Jangan Biarkan Anganmu Dikontrol Orang Lain


“Kejarlah cita-citamu sampai ke Negeri China”. Itu adalah ungkapan yang ditujukan kepada setiap orang yang ingin mencapai cita-citanya. Semua orang pasti ingin kuliah di universitas yang diidamkan sejak lama, meskipun itu bukan universitas yang terbaik menurut orang lain. Semua orang pasti ingin kuliah di jurusan yang diidamkan supaya dapat bekerja di tempat favorit masing-masing. Itulah yang saya alami selama bertahun-tahun selagi saya di sekolah di Australia.

Perkenalkan saya Pasha, saya kuliah di Curtin University dan saat ini saya di tahun ketiga. Saya tinggal di Australia sejak tahun 2010. Mimpi saya sejak SMA adalah kuliah di Curtin University, meskipun sebenarnya orang tua saya lebih menyarankan kuliah di University of Western Australia (UWA) karena orang tua saya ingin saya menjadi orang yang pintar dan banyak berteman dengan orang bule. UWA Bagi orang tua saya, UWA adalah universitas yang pantas untuk saya. 

Pindah ke Ausralia tahun 2010, saya belum tahu tentang Australia. Jangankan tahu soal Curtin, bicara Bahasa inggris saja saya tidak mengerti. Sekitar tahun 2011, saya sedang menonton TV di sekolah dan tiba-tiba ada iklan tentang Curtin University. Iklannya menarik dan mengingatkan saya dengan iklan BSI. Setelah itu tiba-tiba saya bermimpi ingin pindah ke universitas itu. Di situlah saya memulai bermimpi untuk kuliah di Curtin University. Tetapi saya belum berpikir serius karena dulu saya belum tahu subject apa yang cocok untuk saya. Sampai di pertengahan tahun 2012, saya baru sadar setelah diberi tahu guru saya kalau saya mempunyai potensi di jurusan komputer dan saya juga bagus di geography. Akhirnya saya terpikir untuk belajar di bidang computer atau geography dan saya mengutarakan keinginan saya pada orang tua saya.

Orang tua saya bekerja di bidang research dan dia ingin saya kuliah di bidang science agar saya dapat bekerja di bidang yang sama. Tetapi saya tidak mau. Selain itu, di science saya masih di pathway 2, dan nilai saya cukup jelek. Saat orang tua saya tahu nilai saya jelek, orang tua saya marah dan saya disuruh mengikuti kursus science dan harus tetap mengambil research.

Tahun 2013, saya sangat stress ketika orang tua saya memaksa saya harus jadi researcher, sedangkan saya ingin kuliah di jurusan komputer. Saya sampai bingung, hidup saya ke depan bagaimana apakah berhasil atau tidak, apalagi setelah saya dengar banyak di berita tentang pelajar bunuh diri karena gagal ujian dan gagal kuliah atau jadi gila. Tapi saya masih sedikit optimis siapa tahu di masa depan, orang tua tidak memaksa. Pada bulan Mei 2013, diadakan pemilihan untuk student, apakah di year 11 dan year 12 saya mengambil ATAR (pathway untuk langsung ke university) atau non-ATAR (pathway yang ke TAFE baru ke university) dan saya beri tahu ibu saya. Ibu saya sangat senang dan ingin saya mengambil ATAR. Tapi ada satu hal yang buruk lagi, Ibu saya ingin saya masuk UWA, padahal saya ingin masuk Curtin. UWA standar nilainya tinggi sedangkan nilai saya rata-rata 60-70%, sehingga saya makin stress. Setelah nilai ujian keluar, nilai matematika dapat 76%, bahasa Inggris saya 70%, S&E (Geography) 69%, tetapi pelajaran yang ibu saya ingin (science), saya hanya mendapat 47% dan setelah itu Ibu sangat marah dan disappointed. Setelah nilai keluar, saya mencoba bicara dengan guru saya, apakah saya bisa mengambil ATAR path, Dia bilang untuk ATAR, saya harus ambil 4 unit ATAR dan saya bisa. Saya coba ke guru matematika, dia bilang saya bisa ambil ATAR, guru English juga mengatakan hal yang sama, tetapi guru science bilang tidak bisa karena nilai saya jelek. Tetapi karena di S&E di year 11 unitnya dipecah menjadi geography, history dan ekonomi. Saya akhirnya mengambil Geography dan Ekonomi dan diperbolehkan. Bahkan saya ambil 5 ATAR supaya jika ada unit yang failed saya aman, jadi saya ambil juga accounting. Tetap setelah saya bicara kepada orang tua, orang tua saya kecewa dan tetap ingin saya ambil science. Saya semakin sedih dan depresi, sampai saya mempunyai satu masalah lagi, Saya baru putus dari pacar saya dan saya sangat depresi. Di tahun 2013, nilai saya sangat anjlok, dan bahkan, science saya mendapat nilai 28%. Maths saya mendapat 50% dan saya failed di subject lainnya. Akhirnya ibu saya sedikit mengalah dan memperbolehkan saya ambil jurusan selain science.

