Woman from East and her dreams

IMG_1485 

Setiap kita tentu punya impian, entah itu akan tercapai suatu saat nanti ataukah tetap menjadi sepotong impian yang tergantung dilangit sana. Dan sayapun memiliki impian masa kecil untuk menjadi seorang Apoteker yang bekerja di apotek dan bertemu banyak orang. Seru saja berpikir menjadi seorang “penjual obat”.

Bagi seorang bocah usia 7 tahun, tergila-gila dengan profesi apoteker tentulah tak lazim kala itu. Harusnya bermimpi menjadi princess seperti dalam dongeng.  Dan pula profesi apoteker saat itupun belum sepopuler sekarang yang banyak digandrungi anak-anak muda. Terus, kok bisa ya? Hmmmmhm…… Pemberian vitamin C Bodde bergambar boneka sirkus oleh sepupu jauh saat saya main ke apotek tempat kerjanya itu yang menjadi alasannya. Rasa asam manis asam askorbat dan gambar yang lucu itulah yang membuat saya penasaran dengan sekolah yang bisa mengantarku bekerja di apotek.

Dan saat yang telah lama kunanti akhirnya datang juga. Di tahun 1998, saya bisa mendaftar pada sekolah impian. Walaupun mama, yang merupakan “entrepreneur” sejati, menghendaki agar saya menjadi perawat. Yah, jika nanti sudah berusia lanjut dan sakit, tentu saya bisa merawatnya. Lagi pula, waktu kecil saya langganan ke dokter hampir setiap bulannya. Namun, karena saya sudah menunggu waktu ini dari sewindu, maka diam-diam Sekolah Menengah Farmasi Depkes Kupang (SMF) yang saya daftar. Waktu bilang ke mama tentang SMF, beliau sedikit kecewa karena menginginkan saya masuk SPK. Alasannya saya dapat langsung bekerja selepas lulus nanti. Walaupun sebenarnya itu bukan alasan utama, anak tunggal merupakan alasan utama. SMF lokasinya di Kupang (pulau Timor), sedangkan saya bisa tetap berdomisili di Ende bersama mama, jika memilih SPK. Apa mau dikata, saya terlalu ingin menjadi Apoteker dan SMF adalah langkah awal menjadi Apoteker. Sayapun berada dalam dilema apakah tinggal dengan mama atau meraih mimpi. Tapi saya percaya yang terbaik sesuai kehendak-Nya. Sayapun lulus test masuk SMF dan merantau ke Kupang di usia 15 tahun.

Saya bersekolah selama 3 tahun di SMF dan lulus di bulan Juni tahun 2001. Saya sudah menggapai separuh mimpi saya. Dalam usia masih 18 tahun saya sudah bekerja dan punya gaji sendiri. Senangnya bukan kepalang, apalagi gaji saya lebih besar dari PNS kala itu.  Itu adalah salah satu alasan saya malas daftar CPNS saat itu. Saya masih punya banyak waktu, pikirku.  Rencansaya bekerja 2-3 tahun lagi sambil menabung biaya kuliah yang masih mahal saat itu. Kasian mama saya kalau harus menanggung semuanya. Apalagi biaya SMF-ku dulu sudah terhitung mahal buat ukuran SMA. Cita-citaku melamar CPNS saat 25 tahun, setelah menjadi apoteker dan bekerja di swasta 2 tahun. Namun, saya disarankan aji mumpung mendaftar CPNS. Lulus syukur, kalaupun  tidak lulus masih ada tahun-tahun berikutnya.

Sayapun menguji peruntungan di bulan Agustus 2001. Namun ketika lulus sekitar November, saya lalu berpikir kapan saya bisa lanjut kuliah? Antara bahagia, bingung dan shocked karena di luar ekspektasi. Bingung karena saya harus menunggu 5 tahun buat tugas belajar. Bahagia karena telah membanggakan mama dan almamater saat langsung lulus PNS provinsi hanya 5 bulan setelah lulus SMF. Namun, saya percaya “semua indah pada waktu-Nya”. Saat menelpon mama, beliau amat terkejut bercampur bahagia. Kemudian berpesan untuk tetap selalu menjadi anak yang jujur, takut akan Tuhan dan banyak berdoa karena saya bekerja bagi orang sakit.  Jangan pernah membuat orang yang kena musibah menangis karena air mata mereka akan membuat hidup kita lebih susah dikemudian hari. Dan hidupku dimulai dengan babak baru bekerja sebagai PNS namun tetap meredam asa.

Pada tahun 2004, saya mendaftar program khusus 2 tahun D3 Farmasi bagi lulusan SMF yang sudah bekerja. Perjuangan mendapat beasiswa Pemda NTT gagal dengan alasan masa kerja. Namun tak hilang akal, saya melobi beasiswa bagi tenaga kesehatan NTT pada Dinas Kesehatan dan bertemu dengan Kadis dr. Stefanus Bria Seran yang sangat mendukung peningkatan pendidikan bagi SDM Kesehatan. Setelah melewati proses yang penuh tantangan, akhirnya sayapun mendapatkan beasiswa. Walaupun tidak sepenuhnya ditanggung Dinkes, paling tidak waktu bisa kubeli buat mempersingkat waktu kuliah apoteker nanti.

Selesai kuliah D3 Farmasi dengan segala lika-likunya, akhirnya pada tahun 2006 di pulau Alor,  saya bertemu dengan kak Ermi Ndun, alumni AAS yang bekerja pada Dinkes NTT dan sosok yang sangat menginspirasi anak muda NTT. Hasil dari pertemuan itu adalah rajutan mimpi terbesarku, yaitu kuliah S2 di Australia. Yeiiii!!!! Mimpi kali ini membuatku berpacu lebih cepat melawan waktu. Segera kuusulkan tugas belajar di tahun 2008 agar secepatnya lulus apoteker dan melamar AAS.

Kali ini sebagai wanita yang sudah menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang berasal dari pulau Rote, menggapai mimpi bersama AAS bukanlah perkara mudah, dimana saya harus kuliah ribuan mil dari Kupang. Namun membawa anak-anak adalah mimpiku juga, sambil membagi waktu belajar dan keluarga. Dan pengorbanan terbesar saya adalah saat mengikuti Pre Departure Training di Bali, karena harus meninggalkan keluarga tercinta berbulan-bulan lamanya. Setelah melalui perjuangan dan drama kehidupan yang menantang, akhirnya saya bisa meraih mimpi dari masa kecil menjadi apoteker dan mimpi terbesar saya, mengambil pendidikan master di Australia. Dan bonus dari mimpi-mimpi itu adalah anak-anak pun akan dapat merasakan kehidupan di Australia.

Kepada anak-anak saya maupun semua anak muda yang saya jumpai, saya selalu berkata : “Selama mimpi masih gratis dan tidak berbayar bagi siapapun dia, maka mimpilah setinggi-tingginya, semesta akan mendukung jika kita percaya dan bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi kita”. Sekalipun sekarang saya sudah mencapai mimpi-mimpi saya, namun saya masih menaruh mimpi-mimpi lainnya pada rasi bintang Crux di atas sana. Ketika saya melihatnya, saya teringat mimpi-mimpi saya yang digantung di atas bintang dan akan menggapainya. Semoga.

 

Salam sukses buat para peraih mimpi.

 

Thresia Maria Wonga

(The University of Adelaide)

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>