Great Things Never Came from Comfort Zones

 

Berada jauh dari negara asal dan harus beradaptasi di negara yang kita tidak familiar jelas merupakan sebuah tantangan. Tidak pernah terpikir dari bangku SMA kalau pada akhirnya saya akan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Pertama kali menginjakkan kaki di Canberra, satu hal yang terpikir adalah “Mengapa kota ini begitu sepi?” Hahaha. Dibandingkan dengan Jakarta, Canberra bisa dibilang bukanlah pilihan yang tepat untuk anak yang terbiasa dengan kehidupan di Jakarta. Namun melalui kota inilah saya banyak belajar dan saya bertumbuh menjadi diri saya  sekarang.

Sempat merasa menyesal dengan keputusan saya karena memilih untuk melanjutkan di kota Canberra, namun melalui organisasi PPIA inilah saya merasa beruntung bisa belajar di kota Canberra. Saya cukup aktif dalam organisasi PPIA dari awal saya masuk university. Awal mulanya, keinginan bergabung di PPIA ANU dikarenakan adanya rasa senang di dalam hati di saat bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Namun setelah bergabung, saya merasa organisasi ini sangatlah penting. Selain mengobati rasa rindu akan rumah, kita juga bisa memberikan kontribusi positif sebagai mahasiswa dan sebagai orang Indonesia. Maka dari itu, hingga hari ini saya masih aktif dalam organisasi PPIA ini. Selain di PPIA ANU, saya juga pada akhirnya memutuskan untuk bergabung PPIA cabang Australian Capital Territory (PPIA ACT). Menariknya, memang pada waktu itu saya sudah mempunyai minat untuk bergabung dalam PPIA ACT, tapi saya tidak menyangka akan bergabung di posisi sekretaris dan dengan cara seperti itu.

Beberapa hari setelah terpilihnya Welhelmus Poek atau yang lebih dikenal sebagai Mas Mus sebagai president PPIA ACT 2018-2019, sekitar jam 6 pagi saya menerima permintaan pertemanan dari Mas Mus di Facebook saya. Dikarenakan Canberra tergolong kota kecil, kita dengan mudah mengetahui kabar terpilihnya Mas Mus. Lalu setelah saya menerima permintaan pertemanan dari dia, saya mengirim pesan untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi President PPIA ACT. Setelah itu kami berbincang dan saya menawarkan diri saya untuk menjadi kepala bagian di divisi minat, bakat, dan keterampilan. Lalu saya ingat Mas Mus menjawab “Wah aku senang kalau ada anak muda kayak kamu, I will give one strategic position to you.” Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan Mas Mus untuk membicarakan posisi di PPIA ACT dan saya sempat bimbang saat ditawarkan untuk memilih antara posisi sekretaris atau kepala bagian divisi minat, bakat, dan keterampilan. Sejujurnya, saya sedikit takut jika saya memilih menjadi sekretaris saya hanya belajar hal administrasi-administrasi saja. Namun pada waktu itu, Mas Mus bilang ke saya kalau ini merupakan posisi yang strategis kalau kamu mau belajar banyak.  Saya bersyukur saya mengambil keputusan untuk mengambil posisi sekretaris ini, karena saya benar-benar belajar banyak. Mulai dari bertemu dengan orang-orang penting dan juga mengkoordinir acara-acara Indonesia di Canberra dan juga antar negara bagian.

Selain itu, berada di ibukota Australia yang merupakan pusat pemerintahan Australia merupakan suatu privilege bagi saya sebagai pengurus PPIA. Kedutaan Besar Indonesia yang terletak di Canberra cukup memudahkan bagi kami sebagai pengurus PPIA ACT untuk berkomunikasi dengan Duta Besar Indonesia di Australia dan pejabat-pejabat lainnya. Salah satu yang membuat saya terkesan atas privilege bisa belajar dan berorganisasi di PPIA ACT ini adalah ketika Konselor Menteri Penerangan, Sosial, dan Budaya secara personal memuji kinerja saya. Sebagai mahasiswa, pujian itu sangat berarti dan membuat saya sendiri termotivasi untuk berkembang dan berkontribusi lebih lagi. Dari PPIA, saya banyak belajar mengenai leadership, teamwork, dan juga dalam hal time management, khususnya di saat saya diharuskan untuk bijak dalam membagi waktu untuk mengerjakan assignment dan mengkoordinir keberlangsungan kegiatan PPIA.

Seperti yang tertera pada judul, saya percaya “Great things never came out from comfort zone.” Jadi melalui tulisan ini, saya ingin mendorong kalian, di mana pun kalian berada dan ditempatkan, always challenge yourself dan jangan takut untuk berkontribusi lebih! Apalagi untuk Indonesia!

Salam PPIA!

October

Joshlyne Edwina

(Australian National University)

Comment (1)

  1. Welhelmus Poek

    Wow…great story Joshlyne. Teruslah belajar menjadi seorang pemimpin; yang tidak harus berdiri di depan untuk dilihat orang tetapi tetap menginspirasi walau tak terlihat.

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>