Memayu Hayuning Bawana

Oleh : Tri Mulyani Sunarharum*)

Memasuki akhir bulan Oktober 2014, tepat di hari pertama di tahun baru Hijriyah, kota Brisbane sudah mulai terasa panas meskipun sebenarnya masih belum memasuki musim panas. Sang mentari pun terlihat sangat ceria berbagi cahaya dan energinya pada dunia. Namun, tetap saja kesejukan masih hadir di tengah-tengah kebersamaanku menikmati akhir pekan bersama keluarga tercinta, di sebuah apartemen sederhana yang sudah kami tinggali selama hampir dua setengah tahun.

Pergantian tahun baru Hijriyah ini membuatku merenungkan dan merefleksikan kembali apa yang telah kujalani dalam hidupku, bagaimana aku menjalaninya, dan apa saja yang harus kuperbaiki untuk dapat semakin bertumbuh menjadi insan yang lebih baik. Hmm.. Aku pun tersadar bahwa waktu tak terasa cepat berlalu. Masih banyak tugas-tugas hidup yang belum kuselesaikan. Tugas-tugas yang kumaknai sebagai bagian dari perjuanganku dalam turut memayu hayuning bawana.

Mungkin di antara kita ada yang sudah sering mendengar, namun ada pula yang sama sekali belum pernah mendengar istilah “memayu hayuning bawana”. Apakah arti dan maksudnya? Bila diartikan ke dalam ranah Bahasa Indonesia, memayu hayuning bawana adalah memelihara kelestarian dunia/ alam atau mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia. Ya.. Istilah yang berasal dari Bahasa Jawa ini memiliki makna yang luas dan cukup dalam. Aku pun percaya bahwa manusia diciptakan pasti ada maksudnya, yaitu untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Dan betapa bijaksana Tuhan memberikan peranan yang berbeda-beda pada manusia dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat bersinergi dalam upaya memayu hayuning bawana tersebut. Ada yang menjadi khalifatullah seperti pemerintah, lurah, atau bahkan ketua RT; ada yang menjadi pedagang; menjadi petani; menjadi guru; menjadi peneliti; menjadi pengusaha, dan sebagainya. Dan dari keberagaman peranan itu, kita sekalian adalah pemimpin-pemimpin kecil, khususnya bagi diri kita sendiri.

Soal peranan dalam hidup, aku jadi teringat akan orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi inspirasi dalam hidupku. Aku terlahir sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara yang dibesarkan dengan kesederhanaan di sebuah kampung di Malang, Jawa Timur. Kedua orang tuaku adalah pensiunan abdi negara. Meskipun sudah pensiun, ibuku masih mendedikasikan dirinya untuk mengajar di samping sibuk menjalankan bisnis kecilnya sebagai seorang pedagang di pasar tradisional dan bisnis rental komputer yang sudah dirintis sejak aku masih duduk di bangku SD. Maklum saja, darah pendidik sekaligus pedagang sudah melekat pada ibuku, mungkin karena menurun dari eyang kakung dan eyang puteri, sebuah kombinasi yang unik. Ibuku sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil, terlahir sebagai anak ketiga dari tiga belas bersaudara membuatnya menjadi lekas dewasa dan memiliki semangat juang yang besar untuk dapat membantu orang tuanya, sehingga dapat menyekolahkan semua adiknya hingga lulus sarjana. Semangat kerja keras dan semangat berbudi dharma ini sudah dicontohkan ibuku kepada putri-putrinya.

