Monthly Archive: October 2014

Bersama PPIA: Dahulu, Kini dan Yang Akan Datang

Oleh: Muhammad Taufan*)

Saya dan PPIA

Bagi saya, keterlibatan di PPIA, yang berawal di tingkat ranting di Flinders University, Adelaide, kemudian berlanjut di tingkat cabang South Australia, merupakan hal yang sangat saya syukuri dan banggakan. Ya, saya syukuri karena dapat ikut serta membantu kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelajar dan Indonesia sekecil apapun kegiatannya, dan saya banggakan karena dapat berdiri di antara rekan-rekan yang luar biasa, berasal dari berbagai latar belakang daerah, profesi serta disiplin ilmu, namun memiliki satu semangat untuk membawa manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Hal ini terlepas dari apapun posisi kita di PPIA, usia dan perbedaan jenjang studi yang kita tempuh.

Singkat cerita, selama kurang lebih dua tahun berkecimpung di PPIA tingkat ranting dan cabang sangat banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat diperoleh. Hingga pada bulan Juli 2014, ketika kepengurusan PPIA South Australia, dimana saya dipercaya sebagai wakil ketuanya, akan segera berakhir, datanglah undangan menghadiri Kongres PPIA Pusat yang akan dilaksanakan di Brisbane, Queensland. Menerima informasi tentang adanya Kongres tersebut, hal yang terpikir pertama kali adalah apabila ada uang yang cukup saya ingin datang, jalan-jalan ke Brisbane, dan bertemu rekan-rekan PPIA dari cabang-cabang dan ranting-ranting lain.

Kemudian, mengingat adanya berbagai masukan, termasuk telepon dari Mas Faiz dan dorongan PPIA di South Australia, agar saya memajukan diri sebagai Ketua Umum PPIA Pusat, membuat saya berpikir bagaimana meyakinkan rekan-rekan tersebut, termasuk para peserta Kongres nantinya agar tidak memajukan saya sebagai calon Ketua Umum PPIA Pusat. Namun, dengan pertimbangan yang ada pada saat Kongres dan ‘paksaan’ Mas Faiz, Dudy, dan lainnya, saya bersedia mendampingi Dudy dalam presentasi kandidat Ketua Umum PPIA Pusat 2014-2015. Dari proses yang berjalan, alhamdulillah, telah diperoleh hasil terbaik dengan terpilihnya Dudy sebagai Ketua Umum PPIA Pusat. Tentu saja ini sangat melegakan bagi saya karena terhindar dari amanah yang begitu berat, namun di satu sisi saya juga harus membantu Dudy dengan menyatakan bersedia sebagai Wakil Ketua Umum. Dari sinilah kemudian dimulai babak baru perjalanan saya di PPIA dengan lingkup yang jauh lebih besar.

(more…)

Memayu Hayuning Bawana

Oleh : Tri Mulyani Sunarharum*)

Memasuki akhir bulan Oktober 2014, tepat di hari pertama di tahun baru Hijriyah, kota Brisbane sudah mulai terasa panas meskipun sebenarnya masih belum memasuki musim panas. Sang mentari pun terlihat sangat ceria berbagi cahaya dan energinya pada dunia. Namun, tetap saja kesejukan masih hadir di tengah-tengah kebersamaanku menikmati akhir pekan bersama keluarga tercinta, di sebuah apartemen sederhana yang sudah kami tinggali selama hampir dua setengah tahun.

Pergantian tahun baru Hijriyah ini membuatku merenungkan dan merefleksikan kembali apa yang telah kujalani dalam hidupku, bagaimana aku menjalaninya, dan apa saja yang harus kuperbaiki untuk dapat semakin bertumbuh menjadi insan yang lebih baik. Hmm.. Aku pun tersadar bahwa waktu tak terasa cepat berlalu. Masih banyak tugas-tugas hidup yang belum kuselesaikan. Tugas-tugas yang kumaknai sebagai bagian dari perjuanganku dalam turut memayu hayuning bawana.

