Diary

Great Things Never Came from Comfort Zones

 

Berada jauh dari negara asal dan harus beradaptasi di negara yang kita tidak familiar jelas merupakan sebuah tantangan. Tidak pernah terpikir dari bangku SMA kalau pada akhirnya saya akan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Pertama kali menginjakkan kaki di Canberra, satu hal yang terpikir adalah “Mengapa kota ini begitu sepi?” Hahaha. Dibandingkan dengan Jakarta, Canberra bisa dibilang bukanlah pilihan yang tepat untuk anak yang terbiasa dengan kehidupan di Jakarta. Namun melalui kota inilah saya banyak belajar dan saya bertumbuh menjadi diri saya  sekarang.

Sempat merasa menyesal dengan keputusan saya karena memilih untuk melanjutkan di kota Canberra, namun melalui organisasi PPIA inilah saya merasa beruntung bisa belajar di kota Canberra. Saya cukup aktif dalam organisasi PPIA dari awal saya masuk university. Awal mulanya, keinginan bergabung di PPIA ANU dikarenakan adanya rasa senang di dalam hati di saat bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Namun setelah bergabung, saya merasa organisasi ini sangatlah penting. Selain mengobati rasa rindu akan rumah, kita juga bisa memberikan kontribusi positif sebagai mahasiswa dan sebagai orang Indonesia. Maka dari itu, hingga hari ini saya masih aktif dalam organisasi PPIA ini. Selain di PPIA ANU, saya juga pada akhirnya memutuskan untuk bergabung PPIA cabang Australian Capital Territory (PPIA ACT). Menariknya, memang pada waktu itu saya sudah mempunyai minat untuk bergabung dalam PPIA ACT, tapi saya tidak menyangka akan bergabung di posisi sekretaris dan dengan cara seperti itu.

Beberapa hari setelah terpilihnya Welhelmus Poek atau yang lebih dikenal sebagai Mas Mus sebagai president PPIA ACT 2018-2019, sekitar jam 6 pagi saya menerima permintaan pertemanan dari Mas Mus di Facebook saya. Dikarenakan Canberra tergolong kota kecil, kita dengan mudah mengetahui kabar terpilihnya Mas Mus. Lalu setelah saya menerima permintaan pertemanan dari dia, saya mengirim pesan untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi President PPIA ACT. Setelah itu kami berbincang dan saya menawarkan diri saya untuk menjadi kepala bagian di divisi minat, bakat, dan keterampilan. Lalu saya ingat Mas Mus menjawab “Wah aku senang kalau ada anak muda kayak kamu, I will give one strategic position to you.” Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan Mas Mus untuk membicarakan posisi di PPIA ACT dan saya sempat bimbang saat ditawarkan untuk memilih antara posisi sekretaris atau kepala bagian divisi minat, bakat, dan keterampilan. Sejujurnya, saya sedikit takut jika saya memilih menjadi sekretaris saya hanya belajar hal administrasi-administrasi saja. Namun pada waktu itu, Mas Mus bilang ke saya kalau ini merupakan posisi yang strategis kalau kamu mau belajar banyak.  Saya bersyukur saya mengambil keputusan untuk mengambil posisi sekretaris ini, karena saya benar-benar belajar banyak. Mulai dari bertemu dengan orang-orang penting dan juga mengkoordinir acara-acara Indonesia di Canberra dan juga antar negara bagian.

Selain itu, berada di ibukota Australia yang merupakan pusat pemerintahan Australia merupakan suatu privilege bagi saya sebagai pengurus PPIA. Kedutaan Besar Indonesia yang terletak di Canberra cukup memudahkan bagi kami sebagai pengurus PPIA ACT untuk berkomunikasi dengan Duta Besar Indonesia di Australia dan pejabat-pejabat lainnya. Salah satu yang membuat saya terkesan atas privilege bisa belajar dan berorganisasi di PPIA ACT ini adalah ketika Konselor Menteri Penerangan, Sosial, dan Budaya secara personal memuji kinerja saya. Sebagai mahasiswa, pujian itu sangat berarti dan membuat saya sendiri termotivasi untuk berkembang dan berkontribusi lebih lagi. Dari PPIA, saya banyak belajar mengenai leadership, teamwork, dan juga dalam hal time management, khususnya di saat saya diharuskan untuk bijak dalam membagi waktu untuk mengerjakan assignment dan mengkoordinir keberlangsungan kegiatan PPIA.

