Rezeki Tidak Akan Kemana

“Saya ingin melanjutkan studi master di luar negeri”, itu jawaban saya setiap kali ditanya teman-teman mengenai rencana saya seusai menyelesaikan pendidikan sarjana di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Mimpi tersebut bermula dari cerita seorang senior sekaligus teman baik saya yang mendapatkan beasiswa Master di UK. Ia menceritakan perjuangannya beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pendidikan yang sangat berbeda, serta persaingan ketat dengan orang-orang dari segala penjuru dunia yang pada akhirnya mempengaruhi cara pandangnya terhadap Indonesia. Diam-diam saya sangat penasaran seperti apa rasanya kuliah di negeri orang dan bagaimana itu akan mempengaruhi saya dalam memandang Indonesia. “Ya rasakan sendiri”, kata teman saya setiap kali saya bertanya.

Lulus kuliah pada akhir tahun 2014, saya tidak serta merta memulai research saya terkait menempuh pendidikan di luar negeri. Saya habiskan 2 tahun untuk bekerja tanpa ada upaya, hampir lupa dengan mimpi saya. Beruntung banyak teman mulai mengingatkan saya. Di akhir tahun 2016 saya mengambil kursus Bahasa Inggris sembari tetap bekerja. Di sela waktu bekerja, saya sempatkan membuat daftar beasiswa dan daftar universitas yang memiliki program Master di bidang urban planning.

Pada tahun 2017, perburuan beasiswa untuk kuliah di luar negeri pun dimulai! Pertama kali mencoba seleksi beasiswa, saya mendaftar untuk beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Di tahap wawancara, saya ditawari untuk studi master di dalam negeri karena tipis kemungkinan saya untuk lolos seleksi studi ke luar negeri. Namun saya tidak rela membuang mimpi saya begitu saja. Ya, upaya pertama saya gagal. Tidak berhenti di sini, serangkaian seleksi beasiswa yang saya ikuti, termasuk Chevening dan AAS (Australia Awards Scholarship), menghasilkan kegagalan lainnya. Ternyata tidak seindah foto-foto di media sosial teman-teman saya yang sudah lebih dulu berkesempatan mencicipi rasanya menempuh pendidikan di negeri antah berantah. Ada perasaan sedih dan kecewa, tetapi saya katakan berulang kali pada diri saya sendiri ‘rezeki tidak akan kemana’. Hingga suatu sore, salah seorang dosen di tempat saya bekerja mengirimkan pesan berisi kesempatan beasiswa studi di Tasmania, Australia bertajuk ‘Beasiswa Sri Sultan Hamengku Bawana X’.  Karena aplikasi beasiswa ini akan ditutup dalam 2 hari ke depan, saya siapkan semua persyaratan dalam 2 hari. Bahkan recommendation letter  yang biasanya baru didapatkan setelah berminggu-minggu, tergantung waktu luang dosen, saya dapatkan kurang dari 1 jam! Bagaimana mungkin? Tentu saja, everything is possible, rasanya seperti semesta mendukung. Tahap wawancara beasiswa ini pun sangat berkesan bagi saya karena segala pertanyaan yang diajukan adalah seputar Daerah Istimewa Yogyakarta dan kontribusi yang ingin saya berikan untuk keberlanjutannya. Sempat gugup diwawancarai oleh GKR Mangkubumi dan beberapa kali diminta menjawab dalam Bahasa Jawa, rezeki saya datang juga! Saya dinyatakan lolos seleksi sekitar 4 bulan setelah wawancara dan here I am, studying Master of Planning at University of Tasmania, Australia!

Berhasil mendapatkan beasiswa bukan berarti perjuangan saya selesai. Saya harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru untuk mendukung proses studi saya. Masih lekat di ingatan saya pertama kali memijakkan kaki di Tasmania setahun yang lalu, angin kencang nan dingin menerpa wajah saya. “It’s always like this in Hobart. Can you see that mountain? You’ll find snow there even in summer”, jawaban petugas bandara ketika saya bertanya mengenai dinginnya Kota Hobart saat musim panas. Bukan hanya cuaca, Kota Hobart bisa dibilang sangat sepi dibandingkan dengan Yogyakarta. Tidak banyak hiburan di kota ini pada malam hari, toko dan restoran sudah banyak yang tutup pada pukul 5 sore. Belum lagi kendala bahasa yang saya alami ketika awal pertama saya tiba. Tidak jarang saya harus mengulang beberapa kali kalimat yang ingin saya ucapkan atau bahkan menggunakan isyarat untuk mempermudah komunikasi dengan penduduk lokal. Apa sekarang saya masih beradaptasi? Ya, tentu saja! Saya menikmati setiap prosesnya.

Menjadi newcomer dan tidak mengenal siapa pun di Kota Hobart, saya mendapat banyak pertolongan dari pelajar Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini. Tiga hari pertama di kota ini, saya tinggal bersama sebuah keluarga kecil yang juga membantu saya menemukan akomodasi dan membeli barang-barang yang saya perlukan untuk memulai hidup baru saya. Minggu berikutnya saya diundang untuk makan malam bersama para pelajar Indonesia lainnya di rumah salah seorang senior. Hanya ada sekitar 15 orang dalam acara tersebut dengan 6 diantaranya, termasuk saya, adalah pendatang baru. Dalam kesempatan itu diputuskan juga bahwa persatuan pelajar di Kota Hobart akan bergabung dengan pelajar di Kota Launceston mengingat keterbatasan jumlah dan ketersediaan waktu para anggota. Itulah kali pertama saya berkenalan dengan organisasi PPIA Tasmania.

Singkat cerita, saya diperkenalkan dengan Anton, ketua PPIA Tasmania yang tinggal di Kota Launceston. Saya mengutarakan keinginan saya untuk membantu dalam organisasi PPIA Tasmania, khususnya terkait kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di Kota Hobart. Obrolan dengan Anton mengantar saya untuk menghadiri Kongres PPIA di Kota Brisbane pada Juni 2018. Saya berkesempatan bertukar ide dan membangun jejaring dengan para pelajar Indonesia dari wilayah lain di Australia. Mereka anak-anak muda yang sangat menginspirasi! Selang beberapa minggu dari kongres, saya ditawari untuk bergabung dengan PPIA oleh ketua terpilih, Hakam Junus. Saya putuskan untuk bergabung dalam Divisi Social Project yang diketuai oleh Sakti, teman yang juga saya kenal dari Kongres PPIA. Melalui PPIA saya belajar berorganisasi, bekerja dalam tim dengan teman-teman yang belum pernah saya temui secara langsung, serta membagi waktu antara mengerjakan tugas kuliah dan tugas organisasi yang diamanatkan pada saya.

Akhirnya impian saya menjadi pelajar di Australia tercapai. Benar kata teman saya, menjadi pelajar di negeri orang mempengaruhi cara pandang saya terhadap Indonesia. Jangan tanya, rasakan sendiri saja! Satu hal yang saya ingin bagikan kepada teman-teman yang sedang berusaha meraih mimpinya, jangan menyerah, karena rezeki tidak akan kemana!

Salam PPIA

Rianisa Fitriani

University of Tasmania

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *