Sampai Saat Kita Bersulang, Tetap Kosongkan Cawanmu, Kawan!

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*)

Rabu, 27 Agustus 2014.

Aku bergegas setengah berlari melewati tanjakan di sepanjang Murphy’s Avenue sebelum menikung ke Braeside Avenue. Jam delapan kurang sepuluh malam AEST, akhirnya aku tiba di rumah. Mampir dapur, menyambar sepiring nasi dan ikan goreng tepung masakan istriku, kembali ke kamar bersama secangkir teh panas, tak lupa kucium kening istri setelah diciumnya tanganku. Kunyalakan laptop dan mulai login Skype, aplikasi video-call yang baru saja semalam ku-install agar dapat turut rapat kerja online dengan Departemen Media dan Komunikasi PPIA.

Koneksi tersambung! Tak sampai sepeminuman teh kemudian, undangan konferensi masuk. Rapat kerja dimulai. Ini adalah rapat kerja kali kedua bagi Depmedkom, tapi pertama kali bagiku, karena pada rapat Upgrading sebelumnya aku berhalangan, masih di kereta dalam perjalanan pulang dari kelas akhir pekan di kampus UOW-Sydney Business School. Agenda rapat kali itu adalah pembagian peran serta program kerja. Depmedkom memiliki empat bidang. Content dan Creative digawangi oleh Putu Dea Kartika Putra, dibantu Edwin Tang, Arrizki dan Syifa Puspasari. Public Relations menjadi tugas Felix Chandra bersama Gregorius Abanit dan Nadeen Samira. Ridho Nur Imansyah dan Erlangga Satria Gama berperan krusial di bidang Information Technology dan bertanggung jawab mengelola situs resmi PPIA. Adapun ‘Mas’ Andri Sinaga, ‘Mas’ Aga Maulana dan aku ditunjuk sebagai Media Relations Officers. Selain itu, ditetapkan sembilan program kerja utama yang meliputi Radio PPIA, Newsletter PPIA, Manajemen Sosial Media, Manajemen Website, Video Ucapan Hari Besar, Majalah Aktivis, Press Release, Design Poster dan Flyer, serta Diary PPIA Aktivis. Rapat berjalan dinamis dan hangat. Aku terkesan dengan potensi dan kinerja teman-teman baruku. Semangat dan optimisme mereka kuresapi. Bak disuntik darah segar, aku senang bisa lebur bersinergi, serasa jadi muda lagi.

Seperti pernah kukatakan, meski aku melanjutkan studi di Australia, aku masih tetap memegang teguh budaya Jawa, antara lain kebiasaan memanggil Mas dan Mbak untuk orang lain meskipun sebenarnya mereka rata-rata lebih muda satu dekade dariku. Oh ya, masih ada yang belum kuperkenalkan. Mereka adalah ‘Mbak’ Puteri Anetta Komaruddin sebagai Ketua Depmedkom dan ‘Mbak’ Bungong Ayu Qonitah, biasa dipanggil Bunga, sebagai wakilnya. Selain itu, ada pula ‘Mbak’ Tri Mulyani Sunarharum alias ‘Mbak’ Yani selaku Kepala Bidang Eksternal Kabinet PPIA Aktivis 2014-2015. Yang membuatku terkesima adalah pengalaman mereka dalam berorganisasi. ‘Mbak’ Puteri, misalnya, siapa sangka, ia adalah Ketua PPIA Melbourne University periode 2013-2014. ‘Mbak’ Yani apalagi. Kandidat Ph.D dari Queensland University of Technology ini barangkali pengalamannya sudah bisa dibiografikan sendiri. Begitu pula teman-teman yang lain, semua pasti punya kisah yang bernilai untuk dibagi. Hebatnya mereka semua tetap santun dan rendah hati. Aku bersyukur tim kami solid dan kompak, padahal kami belum pernah bertemu secara langsung. Sejauh ini kami berkomunikasi di dunia maya dan bekerja sama secara efektif melalui Skype, Facebook atau kanal media lainnya. Semoga kebersamaan ini langgeng adanya.