Tak jauh berbeda dengan ibu, ayahku juga terbiasa bekerja keras dan patuh pada orang tuanya sejak ia kecil. Eyang kakung adalah seorang guru di sebuah desa di Ponorogo, Jawa Timur. Dengan keteladanan, beliaulah yang selalu mengajarkan putra-putrinya mengenai betapa pentingnya memiliki budi pekerti yang luhur. Adapun eyang puteri lebih mengajarkan keberanian dalam bersikap selama berada di jalan kebenaran. Lagi-lagi ini merupakan kombinasi yang unik. Hal-hal itulah yang juga diajarkan ayahku pada putri-putrinya sejak kami masih kecil. Ayahku pun mengajarkan dengan cara memberikan keteladanan. Hingga saat ini, beliau tak pernah bosan memberi nasihat, cerita pengalaman, dan motivasi kepadaku dan juga kakak-kakakku, terutama tentang pentingnya menjaga nyala obor di dalam hati agar senantiasa diliputi dengan rasa tenteram dan bahagia. Selain memberikan motivasi dalam hal pendewasaan jiwa, yang saat ini sedang nge-trend disebut dengan istilah Revolusi Mental, ayah juga selalu memberi motivasi dalam hal menuntut ilmu. Ayahku seorang pensiunan peneliti di bidang pertanian. Di bidang inilah ia berkesempatan untuk dapat melihat dan mengunjungi beberapa negara di belahan dunia lainnya. Dari sinilah motivasiku bermula untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Bukan karena tidak mau melanjutkan studi di Indonesia, tetapi ingin memperluas cakrawala pola pikir dan memperkaya pengalaman.

Sejak kecil, aku bercita-cita bisa studi di luar negeri, khususnya di Jepang. Pada tahun 2011, aku mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk melanjutkan studi S2 di Kyoto University, Jepang. Saat itu aku sudah mendapatkan visa, namun karena ada kendala akhirnya universitas tujuan harus dialihkan ke negara lainnya. Karena aku masuk kategori pertama di daftar penerima Beasiswa Unggulan, beasiswaku dapat ditunda sampai awal tahun 2012. Perjalananku tidak berhenti di sini. Sebelumnya, aku sudah terbiasa melalui kegagalan demi kegagalan, yang kemudian menyadarkanku dan membuatku memaknai bahwa Tuhan benar-benar tahu apa yang terbaik untukku. Karena tidak ada sehelai daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan-Nya.

Perjuangan pun berlanjut hingga akhirnya aku mendapat LoA dari University of Queensland (UQ) dan Queensland University of Technology (QUT). Karena kemampuan Bahasa Inggris yang masih pas-pasan, aku harus mengambil kursus terlebih dahulu. QUT mau memberikan beasiswa untuk kursus Bahasa Inggris, jadi kuambil saja kesempatan itu. Kebetulan kakak pertamaku, salah satu inspirasiku, mendapat The Prime Minister’s Australia Asia Endeavour Award untuk menempuh studi S3 yang dimulai di bulan dan tahun yang sama, Juli 2012, di University of Queensland, Brisbane. Sepertinya ini sebuah kebetulan, meski sesungguhnya tidak ada suatu kejadian yang kebetulan terjadi. Jadi, mungkin memang suratan ini benar-benar yang terbaik, tidak hanya untukku sendiri, melainkan juga untuk kakak, kakak ipar dan putra-putri kembarnya.

Dari sinilah sebuah babak perjuangan baru dimulai. Ya.. Berjuang untuk menggapai salah satu cita-citaku menempuh pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri, yang juga adalah suatu perjuangan untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih bisa berkontribusi untuk Bangsa Indonesia. Banyak orang yang bisa studi di luar negeri dengan mudah, namun bagiku hal ini sungguh penuh ujian, perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. When there is a will, there is a way. Atas kasih sayang dan ijin dari-Nya-lah akhirnya aku menempuh studi Master of Applied Science by Research di bidang Urban and Regional Planning, hingga akhirnya berlanjut ke jenjang Ph.D. Alhamdulillah.. J

