumen dimana kami harus berupaya tetap netral dalam segala diskusi yang ada. Banyak pertanyaan yang bisa membuat saya menjadi kesal dalam menjawab, termasuk pertanyaan konyol yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan.

Ada pula masalah politik “BALI NINE” yang pada awal tahun 2015 ini sangat mengecam Indonesia dan berdampak kurang baik kepada PPIA, dikarenakan banyak masyarakat Indonesia yang merasa kurang aman berada di Australia. Kami sangat beruntung bisa mempunyai koneksi yang baik dengan KJRI dan sudah memberikan beberapa warta bagi WNI khususnya pelajar di Australia untuk selalu tenang. Walaupun saya percaya bahwa kejadian ini tidak banyak mempengaruhi hubungan bermasyarakat namun pada kenyataannya banyak warga yang memang kurang mengetahui inti permasalahan yang terjadi, dan salah satu panggilan tugas kami untuk memberi klarifikasi dan menumbuhkan rasa ketenangan tersebut.

Di samping kedua masalah yang cukup rumit ini, saya senang bisa membantu menjawab pertanyaan yang sering diajukan kepada social media PPIA seperti bagaimana cara berkuliah di Australia, memperoleh akomodasi dan beasiswa serta banyak lagi. Banyak yang sudah saya pelajari dari kepengurusan untuk lebih profesional dalam memberikan informasi yang akurat, dan saya masih akan belajar lebih banyak lagi.

Meski demikian, di balik segala peristiwa yang terjadi, saya merasa bahwa ini adalah kesempatan emas bagi saya mencoba hal baru dan mempelajari hal yang dapat dibilang rumit namun bisa menjadi landasan untuk menjadikan saya pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

Terima kasih kepada Puteri dan Mas Dudi dan Mbak Yani dan rekan-rekan MEDKOM yang sudah sangat baik dalam memberikan saran, jawaban dan juga sudah menjadi keluarga yang bisa berbagi cerita dalam masalah kelam.

Di ujung kepengurusan ini, saya merasa sangat bangga dan cukup karena harus mengakhiri masa jabatan yang sudah dijalani kurang lebih satu tahun. Suka senang kami berbagi bersama dan yang terpenting saya berharap agar silaturahmi antarpengurus tidak berhenti sampai di sini.

“Yakin! Percaya pada diri sendiri!”

Salam Aktivis!

*) Penulis adalah mahasiswa RMIT University jurusan Bachelor of Science (Food Technology and Nutrition), dan bertugas sebagai Social Media Officer, Departemen Media dan Komunikasi, PPIA Aktivis 2014-2015

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>