Mungkin di antara kita ada yang sudah sering mendengar, namun ada pula yang sama sekali belum pernah mendengar istilah “memayu hayuning bawana”. Apakah arti dan maksudnya? Bila diartikan ke dalam ranah Bahasa Indonesia, memayu hayuning bawana adalah memelihara kelestarian dunia/ alam atau mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia. Ya.. Istilah yang berasal dari Bahasa Jawa ini memiliki makna yang luas dan cukup dalam. Aku pun percaya bahwa manusia diciptakan pasti ada maksudnya, yaitu untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Dan betapa bijaksana Tuhan memberikan peranan yang berbeda-beda pada manusia dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat bersinergi dalam upaya memayu hayuning bawana tersebut. Ada yang menjadi khalifatullah seperti pemerintah, lurah, atau bahkan ketua RT; ada yang menjadi pedagang; menjadi petani; menjadi guru; menjadi peneliti; menjadi pengusaha, dan sebagainya. Dan dari keberagaman peranan itu, kita sekalian adalah pemimpin-pemimpin kecil, khususnya bagi diri kita sendiri.

(more…)

Sampai Saat Kita Bersulang, Tetap Kosongkan Cawanmu, Kawan!

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*)

Rabu, 27 Agustus 2014.

Aku bergegas setengah berlari melewati tanjakan di sepanjang Murphy’s Avenue sebelum menikung ke Braeside Avenue. Jam delapan kurang sepuluh malam AEST, akhirnya aku tiba di rumah. Mampir dapur, menyambar sepiring nasi dan ikan goreng tepung masakan istriku, kembali ke kamar bersama secangkir teh panas, tak lupa kucium kening istri setelah diciumnya tanganku. Kunyalakan laptop dan mulai login Skype, aplikasi video-call yang baru saja semalam ku-install agar dapat turut rapat kerja online dengan Departemen Media dan Komunikasi PPIA.

Koneksi tersambung! Tak sampai sepeminuman teh kemudian, undangan konferensi masuk. Rapat kerja dimulai. Ini adalah rapat kerja kali kedua bagi Depmedkom, tapi pertama kali bagiku, karena pada rapat Upgrading sebelumnya aku berhalangan, masih di kereta dalam perjalanan pulang dari kelas akhir pekan di kampus UOW-Sydney Business School. Agenda rapat kali itu adalah pembagian peran serta program kerja. Depmedkom memiliki empat bidang. Content dan Creative digawangi oleh Putu Dea Kartika Putra, dibantu Edwin Tang, Arrizki dan Syifa Puspasari. Public Relations menjadi tugas Felix Chandra bersama Gregorius Abanit dan Nadeen Samira. Ridho Nur Imansyah dan Erlangga Satria Gama berperan krusial di bidang Information Technology dan bertanggung jawab mengelola situs resmi PPIA. Adapun ‘Mas’ Andri Sinaga, ‘Mas’ Aga Maulana dan aku ditunjuk sebagai Media Relations Officers. Selain itu, ditetapkan sembilan program kerja utama yang meliputi Radio PPIA, Newsletter PPIA, Manajemen Sosial Media, Manajemen Website, Video Ucapan Hari Besar, Majalah Aktivis, Press Release, Design Poster dan Flyer, serta Diary PPIA Aktivis. Rapat berjalan dinamis dan hangat. Aku terkesan dengan potensi dan kinerja teman-teman baruku. Semangat dan optimisme mereka kuresapi. Bak disuntik darah segar, aku senang bisa lebur bersinergi, serasa jadi muda lagi.