Hingga saat ini pun aku masih berjuang untuk dapat menyeimbangkan performa akademis dan non akademis. Kebiasaan dan kegemaran ini sepertinya sudah melekat sejak aku duduk di bangku SD hingga kuliah. Seperti sebelum-sebelumnya, sejak pertama kali masuk kuliah di QUT, aku pun gemar mengikuti kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan ekstrakurikuler baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Di antaranya dengan turut aktif di PPIA Ranting QUT, Science and Engineering Higher Degree Research Student Society, Intercultural Sharing Talent and Art Group Enthusiasts, Australia Indonesia Youth Association, Indonesian Islamic Society of Brisbane, Buaya Keroncong Brisbane, Planning Institute of Australia dan Australasian Early Career Urban Research Network. Aku merasa bahwa ini merupakan kesempatan berharga untuk dapat menimba pengalaman serta mengembangkan kemampuan dan value diri. Sampai tiba dimana pada akhirnya, untuk pertama kalinya, aku tergerak untuk mendaftar menjadi pengurus PPIA periode 2014-2015.

Sungguh tak pernah kusangka, aku diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua II Bidang Eksternal yang menyupervisi tiga departemen, yaitu Departemen Media dan Komunikasi (Medkom); Departemen Pelayanan Sosial dan Masyarakat (Pensosmas); serta Departemen Kewirausahaan. Pertama kali mendengar kabar ini dari Mas Taufan yang notabene adalah Wakil Ketua Umum PPIA 2014-2015, terbersit tanya dalam batin ini, “bisakah aku menjalankan tugas ini, di saat aku juga memasuki tahun ketiga studi S3-ku?”. Sebelumnya, aku tidak pernah mengenal Mas Taufan ataupun Mas Dudy, Ketua Umum kami. Seketika muncul rasa teguh dalam hati bahwa ini semua terjadi karena campur tangan Tuhan. Tuhan-lah yang menggerakkan hati dan pikiran Ketum dan Waketum untuk memilih dan menempatkan kami di posisi kami sekarang ini. Sekali lagi, kumaknai ini semua sebagai amanah dari-Nya. Semoga aku selalu dapat menerima petunjuk dan bimbingan-Nya dalam menjalani tugas ini tanpa harus mengesampingkan tugas-tugasku yang lainnya.. Amin.

Aku sangat bersyukur diberikan kesempatan ini. Bersyukur dapat mengenal teman-teman yang hebat, yang juga memiliki semangat yang tinggi untuk maju dan berkembang, yang berpotensi untuk menjadi tonggak harapan bangsa. Mereka semua turut andil dalam menginspirasiku meskipun kami semua belum pernah bertemu secara langsung pada saat yang bersamaan. Awalnya, komunikasi di antara kami, 23 orang presidium atau yang pada umumnya disebut Badan Pengurus Harian (BPH), dibangun melalui chat group di WhatsApp. Di sinilah kami memulai koordinasi awal hingga akhirnya pada tanggal 22 Agustus 2014 kami berhasil merampungkan komposisi dan formasi pengurus PPIA Aktivis 2014-2015 yang seluruhnya berjumlah 97 orang. Ya.. Sembilan puluh tujuh orang putra dan putri terbaik Indonesia yang sedang menempuh studi di berbagai negara bagian di Australia.

Sejak terbentuk kepengurusan komplit hingga akhir bulan Agustus 2014, kami melaksanakan upgrading, yaitu penyampaian program kerja dari kepengurusan sebelumnya, penyampaian penyusunan berkas rapat kerja dan timeline oleh Ketum dan Waketum melalui Skype meeting. Aku pun mengikuti rapat tersebut bersama Dept. Medkom, Dept. Kewirausahaan, Dept. Pensosmas, dan juga Kekabidan. Setelah itu kami melakukan penyusunan berkas kerja, melakukan rapat kerja, hingga mulai mengeksekusi program kerja, terhitung sejak minggu kedua bulan September.