Seperti yang tertera pada judul, saya percaya “Great things never came out from comfort zone.” Jadi melalui tulisan ini, saya ingin mendorong kalian, di mana pun kalian berada dan ditempatkan, always challenge yourself dan jangan takut untuk berkontribusi lebih! Apalagi untuk Indonesia!

Salam PPIA!

October

Joshlyne Edwina

(Australian National University)

Petualangan yang Berawal dari Mimpi

Saat masih di bangku SMA mungkin kita pernah menuliskan mimpi kita untuk melanjutkan kuliah di universitas mana. Beberapa orang mungkin tidak percaya dengan hal ini karena apalah arti dari sebuah tulisan di kertas yang ditempel di dinding kelas. Termasuk saya, bahkan setiap kali saya disuruh untuk menuliskan cita-cita mau ke mana selanjutnya , saya tidak pernah serius untuk menulisnya. Oleh karena itu saya selalu menulis akan melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Australia. Sejujurnya saya juga tidak tau apa motivasi saya untuk menuliskan cita-cita yang bahkan pada saat itu saya cuma menganggap sebagai mimpi saja, karena tidak ada yang salah dengan mimpi. Tetapi dengan berjalannya waktu, setiap kali melihat tulisan tersebut, hati kecil saya selalu meminta untuk mewujudkannya. Alhamdulillah dengan doa dan dukungan orang tua, mimpi saya terwujud, saya berhasil sampai di University of Wollongong (UoW). Di sinilah petualangan itu dimulai.

Sebelum masuk Uni, saya harus mengikuti college Bahasa Inggris selama 6 minggu di UoW. Tidak memiliki kerabat atau orang yang saya kenal di Wollongong, saya memutuskan untuk mengontak PPIA UoW. Terima kasih untuk Mas Aan, President PPIA UoW waktu itu (tahun 2015), yang mau membantu saya untuk mencarikan rumah dan bahkan saat pertama kali sampai, beliau membantu saya untuk pergi membeli barang yang saya butuhkan sembari mengajak keliling kota Wollongong. Saat itu saya masih pemalu karena masih baru dan jadinya merasa kesepian karena tidak memiliki teman, lalu saya diajak main dan mulai berkenalan dengan teman-teman lainnya dan juga keluarga besar PPIA UoW.

Lalu tahun pertama saya di Uni dimulai, saat itu saya sudah pindah ke Sydney karena kelas yang saya ikuti memang berada di Sydney bukan di Wollongong. Di Sydney saya tinggal di rumah wakaf yang juga berfungsi sebagai musholla milik salah satu komunitas muslim di Sydney. Tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di luar kesibukan perkuliahan. Tugas, buku, dan angka mungkin teman dekat yang saya punya. Jarang ada waktu untuk nongkrong seperti saat masih di Indonesia, paling hanya beberapa kali saja karena memang teman kampus saya hanya ada sekitar 32 orang dan itu pun setelah kelas mereka langsung pulang karena kebanyakan dari mereka berasal atau tinggal diluar kota Sydney. Jadi ya saya lebih banyak aktif dan berteman dengan komunitas. Rata-rata mereka semua telah berkerja dan berkeluarga. Sebagai anak muda pastilah ingin mencari teman sebaya dan merasakan ‘Sydney’ tetapi masih belum kesampaian. Mungkin hanya keliling kota untuk menghapus rasa bosan. Untungnya saya berkenalan dengan seseorang yang kita sering jalan bareng. At least saya ada teman ngobrol dan curhatlah. Oleh dia, saya akhirnya berkenalan dengan anak-anak PPIA kampus lain yang ada di Sydney.

Tahun kedua, petualangan ini saya lanjutkan dengan memutuskan untuk pindah ke kampus utama di Wollongong. Salah satu alasanya adalah saya ingin merasakan kehidupan kampus yang sebenarnya karena kampus yang di Sydney hanya kampus satelit atau cabang dari UoW. Kembali ke Wollongong, saya tinggal di Dallas House, rumah legendnya mahasiswa Indonesia di Wollongong. Karena saya ingin merasakan kehidupan kampus di luar negeri seperti di film-film, saya memutuskan petualangan ini untuk melakukannya dengan ‘STUDY HARD, PLAY HARD’.

Sibuk dengan tugas, essay dan dikejar deadline. Saya masih sempat untuk menikmati kehidupan dengan teman-teman, main game bareng dan melakukan hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah saya pikirkan untuk melakukannya. Selain itu juga ada drama-drama klasik seperti pertemanan dan percintaan yang turut mewarnai petualangan ini.

Lalu saya juga mulai aktif di PPIA UoW dan saat ini juga di PPIA Pusat. Belajar berorganisasi dari orang – orang hebat dan menambah networking sangat berarti bagi saya. Hingga satu waktu saya pernah termenung mengingat apa saja yang telah saya lalui dalam petualangan saya  selama ini.

Dulu yang hanya sebatas mimpi yang saya tempel di dinding kelas, entah bagaimana mengantarkan saya berdiri dan bertualang di benua Australia. Bertualang mencari ilmu dengan dosen terbaik, bertemu dengan beragam macam orang dan pengalaman baik yang enak maupun tidak enak, telah emberi saya pelajaran yang beguna untuk masa depan. Tidak hanya dalam konteks studi tetapi juga dalam kehidupan.

Di situ saya percaya, bahwa mimpi bisa jadi nyata. Mimpi yang dulu saya tidak anggap serius saja bisa jadi nyata. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi-mimpi itu akan membawamu pada petualangan yang luar biasa!

20180917_120630

Fuad Alghani

(University of Wollongong)

Ketika Saya Memilih Jalan yang Sulit

35721691_10212281620304283_3429017840911384576_n

Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk melanjutkan studi Strata 2 (Master), walau harus melewati berbagai drama kehidupan. Yah, seperti yang Allah firmankan dalam Alquran, “Innamal khayatud dunya la’ibuw wa lahwun…”, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Oke, gak nyambung.

Kok jalan yang sulit? Hmmm… Gimana yah. Tahun 2012 saya menjadi sarjana dan mulai memasuki jenjang karir pada dunia kerja. Dari tahun itulah saya mulai menikmati uang hasil kerja sendiri dengan hasil yang ‘proper’. Uang hasil kerja saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Yah, untuk modal membangun keluarga kelak. Walau sampai sekarang gak nemu-nemu juga yang cocok, wkwkwkwk… Di saat kondisi seperti itu, mungkin sebagian orang mungkin lebih memilih karir dan kehidupan yang settle, daripada kembali ke bangku kuliah, ngekos lagi, ngerjain tugas lagi, dan sederet kegiatan mahasiswa lainnya. Namun, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Saya sadar, tak ada yang menjamin 100% bahwa dengan saya kuliah, saya akan menjadi pribadi yang saya cita-citakan. Tak ada. Tak ada garansi bahwa kondisi finansial saya akan menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya masih kerja dulu. Tak ada. Namun, saya ambil resiko itu. Bukankah hidup itu pengorbanan? Bukankah untuk menggapai bintang kita harus berusaha dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Tidak menjamin berhasil memang. Tapi tidak melakukan apa-apa akan menjamin kita untuk gagal meraih mimpi. Takkan lari gunung kau kejar, tapi takkan sampai bila tak kau daki. Begitu kira-kira.

Lah, emangnya apa sih yang mau dicari dari belajar Master? Mau jadi dosen? Enggak, sih. Soal alasan mendasar untuk melanjutkan jenjang Master kayaknya bakal perlu kisah dengan judul tersendiri, deh. Gak cukup kalo diceritakan di sini, hehehe…