(more…)

Do It Now : Sometimes “Later” Becomes “Never”

Oleh : Kartika Sari Henry *)

1 Agustus 2014.

Tepat satu bulan setelah saya datang ke Melbourne – kembali lagi jadi pelajar dan untuk pertama kalinya bersekolah di luar Indonesia. Saya melihat PPIA Pusat membuka pendaftaran anggota untuk periode kepengurusan 2014-2015 melalui Facebook. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu tentang apa yang sudah dilakukan oleh PPIA Pusat. Hal menarik pertama yang saya temukan adalah PPIA Pusat mengoordinasi pengumpulan dan penyaluran 1-2 ton buku dalam beberapa tahun terakhir untuk anak-anak Indonesia. Bagi saya, jumlah tersebut BESAR sekali dan menunjukkan tindakan nyata. Walaupun berada di luar negeri, kita tetap dapat berkontribusi bagi Indonesia. Saya pun mulai membaca satu persatu program PPIA Pusat dan semakin tertarik untuk bergabung. Tetapi…

Terpikir sederet pertanyaan sebelum mendaftar, antara lain:

(more…)

Kemahasiswaan Indonesia di Australia

Oleh : Agdiosa Manyan*)

Banyak orang berharap untuk mengenyam pendidikan di luar Indonesia. Saya pun tidak terkecuali, namun dari sisi lain saya juga ingin merasakan pendidikan tinggi di Indonesia, untuk mengetahui perbedaan mendasar dari segi pendidikan yang membentuk para lulusannya. Salah satu jalan untuk memenuhinya adalah program double degree yang dimiliki oleh Universitas Indonesia. Dua tahun dijalani di UI dan dua tahun selanjutnya di universitas mitra di luar negeri.

Berawal dari situ, saya pun memulai dua tahun pertama perkuliahan saya di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin. Saya merasakan kerasnya iklim pembinaan yang diterapkan oleh Fakultas Teknik. Iklim yang menurut banyak orang ketinggalan jaman karena dipenuhi oleh teriakan, baris-berbaris dan tugas-tugas bertumpuk yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Tentu saja semuanya memiliki maksud, membentuk pribadi saya yang sekarang, yang tahan oleh semua tekanan mental yang lahir dari kehidupan perkuliahan.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menemukan ketertarikan pada kehidupan di luar kelas yang jenuh, salah satunya adalah kehidupan organisasi kemahasiswaan. Langsung aktif pada tahun pertama, saya tergabung pada Ikatan Mahasiswa Program Internasional BEM FTUI dan aktif pada banyak kegiatan, mulai dari diskusi, olahraga, sosial, pergerakan mahasiswa dan salah satunya adalah ikut dalam aksi menuntut turunnya Gumilar Rusliwa Sumantri, Rektor UI pada saat itu, yang dijerat kasus korupsi Perpustakaan Pusat UI. Begitu luar biasa bila mengingat bagaimana negara kita dapat diubah melalui reformasi yang diawali dari pergerakan mahasiswa, bagaimana saya harus bisa menjalankan peran sebagai mahasiswa yang tidak hanya belajar namun dapat memberikan pengabdian kepada masyarakat.

(more…)

Kesempatan Baru, Tantangan Baru

Oleh : Erlangga Satria Gama*)

Tantangan tersendiri untuk saya menulis ini. Bahasa program yang dibilang aneh lebih mudah buat saya daripada menulis dengan kata-kata halus dan tertata. Pukul 21.19 di Melbourne saat saya mulai menulis untuk pertama kalinya untuk Diary PPIA Pusat, salah satu project dari Departemen Media dan Komunikasi, di mana saya ditugaskan sebagai IT Officer bersama dengan Mas Ridho Nur Imansyah.

Ada beberapa program yang harus saya kerjakan untuk website PPIA. Salah satu yang paling penting adalah desain. Mas Dudy, Ketua PPIA Pusat ingin agar website kami bisa diubah tampilannya karena tampilan yang ada sekarang dianggap sudah terlalu ‘lama’ dan butuh upgrading. Saya masih ingat saat saya bertugas sebagai webmaster untuk PPIA Ranting University of Melbourne, website PPIA Pusat adalah salah satu website yang saya jadikan inspirasi. Sekarang saya yang harus bekerja untuk merombak tampilan dan fitur dari website ini. Merombak tentunya bukan hanya untuk beda, tapi lebih baik.

Tentunya saya sadar ini bukan hal yang mudah, tapi dilihat dari sisi positifnya, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk bisa belajar dan meng-explore lebih lagi, kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang, kesempatan untuk tahu sejauh mana kemampuan saya. Kesempatan yang saya yakin belum tentu datang lagi nanti, karena kesempatan mirip dengan waktu, tidak bisa diulang. Bedanya, kesempatan itu kadang terlihat dan kadang tidak. Kadang sudah dekat, tapi tidak terasa kehadirannya. Mumpung mata ini dibukakan, maka saya mantap memberikan semaksimal mungkin untuk PPIA, meskipun kesulitannya sangat terasa.

(more…)

Perjalanan Panjang untuk Terus Menjadi Lebih Baik

Oleh: Puteri Anetta Komarudin*)

Menjadi anak pertama memang tidak mudah. Terlahir sebagai putri pertama dari tiga bersaudara membuatku sering menjadi ‘kelinci percobaan’, dan tentunya diharuskan untuk menjadi contoh yang baik untuk kedua adikku. Sering kali, aku membayangkan apa yang akan terjadi apabila aku terlahir setelah saudaraku. Mungkin motivasiku untuk berjuang tidak akan sekeras ini. Keinginan terbesarku dalam hidup adalah untuk membuat orang tuaku tersenyum bangga melihat pencapaianku, dan sampai saat ini aku masih dalam perjalanan panjang untuk itu.

Berasal dari keluarga pejuang, aku menyaksikan betapa kerasnya hidup serta semangat juang ayah ibu yang tak pernah padam hingga hari ini. Memulai hidup dari nol memang tidak mudah, tetapi orang tuaku telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Ayahku datang dari keluarga petani di sebuah desa kecil di Jawa Barat, sedangkan ibu datang dari keluarga pegawai negeri yang hidupnya berpindah-pindah sejak kecil. Takdir yang mempersatukan mereka dan takdir juga yang mengijinkan mereka untuk mencapai kesuksesan.

(more…)

Mengawal Bagai Kanal, Biar Deras Air Mengalir

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*)

Suatu malam di penghujung bulan Agustus, dalam perjalanan pulang dari kampus, berjalan seorang diri melintasi tepi Botanic Garden yang gelap sepi, aku menerawang memandang angkasa, dan benak mulai bertanya: Tuhan, mengapa Kau mengirim aku ke tempat ini? Sejenak kemudian aku tersenyum. Ilham itu datang bagai belai angin mengabarkan: Jalani saja takdirmu, dan kau kelak akan temukan jawabnya.

Jalan hidup manusia tak pernah bisa diterka. Setiap insan pasti punya cerita. Dan Tuhan sebaik-baiknya penulis skenario sekaligus sutradara. Karena itu, percaya saja, pasti ada hikmah di balik setiap kisah. Jadi hilangkan resah, usah gelisah, sebab sudah tiba saatnya kembali ke sekolah (dan tak perlu lagi malu pada semut merah berbaris di dinding.)

Aku pernah muda, belum tua, baru beranjak dewasa. Tiga puluh empat tahun usiaku. Usia yang matang, begitu kata orang. Mungkin sedikit terlambat untuk kembali jadi “anak kuliah”, setelah sembilan tahun menunggu datangnya kesempatan itu, namun lebih baik terlambat daripada tidak pernah terlambat. Aku tak pernah menyesal meski sudah empat kali gagal! Acapkali hanya hampir, cuma mampir, aku tidak putus asa, bangkit, kembali mencoba! Sebab aku percaya, kekuatan doa sanggup mengubah takdir, dan tiap sesuatu ada masanya, kesungguhan dan kesabaran pasti ada buahnya.

(more…)