Sewaktu kecil saya sering berkunjung ke rumah sakit dikarenakan kondisi kesehatan saya yang lemah. Dalam kunjungan saya ke rumah sakit, saya sering bertemu dengan figur dokter yang berwibawa. Saya sangat terpukau saat pertama kali melihat para dokter yang mengenakan pakaian putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Semenjak saat itulah saya termotivasi untuk menjadi salah satu dari mereka.

Waktu saya duduk di bangku SMA, saya mendengar berita bahwa PEMDA (pemerintah daerah) Belu menawarkan beasiswa untuk jurusan dokter umum. Mendengar berita tersebut tentu membuat semangat saya terpacu. Jalan menuju cita-cita saya untuk menjadi dokter umum pun akhirnya terbentang di hadapan saya. Namun, semuanya itu hilang begitu saja saat PEMDA memutuskan untuk melakukan perubahan yaitu jurusan yang akan disponsori dari dokter umum ke dokter hewan dan mitra kerja yang telah disepakati. Ditambah lagi kondisi fisik saya yang lemah, membuat orang tua saya khawatir kalau nantinya saya harus melanjutkan studi saya di Pulau Jawa.

Keputusan saya tentu tidak mudah karena menurut banyak orang ini ialah sebuah kesempatan emas yang seharusnya tidak dilewatkan sebab banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi serupa. Namun,karena dari dulu saya tidak mempunyai inspirasi untuk menjadi dokter hewan,maka tekad saya tentu tidak akan mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain. Hal ini terbukti ketika seorang sosok ayah yang tegas dan disiplin mempertanyakan perihal keputusan tersebut.

Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik merupakan jurusan yang tidak pernah saya pikirkan  sebelumnya. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya dimana ini menjadi titik perubahan pola pikir dan batu lompatan yang mempersiapkan saya menghadapi tantangan yang lebih besar. Mimpi menjadi seorang dokter memang telah kandas akan tetapi mimpi besar lainnya telah berhasil saya raih yaitu melanjutkan Studi Master di University of Melbourne selama 2 tahun dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS).

Tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan kesempatan kuliah Master di Australia. Banyak liku-liku yang saya hadapi mulai dari mengumpulkan informasi perkuliahan di Australia hingga belajar mandiri untuk mendapatkan skor TOEFL yang memadai. Perjuangan untuk meraih mimpi tersebut  menuntut kegigihan dan kesabaran diri selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah mendapatkan gelar sarjana, saya pun memberanikan diri untuk mengajukan salah satu beasiswa bergengsi yang disponsori oleh Pemerintah Australia yaitu AAS. Banyak waktu yang saya habiskan untuk melengkapi formulir aplikasi saat itu. Bahasa Inggris yang pas-pasan tentu menjadi tantangan bagi saya. Namun, saya sangat beruntung karena ada pintu-pintu bantuan yang akhirnya menjadi jalan keluar dalam mengatasi keterbatasan skor TOEFL saya. English Language Training Assistance (ELTA) NTT adalah pintu pertama yang akhirnya mengantarkan saya menjadi pelamar yang layak untuk melamar beasiswa AAS.

Dengan berdiskusi dengan para alumni di Forum Akademia NTT (FAN) melalui kelas Berburu Beasiswa ala FAN, aplikasi saya menjadi semakin tajam. Usaha belakang layar saya tidak berhenti di situ. Saya meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dengan beberapa dosen di jurusan Matematika yang pernah berkesempatan kuliah di negeri Kangguru. Alhasil, berkat pengorbanan tenaga, waktu, dan pikiran ,saya pun berhasil lolos dalam seleksi tahap pertama AAS hingga akhirnya resmi menyandang gelar AAS Awardee 2014 intake.

Menurut saya, mimpi adalah cikal bakal dari segala cerita sukses. Ketika mimpi itu kita pupuk dengan benih usaha dan kerja keras, panen yang melimpah pasti akan kita tuai. Pengorbanan belakang layar akan terasa sangat bernilai ketika puncak mimpi itu berhasil kita tapaki. Percayalah, pemandangan dari puncak ini sangat indah. Walaupun kini saya sudah menyandang gelar sebagai alumni AAS, saya masih mempunyai banyak mimpi yang sudah saya simpan dalam bucket list saya.

Go grab the chance.

Salam,

Seluz Fahik

Australia Awards Recipient 2014

School of Mathematics and Statistics, the University of Melbourne.