Anyway, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa saya agak terlambat mengambil jenjang Master ini. Mungkin benar juga sih, hahaha… Banyak teman-teman saya yang kini sudah mengambil jenjang Doktoral di luar negeri, beasiswa pula. Bahkan adik kelas saya sudah banyak yang menyandang gelar Master. Yang tak melanjutkan kuliah pun banyak yang sudah melanglang buana, berkeliling dunia, dan memberi kontribusi kepada manusia dengan prestasinya yang berjuta. Saya? Kuliah S2 saja baru mau mulai. Tertinggal banyak langkah nampaknya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Ngapain sih lu, pake S2-S2 segala. Kawin dulu, lu tuh dah tua tauk!” Jlebbb… Hikss, tak apalah, kan katanya tiap orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri (ini lebih ke arah “menghibur diri” sih, wkwkwk…). Yah apapun itu, semoga kedepannya saya masih diberi kesempatan untuk berhasil dan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW, “khoyrunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin. Yang baca bilang aamiin juga donk, hahaha…

Well, sebenarnya ide untuk melanjutkan studi master sudah ada dari dulu. Bahkan sebelum saya masuk kuliah Strata 1 (Bachelor). Namun, mimpi ini sempat terkubur dan terlupakan selama bertahun-tahun. Awalnya saya berkeinginan untuk kuliah di Inggris, dan praktis Chevening menjadi sorotan saya. Sayangnya, beasiswa bergengsi ini mensyaratkan pelamar harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun. Oh ya sudah, kerja dulu lah. Begitu pikir saya. Dan ternyata, saya keterusan bekerja hingga 5 tahun. Kemampuan Bahasa Inggris? Jangan ditanya, degradasi dimana-mana. Hingga pada pertengahan 2016, saya azzamkan hati untuk menggali kembali mimpi yang sudah tertimbun rutinitas harian. Saya mulai bergabung dengan Indonesia Mengglobal dan belajar banyak tentang dunia scholarship termasuk academic writing bersama mentor saya waktu itu. Bulan Desember 2016 saya putuskan untuk mengambil unpaid leave dari perusahaan agar saya bisa belajar IELTS. Dan saya memilih Pare Kampung Inggris sebagai tempat pertapaan saya.

Singkat cerita, setelah melalui drama ini dan itu (dramanya juga bisa dibikin cerita tersendiri, loh, hahaha…), saya memilih Monash University sebagai tempat tujuan belajar dan Master of Business Information System sebagai subjek studi, bukan kampus-kampus kenamaan di UK. Saya pun ambil tes IELTS dengan modal hasil belajar di Pare, buat essay lalala lilili, translate ijazah ke dalam Bahasa Inggris dengan bantuan penerjemah tersumpah. Setelah dokumen untuk mendaftar kampus dirasa lengkap, termasuk transkrip IELTS, saya apply tujuan studi yang saya minati itu dengan bantuan IDP. Setelah mendapat Unconditional Offer Letter, saya memupuk kepercayaan diri saya untuk mendaftar beasiswa LPDP reguler. Dan, alhamdulillah, tahap demi tahap berhasil saya lalui. Dengan kemudahan dari-Nya, wejangan-wejangan teman dan mentor, dan doa-doa dari keluarga tercinta, saya dinyatakan lulus. Sampailah saya di sini sekarang, Melbourne yang katanya kota pendidikan. Salah satu kota ternyaman untuk ditinggali di muka bumi. Katanya.

Jalan perjuangan masih panjang, dan itu harus saya lalui. Mungkin tidak semudah jalan waktu saya bekerja dulu, tapi Allah berfirman, “Inna ma’al ‘usri yusroo”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Oleh karena itu, saya mohon doa para pembaca sekalian yang budiman agar saya memperoleh ilmu yang bermanfaat, berhasil meraih apa yang saya cita-citakan, dan mampu memberi kontribusi yang nyata kepada masyarakat di manapun saya berada. Dan semoga doa-doa yang pembaca panjatkan juga kembali kepada diri pembaca sekalian.

Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasku dan atas orang-orang yang menuntut ilmu dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan jalan kami payah dan bermasalah, Aamiin…

Salam sukses!

Yugo P. Ananda, Melbourne, 20180619

Sebuah Mimpi yang Pernah Kandas.

Sewaktu kecil saya sering berkunjung ke rumah sakit dikarenakan kondisi kesehatan saya yang lemah. Dalam kunjungan saya ke rumah sakit, saya sering bertemu dengan figur dokter yang berwibawa. Saya sangat terpukau saat pertama kali melihat para dokter yang mengenakan pakaian putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Semenjak saat itulah saya termotivasi untuk menjadi salah satu dari mereka.

