Perjalanan Panjang untuk Terus Menjadi Lebih Baik

Oleh: Puteri Anetta Komarudin*)

Menjadi anak pertama memang tidak mudah. Terlahir sebagai putri pertama dari tiga bersaudara membuatku sering menjadi ‘kelinci percobaan’, dan tentunya diharuskan untuk menjadi contoh yang baik untuk kedua adikku. Sering kali, aku membayangkan apa yang akan terjadi apabila aku terlahir setelah saudaraku. Mungkin motivasiku untuk berjuang tidak akan sekeras ini. Keinginan terbesarku dalam hidup adalah untuk membuat orang tuaku tersenyum bangga melihat pencapaianku, dan sampai saat ini aku masih dalam perjalanan panjang untuk itu.

Berasal dari keluarga pejuang, aku menyaksikan betapa kerasnya hidup serta semangat juang ayah ibu yang tak pernah padam hingga hari ini. Memulai hidup dari nol memang tidak mudah, tetapi orang tuaku telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Ayahku datang dari keluarga petani di sebuah desa kecil di Jawa Barat, sedangkan ibu datang dari keluarga pegawai negeri yang hidupnya berpindah-pindah sejak kecil. Takdir yang mempersatukan mereka dan takdir juga yang mengijinkan mereka untuk mencapai kesuksesan.

Orang tuaku selalu berpesan bahwa hanya ada tiga hal yang harus aku ingat dalam menjalani hidup, ridho orang tua, kerja keras dan ibadah. Wejangan ini baru benar-benar aku resapi pada pertengahan tahun 2008 merupakan titik dimana semua proses pendewasaan dimulai. Aku yang sejak kecil sangat menempel dengan ibuku harus berkelana ke Singapura untuk menuntut ilmu. Dengan seragam putih biru masih menempel, aku mantapkan hatiku dan memulai hari-hari baru di negeri ‘seribu satu larangan’ itu.

Meskipun masih satu rumpun dengan Indonesia, Singapura benar-benar mengubah cara pandangku mengenai hidup. Kebiasaan sehari-hari pun berubah seiring dengan waktu. Aku harus belajar mengatur keuanganku sendiri, bertanggung jawab akan pelajaran sendiri karena tidak ada lagi orang tua yang memonitor setiap harinya, dan yang paling sulit, mencoba belajar membagi waktu untuk kehidupan sosial dan edukasi.

Chai Chee Secondary School, itulah nama sekolah menengah tempat aku menghabiskan masa remaja selama di Singapura. Di sekolah pemerintah ini aku bertemu dengan banyak orang inspirasional dari asal yang tidak terduga. Tak hentinya aku mengucapkan syukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Apabila takdir berkata lain, mungkin aku tak akan berada di sini. Mungkin aku masih menjadi anak manja yang tidak bisa jauh dari orang tuanya.

Teman-teman baru yang karakternya sangat beragam, guru-guru dengan cara mereka yang berbeda-beda mewarnai hari-hariku di sana. Aku berkenalan dengan teman sekolah dari Pakistan, Mesir, bahkan Rusia. Latar belakang dan cerita dari mereka membuatku sadar, dunia sangat besar. Banyak hal yang belum pernah aku lihat atau rasakan. Pada saat itulah aku berjanji pada diri sendiri untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya. Tak disangka aku yang sebelumnya hanya kenal toko buku dan mal berubah menjadi seorang petualang yang gemar mencoba hal baru. Selain menyibukkan diri dengan sekolah, aku juga mencari kegiatan di luar sekolah. Salah satunya adalah menjadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Singapura (PPIS).

Dikarenakan jumlah tenaga kerja asal Indonesia yang tidak terhitung lagi di Singapura, Kedutaan Besar di sana bekerja sama dengan PPIS untuk mengadakan program penyuluhan untuk para TKI. Kegiatan seperti workshop motivasional untuk TKW yang terkena kasus penyiksaan dan memberikan pendidikan Bahasa Inggris kepada TKI setiap minggunya adalah beberapa dari berderet kegiatan yang aku kerjakan bersama rekan-rekan di PPIS. Perih rasanya hatiku melihat saudara sebangsa setanah air diperlakukan semena-mena di negeri orang. Pengalaman berharga ini menumbuhkan tekadku untuk memberikan kontribusi nyata dan membuat hidup orang-orang di sekitarku menjadi lebih baik. untuk melayani dan mempraktikkan ilmu yang kudapat di sekolah pada kehidupan sehari-hari. Perlahan tapi pasti, aku mulai bergerak dalam kapasitasku sebagai pelajar untuk merealisasikan cita-cita tersebut.

Di sinilah aku sekarang. Menjadi seorang mahasiswa tingkat satu di bidang ekonomi di University of Melbourne, sekaligus menjadi Kepala Departemen Media dan Komunikasi PPI Australia. Sebelumnya, aku diamanahkan untuk menjadi ketua PPIA ranting Melbourne University. Melayani para anggota salah satu ranting terbesar di Australia bukanlah hal yang mudah, bahkan tergolong banyak tantangannya. Semua masalah yang menghadang aku jadikan pembelajaran, dan inti sarinya aku resapi agar aku bisa menjadi pemimpin dan individu yang lebih baik ke depannya.

Apabila orang bertanya, mengapa aku sangat peduli dengan sesama teman pelajar, jawabanku hanya satu. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri, kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk peduli dengan kita. Tentu saja kita tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan untuk hidup berdampingan. Dengan asas gotong royong, cita-cita yang berskala kecil ataupun besar bisa terwujud. Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 diawali dengan pergerakan para pejuang yang peduli dengan bangsanya, dan bersama-sama melawan penjajah sampai akhir hayat. Begitupun dengan generasi kita yang mempunyai banyak pekerjaan rumah, untuk membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan merdeka dalam arti sesungguhnya. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan dan merdeka dari penyakit yang paling berbahaya dari manusia: ketidakpedulian terhadap sesama.

Mari kita mulai semangat dan tekad ini dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Salam PPIA 🙂

 

*) Penulis adalah mahasiswi jurusan Economy and Finance, University of Melbourne dan bertugas sebagai Kepala Departemen Media dan Komunikasi, PPIA Aktivis 2014-2015

Comment (1)

  1. Nur Hotimah

    setuju banget,”kalau bukan kita siapa lagi?” #sulungJuga 😀

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *