Bisa Karena Terbiasa

Thumbnail_PPIAVlog

Saya tidak lulus SMA. Begitu saya mendekati akhir SMA kelas dua, saya langsung merengek minta disekolahkan di foundation yang berlokasi di Sydney. Saya yang berumur 16 tahun waktu itu ngebet sekali cepat-cepat keluar dari Indonesia, tidak terpikir betapa susahnya hidup di negeri orang tanpa riset yang matang. Di sisi lain, saya juga tidak yakin kalau nilai A level saya akan mencukupi untuk masuk kuliah jika saya lulus nanti. Setelah saya menjelaskan alasan saya kepada orang tua, akhirnya mereka menyetujui dan menyanggupi.

Semua berjalan dengan lancar, awalnya. Setelah satu tahun saya belajar di Sydney, keluarga saya terkena kendala finansial. Dari uang jajan yang mulai dikirim terlambat, kemudian dikurangi, kemudian tidak sama sekali. Saya sadar saya harus putar otak untuk menutupi biaya hidup bahkan sampai daftar beasiswa sana-sini (yang sayang sekali hanya mentok di tahap interview karena nilai saya ngepas saja, hahaha).

Tapi saya sadar, rasanya saya kurang ajar sekali bila menyerah di tengah jalan seperti ini. Keluarga saya tidak kenal lelah mendukung saya, mentally dan financially, sedangkan saya merengek minta pulang ke Indonesia lagi. Ditambah lagi saya tidak memiliki ijazah SMA, tidak punya pegangan lain. Mau tidak mau, saya tetap belajar sambil kerja part-time. Anak manja seperti saya tiba-tiba berkerja di restoran cepat saji pada shift pagi, kemudian kuliah sore hingga malam. Keadaan berubah begitu mendadak, rasanya kalau saya ingat-ingat lagi begitu ngilu karena waktu itu belum terbiasa, hahaha!

Kehidupan saya hanyalah kerja dan belajar, begitu terus setiap bulan. Saya kala itu tidak memiliki teman. Walaupun tampang saya seperti ‘anak gaul Jakarta’ (ini verbatim! Hahaha) saya sebenarnya tidak pandai berkenalan dengan orang baru. Namun, saya senang berorganisasi dari SMP, karena secara langsung organisasi ‘memaksa’ orang lain untuk berkenalan dan berkerja dengan saya. Saya bisa melewatkan kenalan basa-basi yang saya tidak sukai. Akhirnya, saya memutuskan untuk masuk PPIA University of Sydney (USYD) 2016.

Saya mendaftar menjadi anggota desain di PPIA USYD, dan di tahun yang sama ditawari posisi menjadi anggota seni budaya dan olahraga di PPIA New South Wales (NSW). PPIA NSW mempercayakan saya untuk menjadi project manager sebuah acara drama, yaitu Panggung Pahlawan. Sebagai anak baru yang juga culun, tak terhitung berapa kali saya menangis di depan teman-teman karena tekanan memegang acara, hahaha. Walaupun tidak semua berjalan mulus, saya senang dapat bertemu dengan teman-teman baru yang tidak sungkan untuk saling membantu. Teman-teman saya juga tidak ragu untuk mengajarkan hal baru kepada saya, alias tidak pelit ilmu. Kudos!

Selesai masa jabatan 2016-2017, saya kembali ditawarkan untuk menjadi anggota staf desain PPIA NSW tahun 2017-2018. Jujur saja, saya suka pusing bila ada tugas yang didelegasikan secara mendadak kepada saya. Namun, tugas-tugas seperti itu terkadang nagih lho, ya. Mungkin karena saya juga yang senang mengerjakan apapun yang berbau desain. PPIA UTS tahun itu juga menyelenggarakan drama musikal yang berjudul Epilogue, yang saya, lagi-lagi, juga menjadi bagian dari itu. Saya bersyukur karena PPIA cabang dan ranting tidak bosan melihat muka saya yang begitu-begitu saja.

Di tahun terakhir saya kuliah, saya sudah berpikir untuk tidak mendaftar ataupun terlibat dengan PPIA manapun, karena ingin fokus serta memberikan kesempatan kepada murid lainnya. Mendekati akhir periode saya menjabat di PPIA NSW, saya tiba-tiba ditelpon oleh teman saya dari Wollongong. Kemudian ia bilang ketua PPIA Pusat ingin berbicara dengan saya. Waktu itu Mas Hakam baru saja terpilih menjadi ketua baru, dan wajahnya terpampang di instastory teman-teman saya yang mengikuti Kongres PPIA di Brisbane. Mas Hakam menawarkan posisi ketua divisi desain kepada saya, dan saya, tentu saja, sempat ragu karena saya terbiasa berkerja di bawah pimpinan orang lain. Namun kini di sinilah saya, di semester terakhir kuliah, menjabat sebagai ketua divisi desain, hahaha! Acara dan skala yang diurus oleh PPIA Pusat membuat saya sempat kewalahan karena perbedaan yang mencolok dibanding ketika saya menjabat di cabang dan ranting. Sekalian saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang kini berkerja dengan saya bila saya masih banyak kurangnya, hehehe.

Saya senang menjadi bagian dari PPIA, di manapun itu, karena saya tidak pernah berhenti mempelajari hal baru. Walaupun capek harus juggling waktu antara kuliah, kerja dan berorganisasi, saya tidak pernah kapok terlibat dengan PPIA. Sebagai orang yang mudah kesepian namun juga malu berkenalan dengan orang lain, PPIA beserta acara-acaranya membantu saya untuk bertemu dengan teman-teman baru, bahkan konco kenthel, hehehe. Kesibukan-kesibukan yang berarti ini membuat saya lupa bahwa saya adalah murid manja yang penakut tiga tahun lalu. Saya sangat bersyukur akan hal itu.

Kalau saya diizinkan untuk memutar waktu, saya ingin berbicara kepada diri saya tiga tahun lalu. Ingin sekali memberi tahu kalau hidup tidak semulus yang kamu kira. Namun jangan terlalu khawatir, karena kamu akan bertemu orang-orang baik. Dan orang-orang baik ini akan membuat hidupmu lebih baik pula. Also, perbanyak istighfar biar gak nangis terus, hahaha!

Jangan lupa, kamu bisa karena terbiasa.

Salam PPIA! 🙂

 

Alya Budiman

(University of Sydney)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *