Oleh: Rifqi Satya Adhyasa *)

Selepas kelas 12, sama halnya dengan mayoritas alumni SMA pada umumnya, saya galau dalam memilih jurusan kuliah S1 saya. “Pilih jurusan kuliah ga usah yang susah-susah Qi, pilih aja yang kamu gemari dan sukai,” tutur orangtua saya. “Karena kalau kamu pilih suatu jurusan demi gaji tinggi saja, kamu akan stress dan nggak akan puas dengan hidupmu. Semua profesi bisa bikin kamu sukses, selama kamu jalani dengan sebaik-baiknya dan kasih semuanya. Pilih jurusan yang bisa menonjolkan bakat dan kegemaranmu. Jangan ambil jurusan mainstream cuma karena kamu khawatir nggak dapet pekerjaan. Bila industrinya belum ada, kamu selalu bisa bikin sendiri. Batasan satu-satunya dalam hidup adalah dirimu sendiri.”

“Kamu harus bangga jadi diri sendiri. Ayah sama Ibu bangga kok sama kamu, selama kamu bisa hidup mandiri dan nggak jadi beban hidup orang lain.”

Perkataan bijak di atas ini menginspirasikan saya untuk memilih jalan hidup yang juga tidak kalah anti-mainstream. Tidak seperti kota-kota utama lain di Australia seperti Melbourne, Sydney, Perth, dan Brisbane, Adelaide adalah satu-satunya kota yang belum pernah saya datangi semasa menjalani pendidikan SMP dan SMA di Canberra selama lima tahun. Saya juga belum punya koneksi mahasiswa Indonesia di Adelaide sebelumnya. Sedangkan dari segi demografis, Adelaide juga merupakan kota utama yang memiliki jumlah pelajar Indonesia paling sedikit di Australia.

“Life begins at the end of your comfort zone” (Kehidupan dimulai di luar zona aman kita). Pepatah dari jejaring sosial Instagram inilah yang telah menjadi pedoman saya untuk tidak pernah takut akan berbagai ketidakpastian dalam hidup. Berbekalkan saran dari orang tua, tingkat kenekatan level dewa serta sebuah pepatah pendek dari Instagram, saya putuskan untuk menjalani program S1 jurusan Marketing and Communication di University of South Australia (UniSA), Adelaide. Adelaide bukanlah kota yang terkenal bagi pelajar S1 Indonesia seperti saya. Namun, saya melihat kota ini sebagai tempat yang tepat untuk memperluas wawasan dan menemukan jati diri saya yang sebenarnya.

Sudah banyak hal yang saya pelajari selama berdomisili di Adelaide dua tahun ini. Pertama, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri adalah suatu kesempatan langka. Menurut saya, penting bagi pelajar Indonesia di luar negeri untuk memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan melalui menjalin koneksi internasional yang dapat bermanfaat di masa depan. Tetapi, kenyataannya masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang terjebak dalam “The Indonesian Circle”. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana budaya konservatif di Indonesia sering mengakibatkan rasa takut untuk menjalin silaturahmi dan persahabatan dengan warga asing, serta memperkaya wawasan mengenai berbagai pandangan hidup budaya asing di luar negeri. Ironisnya, sistem pendidikan S1 di Australia bertolak belakang dengan ideologi tersebut.

Semasa kuliah di UniSA, saya sadar bahwa pendidikan di dalam kampus tidak lengkap bila tidak dikolaborasikan dengan membangun pengalaman dan wawasan kerja di luar kampus. Dalam kelas, kita diajarkan teori dan ilmu pokok untuk bekerja di industri sesuai bidang masing-masing, namun proses pembelajaran praktis terjadi justru di luar kampus. Contohnya dengan menjadi sukarelawan, bekerja paruh waktu, mengikuti program penempatan kerja dan juga sesi networking. Lewat hal-hal inilah kita dapat mengimplementasikan berbagai ilmu yang telah kita pelajari di kelas, terhadap praktik di ‘dunia nyata’. Ideologi tersebut memotivasi saya untuk bekerja paruh waktu dalam bidang yang sedang saya tekuni. Walau kuliah adalah prioritas utama saya, saya juga selalu berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional. Sekarang, saya bekerja di dua perusahaan yang berbeda – sebagai staf Marketing and Communication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan sebagai Marketing Ambassador di AUG Global Networks cabang Adelaide.

Semasa hidup, awalnya saya pernah mengira bahwa kesempatan datang kepada orang-orang yang sabar menunggu. Namun pengalaman hidup mandiri selama dua tahun di Australia mengajarkan saya bahwa hal tersebut kurang akurat. Salah satu dosen favorit saya pernah berkata; “Opportunities are often disguised as hard work; that is why most people don’t recognize them”. Maka dalam kehidupan nyata, kesempatan emas datang kepada orang-orang yang berani untuk mengambil resiko untuk keluar dari zona amannya demi menjemput berbagai kesempatan dalam hidupnya. Lebih dari itu, kesempatan datang kepada pribadi yang selalu bersyukur pada semua yang ia miliki, serta mereka yang gigih dan cermat dalam membangun koneksi dan relasi. Yang paling penting, kesempatan datang kepada mereka yang cukup percaya akan impian dan tujuan dalam hidupnya. Faktor-faktor tersebutlah yang membuat saya sadar akan empat nilai-nilai pribadi terpenting dalam hidup saya: integritas, pola pikir terbuka, kreativitas, dan rasa bersyukur.

Poin inilah yang memberikan saya motivasi untuk mengambil berbagai inisiatif untuk membantu pelaksanaan berbagai acara dan program di UniSA. Berbagai kontribusi yang telah saya berikan terhadap UniSA antara lain: bertugas sebagai salah satu Business Mentor di kampus, bertanggung jawab sebagai Promotion Team Member di University of South Australia Student Association (USASA), menjabat sebagai Wakil Ketua PPIA UniSA periode 2015/2016, berpartisipasi dalam Unite Leadership Program 2015 dan Business Career Mentoring Scheme, serta berbagai kesempatan acara volunteering lainya. Berbagai aktivitas tersebut memberikan saya ruang dan peluang untuk berinteraksi dan menjalin koneksi lokal maupun internasional. Hal ini dapat bermanfaat bagi berbagai aspek jangka pendek maupun jangka panjang, dalam bidang personal, sosial maupun profesional dalam hidup saya.

Berbagai pengalaman di Adelaide telah merevolusi cara pandang saya mengenai definisi kesuksesan. Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan, namun kebahagiaanlah yang menjadi kunci kesuksesan. Awalnya, saya kira kesuksesan bisa diukur lewat materi. Namun, saya sekarang berpendapat bahwa kesuksesan dapat diukur dari dampak positif dalam kebahagiaan pribadi sekaligus dampak yang kita berikan kepada orang lain. Saya juga belajar bahwa selama kita masih diberi umur oleh Tuhan, sukses tidak akan ada ujungnya, dan tidak akan pernah ada batasnya – karena sesungguhnya, satu-satunya sekat yang membatasi kita dari sebuah impian adalah rasa takut akan kegagalan yang hanya terpancar dari dalam diri kita sendiri.

 

 

 

*) Rifqi Satya saat ini sedang menekuni program studi Bachelor of Marketing and Communication di University of South Australia, Adelaide. Selain kuliah, Rifqi berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional dan berorganisasi. Hal ini ia raih dengan berpengalaman kerja di dua perusahaan yang berbeda. Saat ini, Rifqi tercatat sebagai staf Marketing and Comunication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan di AUG Global Networks cabang Adelaide sebagai Marketing Ambassador. Selain itu, Rifqi juga bertanggung jawab sebagai Wakil Presiden PPIA University of South Australia, periode 2015/2016 demi mempromosikan budaya nasional Indonesia, serta membentuk wadah silaturahmi internasional untuk seluruh pelajar Indonesia di University of South Adelaide.