Setiap orang yang menempuh studi di luar negeri pasti memiliki kisah dan motivasi yang berbeda-beda, demikian juga dengan apa yang saya alami hingga saat ini. Berawal dari keinginan saya untuk melanjutkan studi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan seminar dan talkshow tentang studi lanjut yang diselenggarakan di kampus saya semasa kuliah S1. Berbekal beberapa informasi yang saya dapatkan dari kegiatan-kegiatan tersebut, saya menyampaikan keinginan saya pada orang tua saya dan alhamdulilah kedua orang tua saya merestui keinginan tersebut. Awalnya, program profesi dietitian sempat menjadi pertimbangan saya, namun saya urung mengikuti program tersebut karena saya membulatkan tekad untuk mencari beasiswa agar tidak membebani orang tua saya. Apakah saya memilih studi S2 hanya karena alasan biaya? Tentu tidak. Pikiran saya sederhana: dengan menempuh studi master, akan lebih besar peluang untuk ke luar negeri dan saya bisa mengejar cita-cita awal saya waktu itu untuk menjadi akademisi.

Di masa pengerjaan skripsi, saya memulai perjalanan menuju impian untuk studi lanjut. Saya menemui dosen di jurusan saya, yang merupakan alumnus universitas yang saya inginkan. Universitas tersebut, setahu saya, adalah salah satu yang terbaik untuk memperdalam ilmu gizi di Eropa dan cukup banyak senior saya yang sudah melanjutkan studi ke sana. Sejujurnya saya tidak pernah berpikir untuk belajar di Australia, karena banyak orang yang mengatakan bahwa requirements-nya sangat tinggi. Bukan hanya terkait kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga beberapa required courses bagi calon mahasiswa di bidang kesehatan. Belum lagi cerita bahwa Australia Awards Scholarship (AAS), salah satu beasiswa idaman untuk belajar di negeri Kanguru, lebih banyak diberikan pada pegawai negeri atau orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja cukup banyak, bukan fresh graduate seperti saya.

Singkat cerita, saya mendapatkan banyak informasi dari dosen saya tersebut, terutama terkait IELTS dan persyaratan untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri. Beliau juga mengarahkan saya untuk tidak mengejar satu beasiswa dan satu kampus saja, melainkan saya harus mencoba semua peluang yang ada karena kita belum tahu di negara mana rezeki kita berada. Selain itu, hal terpenting untuk mengawali langkah saya adalah menempuh ujian IELTS, tes Bahasa Inggris yang awalnya saya sama sekali tidak tertarik mempelajarinya.

Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tetapi pertemuan saya dengan dosen saya tersebut membawa banyak perubahan dalam cara berpikir saya, khususnya dalam mencari beasiswa. Berdasarkan arahan beliau, saya membuat daftar panjang yang berisi lebih dari sepuluh beasiswa dan kampus potensial yang akan saya apply, lengkap dengan deadline dan persyaratannya. Finally, ada tujuh beasiswa yang saya coba mendaftar, termasuk AAS. Selain itu, satu hal lagi yang membuat saya sangat bersyukur adalah beliau dengan senang hati membantu saya belajar untuk persiapan tes IELTS dan aplikasi beasiswa. Mungkin beliau sudah bisa memprediksi bahwa persiapan saya akan kurang maksimal kalau tidak dibantu, hehehe.

Setelah jatuh bangun menjalani tes IELTS dan mendapatkan Letter of Acceptance dari kampus idaman saya di Eropa tersebut, datanglah rezeki yang tak disangka: email bahwa saya menjadi awardee AAS. Memang saat itu tidak mudah untuk langsung mengganti negara tujuan studi yang sudah terpatri di kepala selama setahun lebih, tetapi inilah jalan yang disiapkan-Nya untuk saya. Alhamdulilah semua rangkaian pre-departure training sudah saya lalui hingga tak terasa saat ini saya akan memasuki semester terakhir saya di University of Queensland (UQ).

Selama perjalanan mendapatkan beasiswa dan menjalani studi lanjut, saya mendapatkan banyak hal yang berarti, namun ada tiga hal utama yang ingin saya bagikan dalam story ini. Pertama, tentu saja banyak pengalaman baru yang didapatkan ketika menempuh studi: mendapatkan teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif. Kedua, sangat penting untuk menguatkan tekad dalam meraih cita-cita dengan diiringi niat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa? Karena pada beberapa contoh yang saya temui, niat yang kurang baik dan tidak adanya restu orang tua seringkali berujung pada keputusasaan dalam mengejar cita-cita untuk melanjutkan studi. Terakhir, jadilah pribadi yang rajin bersyukur karena tidak ada rasa syukur dan keikhlasan yang merugikan, walaupun mungkin butuh waktu yang lama untuk menyadarinya. Meraih impian untuk studi di luar negeri memang tidak mudah, but it’s not impossible.

Salam PPIA!

Hesti Retno Budi Arini

(University of Queensland)

IMG-20180924-WA0014