Sesungguhnya sejak akhir Agustus 2014, selain melaksanakan tugas sebagai Ketua Bidang Eksternal, aku juga mendapat tugas-tugas yang tak terduga. Pertama, aku diberi amanah oleh Mas Dudy untuk mewakili PPIA Pusat, terlibat dalam rapat tim persiapan G20 Summit bersama pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), pihak Istana Negara, dan pihak Kementerian Luar Negeri. Tugas ini masih berlanjut hingga pelaksanaan G20 Summit di Brisbane berakhir. Kedua, diberi amanah untuk menjadi anggota Tim Nasional Advokasi Beasiswa DIKTI dalam upaya solidaritas membantu penyelesaian permasalahan beasiswa yang dialami rekan-rekan karyasiswa DIKTI. Ketiga, diberi amanah mewakili PPIA Pusat untuk menyampaikan maksud kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pada kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, ke Brisbane. Kerja sama ini melibatkan dua departemen, yaitu Dept. Pensosmas dan Dept. Pengembangan Anggota yang berada di bawah naungan Cak Room, Ketua I Bidang Internal.

Sejak bergabung dengan PPIA Aktivis 2014-2015, banyak hal baru yang secara otomatis menstimulasi semangat, pola pikir, hingga penyikapanku terhadap masalah menjadi lebih dewasa. Pada tiga bulan pertama kepengurusan ini berjalan, kami semua mulai merasakan pahit manisnya dinamika berorganisasi. Dinamika tersebut benar-benar terasa untuk pertama kalinya saat ada keluhan dari salah satu anggota PPIA bahwa postingannya di group Facebook tiba-tiba hilang. Kami semua sempat berada di posisi terdesak untuk memberikan sikap terhadap isu yang sedang berkembang di tanah air, yaitu tentang UU Pilkada Tidak Langsung. Saat itu, teman-teman presidium sempat berada dalam suasana yang lumayan tegang. Selain itu, teman-teman dari Dept. Medkom juga merasakan dampaknya. Meski demikian, kami semua senantiasa berusaha tenang dan tetap solid, sehingga tidak salah langkah dalam menyikapi ujian-ujian ini. Kejadian yang kami alami ini membuat sense of belonging-ku terhadap PPIA semakin terasa kuat. Apa yang terjadi kemudian juga menjadi bahan pembelajaran bagi kami semua untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Every day may not be good but there is always something good in every day. J

Dalam menjalankan tugas sebagai duta-duta kecil-Nya, kami sadar bahwa kami harus mengenakan busana kesabaran, yang akan dapat memberi kekuatan sehingga kami mampu berkorban perasaan. Pada pelaksanaan dan realitanya, dalam memayu hayuning bawana, kita mungkin akan melalui jalan yang tidak mudah karena memang ada saja rintangan dan godaan, baik dari dunia luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Kita bisa saja mengalami ditertawakan, tidak dipercayai, diremehkan, difitnah, dihasut, bahkan dapat dicelakai oleh orang lain. Tugas-tugas yang merupakan amanah dari-Nya untuk melakonkan peranan di panggung sandiwara dunia ini sesungguhnya secara tidak kita sadari adalah warana atau sarana untuk kita berlatih mendewasakan jiwa dan pikiran, sedangkan proses pendewasaan tersebut akan berlangsung terus seumur hidup. Semoga kita dapat senantiasa melaksanakan tugas-tugas kita dengan baik, demi mamayu hayuning bawana, seperti harapan Soekarno berikut:

“Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh, kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita ummat manusia.”

– Pidato Bung Karno, Membangun Dunia Kembali (To Build the World a New), 30 September 1960 –

Salam Aktivis!

 

*) Penulis adalah Ketua II Bidang Eksternal, PPIA Aktivis 2014-2015 dan kandidat Ph.D di bidang Urban and Regional Planning, Science and Engineering Faculty, Queensland University of Technology, Brisbane.

Comments (2)

  1. Wenny Sunarharum

    Salut! Tetap gelorakan semangat untuk Indonesia tercinta

    Reply
  2. Yani Sunarharum

    Yuk mari.. Terima kasih kakakku.. :)

    Reply

Leave a Reply to Wenny Sunarharum Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>