Sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas terkemuka di Australia, saya sering berpikir, “Apakah tangga pendidikan yang akan saya raih ini cukup untuk memulai karir saya di dunia pekerjaan nanti?” Berbagai berita tingkat penganguran yang tinggi sering mengganggu pikiran saya. Dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi, saya terinspirasi untuk mencari keunikan saya yang dapat membedakan saya dengan undergraduate lainnya.  Setelah memikirkan berbagai opsi, pilihan saya jatuh kepada berorganisasi. Mungkin beberapa orang akan bertanya mengapa saya memilih untuk meluangkan waktu dan tenaga saya untuk berorganisasi. Tetapi saya berharap, penjelasan yang dibawah ini dapat mengubah cara pandang orang-orang tersebut.

Dari kecil sampai saya duduk di bangku SMA, saya termasuk salah satu murid berprestasi. Saya menggunakan kebanyakan waktu diluar sekolah untuk belajar. Saya merasa bahwa dengan mendapakatkan prestasi yang baik dan menjadi murid yang cemerlang, saya dapat menjadi orang yang bisa membawa dampak positif di dunia ini. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya sadar bahwa pendidikan dan nilai ‘A’ tidak menjamin saya untuk menjadi orang sukses. Cara pandang saya beralih ketika saya mulai menjad murid di University of Melbourne.

Kurikulum di sekolah menengah jelas beda dengan di kuliah. Saya dituntut untuk menjadi lebih mandiri dalam belajar. Di samping itu, saya juga menyadari realita yang penting; cepat atau lambat, mau tidak mau, saya harus bekerja. Bukankah itu tujuan akhir pendidikan? bahwa kita dipersiapkan untuk bekerja. Namun apakah dengan bekerja kita bisa menjadi sukses? Jadi, jaringan atau koneksi memang penting dan bisa menentukan ‘nasib’ di masa depan. Tapi, seperti yang ditulis Hoey pada Inc Asean, “Pendidikan saja tidak cukup menyelamatkanmu dari kerasnya dunia karier. Kamu juga harus punya koneksi yang banyak, agar bisa bersaing dengan orang lain.”

Organisasi adalah sebuah platform yang tepat untuk bertemu dengan orang-orang baru dan mulai berkoneksi. Saya memutuskan untuk bergabung dengan organisasi murid Indonesia yang berada di Australia. Di tahun pertama, saya bergabung dengan PPIA Unimelb dan di tahun kedua saya bergabung dengan PPI Australia. Salah satu pengalaman yang paling membuat saya terpukau ialah ketika saya terpilih menjadi co-project manager. Melalui posisi ini, saya diberi kesempatan untuk memimpin dan menyelenggarakan acara diskusi yang bertema “The Forum”.

Disini saya belajar bahwa di dalam sebuah tim, kita tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri tetapi kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Selain itu saya juga belajar the pentingnya seorang individual yang dapat mengambil keputusan. Tetapi yang paling penting adalah kepuasan yang didapati setelah menyelesaikan sebuah projek. Berorganisasi tidak hanya dapat menambah jaringan dan pengalaman, tetapi berorganisasi memberikan makna di masa kuliah saya.

Estrella Desi Advensia

(Univeristy of Melbourne)