Petualangan yang Berawal dari Mimpi

Saat masih di bangku SMA mungkin kita pernah menuliskan mimpi kita untuk melanjutkan kuliah di universitas mana. Beberapa orang mungkin tidak percaya dengan hal ini karena apalah arti dari sebuah tulisan di kertas yang ditempel di dinding kelas. Termasuk saya, bahkan setiap kali saya disuruh untuk menuliskan cita-cita mau ke mana selanjutnya , saya tidak pernah serius untuk menulisnya. Oleh karena itu saya selalu menulis akan melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Australia. Sejujurnya saya juga tidak tau apa motivasi saya untuk menuliskan cita-cita yang bahkan pada saat itu saya cuma menganggap sebagai mimpi saja, karena tidak ada yang salah dengan mimpi. Tetapi dengan berjalannya waktu, setiap kali melihat tulisan tersebut, hati kecil saya selalu meminta untuk mewujudkannya. Alhamdulillah dengan doa dan dukungan orang tua, mimpi saya terwujud, saya berhasil sampai di University of Wollongong (UoW). Di sinilah petualangan itu dimulai.

Sebelum masuk Uni, saya harus mengikuti college Bahasa Inggris selama 6 minggu di UoW. Tidak memiliki kerabat atau orang yang saya kenal di Wollongong, saya memutuskan untuk mengontak PPIA UoW. Terima kasih untuk Mas Aan, President PPIA UoW waktu itu (tahun 2015), yang mau membantu saya untuk mencarikan rumah dan bahkan saat pertama kali sampai, beliau membantu saya untuk pergi membeli barang yang saya butuhkan sembari mengajak keliling kota Wollongong. Saat itu saya masih pemalu karena masih baru dan jadinya merasa kesepian karena tidak memiliki teman, lalu saya diajak main dan mulai berkenalan dengan teman-teman lainnya dan juga keluarga besar PPIA UoW.

Lalu tahun pertama saya di Uni dimulai, saat itu saya sudah pindah ke Sydney karena kelas yang saya ikuti memang berada di Sydney bukan di Wollongong. Di Sydney saya tinggal di rumah wakaf yang juga berfungsi sebagai musholla milik salah satu komunitas muslim di Sydney. Tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di luar kesibukan perkuliahan. Tugas, buku, dan angka mungkin teman dekat yang saya punya. Jarang ada waktu untuk nongkrong seperti saat masih di Indonesia, paling hanya beberapa kali saja karena memang teman kampus saya hanya ada sekitar 32 orang dan itu pun setelah kelas mereka langsung pulang karena kebanyakan dari mereka berasal atau tinggal diluar kota Sydney. Jadi ya saya lebih banyak aktif dan berteman dengan komunitas. Rata-rata mereka semua telah berkerja dan berkeluarga. Sebagai anak muda pastilah ingin mencari teman sebaya dan merasakan ‘Sydney’ tetapi masih belum kesampaian. Mungkin hanya keliling kota untuk menghapus rasa bosan. Untungnya saya berkenalan dengan seseorang yang kita sering jalan bareng. At least saya ada teman ngobrol dan curhatlah. Oleh dia, saya akhirnya berkenalan dengan anak-anak PPIA kampus lain yang ada di Sydney.

Tahun kedua, petualangan ini saya lanjutkan dengan memutuskan untuk pindah ke kampus utama di Wollongong. Salah satu alasanya adalah saya ingin merasakan kehidupan kampus yang sebenarnya karena kampus yang di Sydney hanya kampus satelit atau cabang dari UoW. Kembali ke Wollongong, saya tinggal di Dallas House, rumah legendnya mahasiswa Indonesia di Wollongong. Karena saya ingin merasakan kehidupan kampus di luar negeri seperti di film-film, saya memutuskan petualangan ini untuk melakukannya dengan ‘STUDY HARD, PLAY HARD’.

Sibuk dengan tugas, essay dan dikejar deadline. Saya masih sempat untuk menikmati kehidupan dengan teman-teman, main game bareng dan melakukan hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah saya pikirkan untuk melakukannya. Selain itu juga ada drama-drama klasik seperti pertemanan dan percintaan yang turut mewarnai petualangan ini.

Lalu saya juga mulai aktif di PPIA UoW dan saat ini juga di PPIA Pusat. Belajar berorganisasi dari orang – orang hebat dan menambah networking sangat berarti bagi saya. Hingga satu waktu saya pernah termenung mengingat apa saja yang telah saya lalui dalam petualangan saya  selama ini.

Dulu yang hanya sebatas mimpi yang saya tempel di dinding kelas, entah bagaimana mengantarkan saya berdiri dan bertualang di benua Australia. Bertualang mencari ilmu dengan dosen terbaik, bertemu dengan beragam macam orang dan pengalaman baik yang enak maupun tidak enak, telah emberi saya pelajaran yang beguna untuk masa depan. Tidak hanya dalam konteks studi tetapi juga dalam kehidupan.

Di situ saya percaya, bahwa mimpi bisa jadi nyata. Mimpi yang dulu saya tidak anggap serius saja bisa jadi nyata. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi-mimpi itu akan membawamu pada petualangan yang luar biasa!

20180917_120630

Fuad Alghani

(University of Wollongong)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>