Ketika Saya Memilih Jalan yang Sulit

35721691_10212281620304283_3429017840911384576_n

Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk melanjutkan studi Strata 2 (Master), walau harus melewati berbagai drama kehidupan. Yah, seperti yang Allah firmankan dalam Alquran, “Innamal khayatud dunya la’ibuw wa lahwun…”, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Oke, gak nyambung.

Kok jalan yang sulit? Hmmm… Gimana yah. Tahun 2012 saya menjadi sarjana dan mulai memasuki jenjang karir pada dunia kerja. Dari tahun itulah saya mulai menikmati uang hasil kerja sendiri dengan hasil yang ‘proper’. Uang hasil kerja saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Yah, untuk modal membangun keluarga kelak. Walau sampai sekarang gak nemu-nemu juga yang cocok, wkwkwkwk… Di saat kondisi seperti itu, mungkin sebagian orang mungkin lebih memilih karir dan kehidupan yang settle, daripada kembali ke bangku kuliah, ngekos lagi, ngerjain tugas lagi, dan sederet kegiatan mahasiswa lainnya. Namun, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Saya sadar, tak ada yang menjamin 100% bahwa dengan saya kuliah, saya akan menjadi pribadi yang saya cita-citakan. Tak ada. Tak ada garansi bahwa kondisi finansial saya akan menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya masih kerja dulu. Tak ada. Namun, saya ambil resiko itu. Bukankah hidup itu pengorbanan? Bukankah untuk menggapai bintang kita harus berusaha dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Tidak menjamin berhasil memang. Tapi tidak melakukan apa-apa akan menjamin kita untuk gagal meraih mimpi. Takkan lari gunung kau kejar, tapi takkan sampai bila tak kau daki. Begitu kira-kira.

Lah, emangnya apa sih yang mau dicari dari belajar Master? Mau jadi dosen? Enggak, sih. Soal alasan mendasar untuk melanjutkan jenjang Master kayaknya bakal perlu kisah dengan judul tersendiri, deh. Gak cukup kalo diceritakan di sini, hehehe…

Anyway, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa saya agak terlambat mengambil jenjang Master ini. Mungkin benar juga sih, hahaha… Banyak teman-teman saya yang kini sudah mengambil jenjang Doktoral di luar negeri, beasiswa pula. Bahkan adik kelas saya sudah banyak yang menyandang gelar Master. Yang tak melanjutkan kuliah pun banyak yang sudah melanglang buana, berkeliling dunia, dan memberi kontribusi kepada manusia dengan prestasinya yang berjuta. Saya? Kuliah S2 saja baru mau mulai. Tertinggal banyak langkah nampaknya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Ngapain sih lu, pake S2-S2 segala. Kawin dulu, lu tuh dah tua tauk!” Jlebbb… Hikss, tak apalah, kan katanya tiap orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri (ini lebih ke arah “menghibur diri” sih, wkwkwk…). Yah apapun itu, semoga kedepannya saya masih diberi kesempatan untuk berhasil dan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW, “khoyrunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin. Yang baca bilang aamiin juga donk, hahaha…

Well, sebenarnya ide untuk melanjutkan studi master sudah ada dari dulu. Bahkan sebelum saya masuk kuliah Strata 1 (Bachelor). Namun, mimpi ini sempat terkubur dan terlupakan selama bertahun-tahun. Awalnya saya berkeinginan untuk kuliah di Inggris, dan praktis Chevening menjadi sorotan saya. Sayangnya, beasiswa bergengsi ini mensyaratkan pelamar harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun. Oh ya sudah, kerja dulu lah. Begitu pikir saya. Dan ternyata, saya keterusan bekerja hingga 5 tahun. Kemampuan Bahasa Inggris? Jangan ditanya, degradasi dimana-mana. Hingga pada pertengahan 2016, saya azzamkan hati untuk menggali kembali mimpi yang sudah tertimbun rutinitas harian. Saya mulai bergabung dengan Indonesia Mengglobal dan belajar banyak tentang dunia scholarship termasuk academic writing bersama mentor saya waktu itu. Bulan Desember 2016 saya putuskan untuk mengambil unpaid leave dari perusahaan agar saya bisa belajar IELTS. Dan saya memilih Pare Kampung Inggris sebagai tempat pertapaan saya.

Singkat cerita, setelah melalui drama ini dan itu (dramanya juga bisa dibikin cerita tersendiri, loh, hahaha…), saya memilih Monash University sebagai tempat tujuan belajar dan Master of Business Information System sebagai subjek studi, bukan kampus-kampus kenamaan di UK. Saya pun ambil tes IELTS dengan modal hasil belajar di Pare, buat essay lalala lilili, translate ijazah ke dalam Bahasa Inggris dengan bantuan penerjemah tersumpah. Setelah dokumen untuk mendaftar kampus dirasa lengkap, termasuk transkrip IELTS, saya apply tujuan studi yang saya minati itu dengan bantuan IDP. Setelah mendapat Unconditional Offer Letter, saya memupuk kepercayaan diri saya untuk mendaftar beasiswa LPDP reguler. Dan, alhamdulillah, tahap demi tahap berhasil saya lalui. Dengan kemudahan dari-Nya, wejangan-wejangan teman dan mentor, dan doa-doa dari keluarga tercinta, saya dinyatakan lulus. Sampailah saya di sini sekarang, Melbourne yang katanya kota pendidikan. Salah satu kota ternyaman untuk ditinggali di muka bumi. Katanya.

Jalan perjuangan masih panjang, dan itu harus saya lalui. Mungkin tidak semudah jalan waktu saya bekerja dulu, tapi Allah berfirman, “Inna ma’al ‘usri yusroo”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Oleh karena itu, saya mohon doa para pembaca sekalian yang budiman agar saya memperoleh ilmu yang bermanfaat, berhasil meraih apa yang saya cita-citakan, dan mampu memberi kontribusi yang nyata kepada masyarakat di manapun saya berada. Dan semoga doa-doa yang pembaca panjatkan juga kembali kepada diri pembaca sekalian.

Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasku dan atas orang-orang yang menuntut ilmu dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan jalan kami payah dan bermasalah, Aamiin…

Salam sukses!

Yugo P. Ananda, Melbourne, 20180619

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>