Saat ditunjuk menjadi Project Officer Diary PPIA aku merasa senang, sebab yang menarik minatku untuk mendaftar jadi pengurus saat Open Recruitment adalah tagline “One Man, One Project”. Proyek ini jelas menantang bagiku. Satu bulan sebelum berangkat ke Australia, novel perdanaku, “Geger Satrio Piningit” diterbitkan Penerbit Matahari, awal April 2014. Aku bersyukur, lagi-lagi beruntung. Segala sesuatu ada masanya, dan benar jadi indah pada waktunya. Padahal novel itu kutulis sejak empat tahun sebelumnya, ditolak tiga penerbit, sempat pula diterbitkan independen serta dipasarkan bergerilya. Ketika akhirnya dipinang penerbit besar, novel fiksi sejarahku kabarnya jadi best seller, barangkali karena momentum dan temanya relevan dengan suksesi pemerintahan yang tengah terjadi saat kumeninggalkan Indonesia. Sayang, aku tak sempat menikmati serunya jadi Author, yang biasanya ditandai dengan Book Launching, tapi tak mengapa, sebab tantangan baru di negeri Kangguru telah menungguku. Pencapaian salah satu impian dalam hidupku itu kusertakan pula dalam CV. Barangkali itulah yang membuat ‘Mas’ Dudy selaku Ketua Umum PPIA Pusat sekaligus mantan Ketua PPIA UOW mempercayakan padaku untuk mengawal Diary PPIA Aktivis, yang dalam visinya disuguhkan mengalir dalam format novel.

* * *

Sabtu, 6 September 2014.

Pukul lima sore waktu NSW, aku kembali standby di depan laptop lalu login Skype. Lepas maghrib, rapat ketiga Depmedkom dimulai. Lebih kurang dua jam lamanya kami mendengarkan pemaparan bergantian para Project Officer tentang rencana kerja masing-masing, setelahnya ditanggapi langsung oleh Ketua Umum, Wakil Ketua Umum ‘Mas’ Taufan Muhammad, dan Kepala Bidang Eksternal PPIA Pusat. Tibalah giliranku! Dengan percaya diri kupaparkan konsep bunga rampai kisah susah senang menjadi pengurus PPIA. Lebih meyakinkan, kujabarkan rencana kerja setahun. Saat tanggapan diberikan baru aku sadari, ternyata pemahamanku tentang konsep dasar amat jauh salah kaprah! Hwarakadah!

Diary PPIA dimaksudkan sebagai sarana transfer of knowledge and experience dari pengurus periode ini ke pengurus generasi selanjutnya. Kontennya diharapkan memberi gambaran dinamika para Aktivis PPIA dalam berorganisasi, beragam kendala yang dihadapi selama berkiprah dan bagaimana upaya mengatasi masalah, dengan demikian lebih bermanfaat dibanding hanya merangkum kesan dan pesan selama aktif sebagai pengurus. Owalah!

Usai rapat malam itu larut kurenungi. Boleh jadi yang membuat aku sulit hingga salah memahami adalah persepsi benakku sendiri yang terlalu cepat menarik kesimpulan serta merasa benar. Karena isi kepalaku sudah penuh dengan asumsi dan pemikiran sendiri, tak tersisa tempat bagi pendapat dan masukan dari orang lain. Jika saja aku ikhlas mengosongkan terlebih dahulu pikiranku, mengesampingkan ego, terbuka dan menyambut gembira apa yang datang sebagai ilmu baru yang berkah serta dapat bermanfaat, tentu akan lebih mudah bagiku untuk mencerna, membuat perbaikan dan memetik hikmah.

Seolah aku tak lagi ingat petuah leluhur, padahal aku menggemari sejarah. Ada sebuah pepatah Jawa yang mengena tentang “Tiga Jangan”: Ojo Dumeh, Ojo Lali, lan Ojo Kagetan. Ojo Dumeh artinya adalah jangan mentang-mentang. Mentang-mentang sudah merasa pintar, lalu cepat merasa benar. Tiba-tiba aku merasa tertohok. Ini dia, pangkal masalahku! Ojo Lali diartikan jangan lupa. Selalu ada lapisan langit lebih tinggi, jadi jangan sombong, ingat tetap rendah hati. Ojo Kagetan maksudnya jangan mudah kaget atau terkesima, tetap tenang, perhatikan, lalu ambil pelajaran. Kita bisa belajar dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Dengan memegang prinsip tiga Ojo tersebut, diharapkan kita tidak jadi tergelincir dalam menyikapi segala situasi.

Jika Bung Karno kerap mengingatkan tentang ”Jasmerah”, yakni jangan sekali-sekali melupakan sejarah, ajaran tentang tiga Ojo ini seingatku kerap diaplikasikan oleh Pak Harto. Terlepas dari segala kontroversi yang pernah dilakukan oleh para pelaku sejarah, pada akhirnya bukan masalah benar atau salah, sebab siapa dari kita yang tidak pernah salah? Apa yang dapat kita petik sebagai hikmah untuk pembelajaran dan perbaikan, bagiku lebih penting dikedepankan. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Belajar dari kesalahan, tidak untuk dilupakan, tapi bukankah agama mengajarkan, memaafkan lebih mulia daripada menghujat tak berkesudahan? Pada akhirnya, bahkan luka sejarah pun lambat laun ada masanya akan tersembuhkan oleh waktu. Barangkali setelah berlalu era Reformasi, babak baru negeri ini mengajak kita merangkul segenap anak bangsa untuk berekonsiliasi dan damai dalam harmoni.

Teringat akan senyum ramah ’Mbah’ Harto, tanpa sadar sudut bibirku menyungging.

Maaf ya, Mbah… Dulu saya turut menggulingkan Si Mbah dalam marak bergelombang aksi demonstrasi mahasiswa pada detik-detik menegangkan Mei 1998. Ah, betapa sang waktu cepat berlalu. Aku yang masih delapan belas tahun saat itu, bersama teman-teman dari Program Diploma I Perpajakan angkatan 1997/1998, STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)-Prodip Departemen Keuangan bergabung dengan ribuan titik air bersinergi, menjadi gelombang air bah yang menghempas, bergulung-gulung menerjang, hingga akhirnya sanggup menjebol dinding tebal Rezim Orde Baru yang telah kokoh bertahan selama empat windu alias tiga puluh dua tahun!

Masih merinding acapkali teringat betapa gema takbir membahana mengoyak angkasa nan merah, saat lautan mahasiswa menenggelamkan Gedung MPR/DPR pada puncak hari bersejarah, 21 Mei 1998, meski justru pada saat menentukan itu aku batal ikut carteran Kopaja 613 dari Jurangmangu ke Senayan dan akhirnya hanya dapat menyaksikan momentum tersebut lewat siaran langsung di televisi, saat Presiden Soeharto membacakan pernyataan mengundurkan diri untuk selanjutnya digantikan Wakil Presiden B.J. Habibie, mengawal deras laju babak baru arus Reformasi.

Dua windu pun tergulung dalam sekedipan mata.

Enam belas tahun lalu, mungkin aku serupa dengan anak-anak muda yang sekarang berkiprah di PPIA, darah-darah segar nan belia dengan luapan gejolak dan hentak berontak yang meletup-letup. Semakin bertambah usia, semakin malu aku sebenarnya, karena semakin pula menyadari betapa aku sebenarnya tak tahu apa-apa dan belum benar-benar berbuat sesuatu untuk bangsa. Apa wujud karya nyata yang telah kuberi untuk Indonesia? Novel semi-fiksi sejarah? Itu bukan apa-apa! Menumbangkan Orde Baru? Reformasi telah bergulir hampir dua dekade, namun Indonesia masih jauh dari apa yang kami, bahkan para founding fathers dahulu, cita-citakan dan harapkan. Benar kumencintaimu, tapi tak begini!

Malu kami kepada Soekarno. Pun malu kepadamu, Mbah!

Dalam bayanganku, Bung Karno tersungguk dalam isak, sementara Pak Harto tenang manggut-manggut, masih dengan senyuman yang khas, seolah berkata, tidak apa-apa. ”Tidak jadi presiden, tidak patheken”. Generasi muda memang selalu begitu. Resah dan gelisah adalah simptom awal yang menandakan zaman akan kembali dan selalu berubah. Bukan hanya mahasiswa pada zaman pra-kemerdekaan saja yang tumbuh kesadaran bersatu melalui kongres nasional sehingga melahirkan peristiwa bersejarah, Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Generasi ’45, generasi ’66, hingga generasi ’98, dimana aku termasuk di dalamnya, sesungguhnya tak ubahnya lakon wayang, mewakili perubahan yang niscaya hadir di setiap zaman, tidak terhindarkan, serta senantiasa melahirkan bibit baru pemuda-pemudi yang bergelora dan menggebu kecintaannya kepada negara dan bangsa.

Indonesia di masa mendatang jelas membutuhkan suntikan darah-darah muda nan segar lagi mencinta. Mungkin kami yang mulai menua ini pernah salah, mungkin juga benar yang kami lakukan, sejarah yang mencatat dan kelak akan membuktikan. Akankah generasi muda zaman sekarang cukup peduli untuk meneruskan estafet perjuangan, bersedia bercermin pada sejarah dan dapat arif mengambil pelajaran?

Kiprah mereka yang kucermati dan nantikan sebagai jawaban.

* * *

Aku berhenti mengetik.

Sisa air teh dalam cangkir yang tinggal separuh lalu kutenggak. Perutku terasa hangat. Kutatap cangkir yang kosong. Angan kembali melayang. Teringat sebuah kisah klasik dari Cina menceritakan seorang guru yang arif dan bijaksana menuangkan air teh dari teko ke cangkir murid yang bertamu sambil memberi wejangan. Sang murid terkejut, spontan menunjuk air yang tumpah meluber keluar cangkir hingga membasahi meja dan jatuh ke lantai, namun sang guru masih santai dan terus berbicara. Sang murid semakin panik, berseru pada sang guru agar berhenti menuang.

Sang guru pun tersenyum, lalu berujar, “Nak, begitulah perumpamaan dirimu. Cangkir ini adalah dirimu saat ini. Jika cangkir pikiranmu telah kental berisikan ampas kopi, bagaimana berharap hendak minum teh? Tak hanya keduanya jadi bercampur sehingga rasanya aneh, tapi juga cangkirmu tak akan cukup menampung volume berlebih, kecuali jika isi cangkir dikosongkan dulu, kopimu dihabiskan, barulah teh panas yang harum lagi menyegarkan ini siap dituang lalu engkau nikmati dengan tenang.”

Seketika aku seperti mendapat pencerahan. Kembali ke alam nyata, aku memetik pelajaran berharga baru lagi hari ini: Cawan kosong lebih baik daripada tong kosong nyaring bunyinya! Dengan pemahaman lebih jernih, aku kini mantap menuangkan gagasanku. Kurombak total konsep Diary dan rencana kerja. Aku sudah memahami apa yang diharapkan dariku dan aku belajar dari kesalahan. Lebih baik pernah salah, daripada tak pernah menyadari telah berbuat kesalahan. Sama halnya, lebih baik malu daripada tidak punya malu. Setidaknya malu menyegerakan kita tersadar, daripada jadi lebih memalukan. Semut merah bersalaman dan menyalami diriku, lalu melanjutkan berbaris di dinding.