Tapi sayang, setelah ibu saya setuju, nilai saya tambah anjlok bahkan 2013 akhir saya memutuskan untuk ambil Non-ATAR saja karena susah. Ibu saya awalnya tidak mau karena saya masuk TAFE dan tidak ke university. Saya akhirnya bilang saya tidak mau stress bahkan saya tidak mau akhirnya bunuh diri. Akhirnya ibu mengalah dan saya ambil non-ATAR. Setelah itu Mimpi saya ke university sedikit menghilang dan saya tidak terlalu tertarik untuk masuk ke university

Akhir tahun 2014, saya melihat program dari TAFE untuk Diploma dan ada Program VET. Akhirnya setiap hari Jumat, saya tidak sekolah tapi saya ke TAFE untuk mengambil program D3. Saya tertarik dengan program itu. Saya bicara dengan guru-guru di sekolah, dan beliau bertanya saya tertarik di program apa. Saya menjawab IT atau Digital Design. Dia mengatakan bahwa kebanyakan program VET itu untuk Nurse atau Mechanical. Saya kecewa, tapi guru saya mencarikan informasi lebih lanjut soal ini. Setelah mendapatkan informasi, saya mendapat kabar kalau ada Jurusan Digital Design di TAFE untuk VET Program. Saya tertarik. Saya bicara ke ibu saya. Ibu saya awalnya tidak setuju tetapi akhirnya dia setuju. Akhirnya saya mendaftarkan diri ke TAFE dan saya pikir mungkin ini jalan untuk ke Curtin. 

Setelah setahun, 3 bulan sebelum kelulusan di tahun 2015, saya terpikir bagaimana cara untuk masuk Curtin. Tiba-tiba saya ingat tentang Diploma Certificate 4 dan Diploma of Digital Design di TAFE. Saya ingin mengambil program tersebut. Tetapi saya diberi tahu bahwa akan ada program Uni Ready dari Curtin. Setelah mengikuti program tersebut selama 6 bulan, akan bisa langsung masuk Bachelor. Ibu saya tertarik sekali dan saya akhirnya mendaftar Uni Ready. Tapi karena saya bingung kenapa tidak ada kabar, akhirnya saya mendaftar TAFE juga untuk tahun 2016.

Januari 2016, setelah saya mendaftar TAFE, Saya baru dapat kabar bahwa saya diterima Uni Ready. Saya bimbang, akhirnya saya terima saja karena gratis. Setelah diterima, saya baru sadar kalau mata pelajaran Bahasa Inggris di UniReady itu susah dan saya failed. Bulan April 2016, Saya mengundurkan diri dari Uni Ready. Ibu akhirnya terima dan akhirnya saya hanya berkonsentrasi di Diploma of TAFE sampai akhir November 2016. Bulan Agustus, saya bicara kepada Ibu saya kalau saya masih ingin masuk Curtin. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba ibu saya minta saya harus di UWA. Padahal saya ingin masuk Curtin karena di Curtin, saya mempunyai banyak teman dan di Curtin banyak orang Indonesia. Ibu saya tetap tidak mau dan saya bingung. Setelah itu saya mencoba ke Curtin Open Day untuk mencari tahu jurusan apa yang cocok buat saya. Karena saya sedang stress, jadi saya mungkin salah informasi dan saya mendapat informasi kalau jurusan yang bagus itu adalah Mass Communication. Setelah 1 bulan, ibu saya akhirnya mengalah demi kebaikan saya. Saya mendaftar Mass Communication dan mimpi saya di Curtin berlanjut.

Tapi mimpi buruk tidak berhenti disitu, Semester 1 2017, Saya ambil jurusan Mass Comm dan ternyata pelajarannya susah. Saya bingung kok bukan ke IT malah ke Subject lain dan saya failed. Akhirnya di akhir Semester 1, saya pindah ke jurusan Digital Design dan sampai sekarang alhamdulillah saya sangat menyukainya. Saya sekarang sudah tahun terakhir dan akhir 2020 lulus.

Buat sobat PPIA, jangan patah semangat dan jika kalian ingin mengambil jurusan yang kalian mau, ambil saja. Tetapi hati-hati jangan sampai salah pilih jurusan seperti saya.

Salam PPIA

Pasha Wildenauer

(Curtin University)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *