Oleh: Frisca Setyorini*)

Sejak saya mulai bekerja dan merantau ke ibukota, aktivitas rutin yang saya lakukan hanya pergi dan pulang kantor dan rumah. Begitu terus setiap hari. Kemacetan di Jakarta membuat saya malas keluar rumah pada akhir pekan. Pastinya membosankan sekali, mengingat sewaktu kuliah dulu saya termasuk sering beraktivitas keluar rumah, melakukan hal positif tentunya.

Sejak kecil, orang tua mengarahkan saya agar aktif menggeluti olahraga dan seni. Menurut mereka, energi saya terlalu berlebihan, sehingga sayang kalau tidak disalurkan ke hal-hal yang positif, hehehe. Sempat bergabung dengan klub renang dan klub basket di kota kelahiran, Surabaya, mulai SMP sampai kuliah saya aktif bergabung di organisasi siswa/mahasiswa berhubungan dengan kesenian maupun olahraga. Masa SMU pun saya warnai dengan bermusik. Saya merasa bermain musik dan bergabung dalam tim olahraga bisa membuat hidup saya lebih berarti. Itu adalah dua hal dari beberapa aktivitas favorit yang membuat saya bahagia.

Sungguh sayang, sejak bekerja justru dua kegiatan tersebut lama saya tinggalkan. Kesibukan dan tempat tinggal teman-teman yang berjauhan menjadi alasan utama. Beruntung, ibu kost saya di Jakarta adalah seorang ustadzah yang aktif di pengajian dan memiliki kelompok rebana. Jadi saya sesekali ikut acara pengajian plus mendengarkan mereka latihan rebana dan berdendang. Kebetulan juga, ibu kost saya ini adalah sahabat Umi Elvi Sukaesih, seorang penyanyi dangdut yang legendaris di Indonesia. Jadilah, jika Umi Elvi hadir, kami semua berlatih bernyanyi sambil bermain rebana. Paling tidak, aktivitas mengaji bersama dan berlatih rebana bisa mengembalikan hobby bermusik yang sudah lama saya tinggalkan. :)

Hingga tibalah saat saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Australia. Australia adalah negara yang tidak pernah terpikir untuk saya datangi. Bahkan dalam mimpi pun tidak. Tetapi justru di Australia saya bertemu kembali dengan pengalaman lama. Pengalaman berorganisasi dan berkesenian. Saat pertama kali datang kemari, saya sudah tertarik dengan organisasi pelajar Indonesia, PPIA. Sebelum kemaripun, saya bergabung dalam mailing list PPIA dan teman-teman di PPIA-lah yang membantu saya mendapatkan tempat tinggal yang hingga saat ini saya tinggali. Saya sangat beruntung dapat bergabung dengan PPIA sejak dini. Pertama kali bergabung di kepengurusan, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Wakil Ketua PPIA ranting The University of Adelaide.

(more…)