Setelah merasa yakin dengan konsep perbaikan, aku menyampaikannya ke internal Depmedkom dengan menunjukkan contoh jadi bab pertama sambil berdebar menanti tanggapan dari mereka. Alhamdulillah, teman-teman apresiatif dan antusias menyambut gembira. Semoga sampel itu bisa menjadi penggugah minat, hasrat dan semangat berkontribusi dalam Diary, juga melecut mereka untuk mengupayakan yang terbaik dalam proyek yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Depmedkom kurencanakan menjadi role model saat proyek Diary PPIA yang kuberi taglineKarena Kami Aktivis: Dan Setiap Aktivis Punya Cerita” diluncurkan pada tanggal 28 Oktober 2014. Benar! Bertepatan dengan 86 tahun peringatan Hari Sumpah Pemuda! 86, Gan! Bukan kebetulan dan menginspirasi, bukan? Sebagai sebuah Kick-Off, kesan pertama tentunya menentukan. Semoga semangat generasi muda lintas zaman dapat ditularkan kepada para pemuda Indonesia di zaman sekarang. Setidaknya, jika peluncuran Diary PPIA ini berhasil “menendang” dengan impresif, hal itu akan berarti bagi Depmedkom, sebagai dorongan moril yang berharga, penggenjot semangat bekerja, serta lebih giat dalam berkarya!

Aku mencermati betapa teman-teman sudah mulai bergerak dengan proyek dan rencana kerja masing-masing. Radio sudah, Majalah sudah, Newsletter sudah, menyusul perbaikan tampilan situs resmi PPIA dan tentu saja peluncuran Diary. Aku percaya kesungguhan dan kapabilitas mereka dan para Aktivis PPIA pada umumnya akan menghasilkan lebih banyak karya yang luar biasa dan menggembirakan tentunya. Perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Serasa dipekiki oleh parau pujangga Chairil Anwar dalam puisi “Karawang-Bekasi”:

”Kerja belum selesai! Belum apa-apa!”

Saatnya memberi arti! Selamat bertugas, teman-teman Aktivis PPIA 2014-2015!

Sampai saat kelak kita bersulang, tetap kosongkan cawanmu, Kawan!

Jangan berhenti belajar!

 

*) Penulis adalah Media Relation Officer, Departemen Media dan Komunikasi, PPIA Aktivis 2014-2015 dan Wakil Ketua PPIA Ranting University of Wollongong, New South Wales, Periode 2014-2015.

Comments (7)

  1. Ridho Nur Imansyah

    “Sampai saat kelak kita bersulang, tetap kosongkan cawanmu, Kawan!”

    Love this quote. Terima kasih remindernya mas Dhimas! Sukses terus! :)

    Reply
    1. Becky

      TYVM you’ve solved all my proelbms

      Reply
    2. http://web2see.space/dn.se

      Glad Maggie’s feeling ok! At least she got it out of the way in plenty of time before your vacation!The potential new house sounds awesome. And you guys have fixed up your current house so nicely, that I’m sure it will be easy to sell. Fingers crossed that all goes well!I can’t believe the three of us are going to hang out, I’m so excited! I would add lots more exclamation points, but it’s been a loooong day of Up Early followed by Short Nap and Much Crankiness, and I’m pooped. But don’t worry, I’ll rest up for the weekend! YAY! 

      Reply
    3. There’s a secret about your post. ICTYBTIHTKY

      Reply
    4. kredit von privatpersonen trotz betreibung

      Weißt du vielleicht, ob es die Maroni-Creme auch irgendwo in einem Onlineshop gibt? Wenn nicht, muss ich doch einfach mal einen Abstecher nach Frankreich machen 😀 Immerhin hast du mir Lust auf mehr gemacht! Wundervolle Fotos – wie immer. Ich freue mich schon auf den kommenden Artikel <3

      Reply
    5. obama quotes on health care

      You couldn’t pay me to ignore these posts!

      Reply
  2. Dhimas Wisnu Mahendra

    Terima kasih Mas Ridho! Sukses selalu juga ya dalam studi dan segala hal, terutama dalam mengawal situs resmi PPIA! Salam Aktivis dan salam untuk teman-teman Medkom yang luar biasa! :)

    Reply

Leave a Reply to Dhimas Wisnu Mahendra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>