Waktu saya duduk di bangku SMA, saya mendengar berita bahwa PEMDA (pemerintah daerah) Belu menawarkan beasiswa untuk jurusan dokter umum. Mendengar berita tersebut tentu membuat semangat saya terpacu. Jalan menuju cita-cita saya untuk menjadi dokter umum pun akhirnya terbentang di hadapan saya. Namun, semuanya itu hilang begitu saja saat PEMDA memutuskan untuk melakukan perubahan yaitu jurusan yang akan disponsori dari dokter umum ke dokter hewan dan mitra kerja yang telah disepakati. Ditambah lagi kondisi fisik saya yang lemah, membuat orang tua saya khawatir kalau nantinya saya harus melanjutkan studi saya di Pulau Jawa.

Keputusan saya tentu tidak mudah karena menurut banyak orang ini ialah sebuah kesempatan emas yang seharusnya tidak dilewatkan sebab banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi serupa. Namun,karena dari dulu saya tidak mempunyai inspirasi untuk menjadi dokter hewan,maka tekad saya tentu tidak akan mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain. Hal ini terbukti ketika seorang sosok ayah yang tegas dan disiplin mempertanyakan perihal keputusan tersebut.

Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik merupakan jurusan yang tidak pernah saya pikirkan  sebelumnya. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya dimana ini menjadi titik perubahan pola pikir dan batu lompatan yang mempersiapkan saya menghadapi tantangan yang lebih besar. Mimpi menjadi seorang dokter memang telah kandas akan tetapi mimpi besar lainnya telah berhasil saya raih yaitu melanjutkan Studi Master di University of Melbourne selama 2 tahun dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS).

Tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan kesempatan kuliah Master di Australia. Banyak liku-liku yang saya hadapi mulai dari mengumpulkan informasi perkuliahan di Australia hingga belajar mandiri untuk mendapatkan skor TOEFL yang memadai. Perjuangan untuk meraih mimpi tersebut  menuntut kegigihan dan kesabaran diri selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah mendapatkan gelar sarjana, saya pun memberanikan diri untuk mengajukan salah satu beasiswa bergengsi yang disponsori oleh Pemerintah Australia yaitu AAS. Banyak waktu yang saya habiskan untuk melengkapi formulir aplikasi saat itu. Bahasa Inggris yang pas-pasan tentu menjadi tantangan bagi saya. Namun, saya sangat beruntung karena ada pintu-pintu bantuan yang akhirnya menjadi jalan keluar dalam mengatasi keterbatasan skor TOEFL saya. English Language Training Assistance (ELTA) NTT adalah pintu pertama yang akhirnya mengantarkan saya menjadi pelamar yang layak untuk melamar beasiswa AAS.

Dengan berdiskusi dengan para alumni di Forum Akademia NTT (FAN) melalui kelas Berburu Beasiswa ala FAN, aplikasi saya menjadi semakin tajam. Usaha belakang layar saya tidak berhenti di situ. Saya meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dengan beberapa dosen di jurusan Matematika yang pernah berkesempatan kuliah di negeri Kangguru. Alhasil, berkat pengorbanan tenaga, waktu, dan pikiran ,saya pun berhasil lolos dalam seleksi tahap pertama AAS hingga akhirnya resmi menyandang gelar AAS Awardee 2014 intake.

Menurut saya, mimpi adalah cikal bakal dari segala cerita sukses. Ketika mimpi itu kita pupuk dengan benih usaha dan kerja keras, panen yang melimpah pasti akan kita tuai. Pengorbanan belakang layar akan terasa sangat bernilai ketika puncak mimpi itu berhasil kita tapaki. Percayalah, pemandangan dari puncak ini sangat indah. Walaupun kini saya sudah menyandang gelar sebagai alumni AAS, saya masih mempunyai banyak mimpi yang sudah saya simpan dalam bucket list saya.

Go grab the chance.

Salam,

Seluz Fahik

Australia Awards Recipient 2014

School of Mathematics and Statistics, the University of Melbourne.

BEHIND THE SCENE

Sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas terkemuka di Australia, saya sering berpikir, “Apakah tangga pendidikan yang akan saya raih ini cukup untuk memulai karir saya di dunia pekerjaan nanti?” Berbagai berita tingkat penganguran yang tinggi sering mengganggu pikiran saya. Dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi, saya terinspirasi untuk mencari keunikan saya yang dapat membedakan saya dengan undergraduate lainnya.  Setelah memikirkan berbagai opsi, pilihan saya jatuh kepada berorganisasi. Mungkin beberapa orang akan bertanya mengapa saya memilih untuk meluangkan waktu dan tenaga saya untuk berorganisasi. Tetapi saya berharap, penjelasan yang dibawah ini dapat mengubah cara pandang orang-orang tersebut.

Dari kecil sampai saya duduk di bangku SMA, saya termasuk salah satu murid berprestasi. Saya menggunakan kebanyakan waktu diluar sekolah untuk belajar. Saya merasa bahwa dengan mendapakatkan prestasi yang baik dan menjadi murid yang cemerlang, saya dapat menjadi orang yang bisa membawa dampak positif di dunia ini. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya sadar bahwa pendidikan dan nilai ‘A’ tidak menjamin saya untuk menjadi orang sukses. Cara pandang saya beralih ketika saya mulai menjad murid di University of Melbourne.

Kurikulum di sekolah menengah jelas beda dengan di kuliah. Saya dituntut untuk menjadi lebih mandiri dalam belajar. Di samping itu, saya juga menyadari realita yang penting; cepat atau lambat, mau tidak mau, saya harus bekerja. Bukankah itu tujuan akhir pendidikan? bahwa kita dipersiapkan untuk bekerja. Namun apakah dengan bekerja kita bisa menjadi sukses? Jadi, jaringan atau koneksi memang penting dan bisa menentukan ‘nasib’ di masa depan. Tapi, seperti yang ditulis Hoey pada Inc Asean, “Pendidikan saja tidak cukup menyelamatkanmu dari kerasnya dunia karier. Kamu juga harus punya koneksi yang banyak, agar bisa bersaing dengan orang lain.”

Organisasi adalah sebuah platform yang tepat untuk bertemu dengan orang-orang baru dan mulai berkoneksi. Saya memutuskan untuk bergabung dengan organisasi murid Indonesia yang berada di Australia. Di tahun pertama, saya bergabung dengan PPIA Unimelb dan di tahun kedua saya bergabung dengan PPI Australia. Salah satu pengalaman yang paling membuat saya terpukau ialah ketika saya terpilih menjadi co-project manager. Melalui posisi ini, saya diberi kesempatan untuk memimpin dan menyelenggarakan acara diskusi yang bertema “The Forum”.

Disini saya belajar bahwa di dalam sebuah tim, kita tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri tetapi kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Selain itu saya juga belajar the pentingnya seorang individual yang dapat mengambil keputusan. Tetapi yang paling penting adalah kepuasan yang didapati setelah menyelesaikan sebuah projek. Berorganisasi tidak hanya dapat menambah jaringan dan pengalaman, tetapi berorganisasi memberikan makna di masa kuliah saya.

Estrella Desi Advensia

(Univeristy of Melbourne)

 

Mengejar Kebahagiaan yang Dapat Diterima Diri Sendiri

IMG_0354

 

Sebenarnya apa sih yang perlu manusia lakukan selama hidupnya? Menurut saya, setiap pribadi perlu berjuang untuk mengejar kebahagiaannya dengan cara yang bisa diterima oleh dirinya sendiri, bukan yang bisa diterima oleh lingkungan. Terdengar klasik yah, tapi itulah yang selalu saya pegang untuk terus bahagia. Saya tidak pernah kecewa dengan konsep hidup tersebut – karena dari hal tersebut, saya bisa berdiri di mana saya sekarang.

Nama saya Marvin Lucky. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen. Kenapa saya memulai dengan informasi ini? Karena saya bangga dengan kondisi saya saat ini. Saya menjalani masa perkuliahan saya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Dari sanalah, rasa cinta saya pada Republik Indonesia ini terpupuk dan bertumbuh. Semakin banyak saya tahu tentang pertanian Indonesia, semakin saya ingin menjadi bagian dalam perkembangan bangsa. Apakah latar belakang saya membuat saya mundur? Tentu tidak. Saya mengerti dan sadar, menjadi pejuang pertanian dengan latar belakang sebagai mahasiswa Indonesia-Tionghoa bukan hal yang lumrah. Dimana sebagian besar lebih tertarik menjadi seorang pebisnis, saya mencoba untuk bertahan dengan idealisme ini.

 

Sempat hampir menyerah dengan idealisme tersebut, Tuhan memberikan jalan untuk tetap bertahan dan berjuang di bidang pertanian. Saya mendapatkan beasiswa LPDP Indonesia (terima kasih banyak, LPDP, untuk kesempatan ini). Tidak ingin membuang kesempatan emas ini, saya segera bergerak dan mencari kampus dan jurusan pertanian terbaik di dunia. Pilihan saya jatuh ke the University of Adelaide. Saya mengambil Master of Global Food and Agricultural Business untuk jangka waktu 2 tahun perkuliahan. Tidak pernah ada penyesalan saat mengambil keputusan ini, karena the University of Adelaide adalah universitas terbaik dengan sejarah pertanian yang kuat. Saya banyak belajar (hingga sekarang) dari sistem pembelajaran, ilmu baru, dan teman-teman yang luar biasa.

 

Dua minggu setelah menginjakkan kaki di Adelaide, saya ditawarkan untuk menyalonkan diri menjadi ketua PPIA The University of Adelaide periode 2015. Awalnya, saya sempat minder karena latar belakang saya. Tapi saya memutuskan untuk menyalonkan diri. Meskipun ada kemungkinan kalah, setidaknya saya telah berjuang. Prinsip yang saya pegang teguh saat proses pemilihan hingga sekarang adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan berkat prinsip tersebut saya berhasil menjadi Ketua PPIA The University of Adelaide tahun lalu. Setahun bersama tim PPIA The University of Adelaide memberikan pengalaman dan cerita yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Susah, senang, capek, dan semangat mengiringi jalan kami selama setahun. Saya belajar untuk menerima kritik, untuk menerima perbedaan, dan untuk terus merangkul seluruh mahasiswa Indonesia di Adelaide. Saya sadar saya ketua yang jauh dari sempurna ketika menjalankan tugas, akan tetapi saya bangga dapat menyelesaikan masa jabatan saya dengan baik.

 

Selama berkuliah, mimpi saya adalah untuk pergi ke Roma, Italia dan bekerja di FAO-UN (Food and Agricultural Organization – United Nations) yang berpusat di ibu kota Italia. Saya bercita-cita untuk membantu seluruh manusia di dunia ini untuk mendapatkan makanan yang cukup, sehat, dan bergizi. Mimpi yang cukup simple, bukan? Memang, tapi saya sadar saya harus banting tulang dan berkorban demi mewujudkan impian saya. Meskipun begitu, saya tidak akan menyerah karena saya tahu saya sedang berjuang untuk mengejar kebahagiaan diri saya sendiri. Jujur, saya masih belum mengerti bagaimana cara terbaik untuk menuju ke sana. Namun saat ini saya sedang magang di UNORCID (United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia) yang bergerak di bidang kerusakan hutan dan pengurangan emisi karbon. Rasa cinta saya terhadap Indonesia semakin bertambah setelah saya mengerti bahwa sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi mengapa banyak orang Indonesia tidak ingin berkontribusi untuk memajukan Indonesia? Kenapa orang Indonesia cenderung merusak tatanan yang sudah baik ini? Kenapa orang Indonesia hanya bisa menggerutu dan protes saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya? Sebagai informasi, menurut World Bank 2015, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tahun 2015 menghasilkan kerugian dua kali lebih banyak dibandingkan dana yang diperlukan untuk membangun Aceh setelah tsunami. Singkatnya, tiga bulan kebakaran di tahun 2015 sama dengan rekonstruksi pembangunan di Aceh selama 10 tahun, dikali dua!

 

Sebagai penutup, saya bukan orang yang cukup percaya diri dengan masa depan. Saya pun belum memiliki gambaran jelas mengenai diri saya sendiri dalam lima tahun ke depan. Saya hanya ingin mengejar kebahagiaan yang bisa saya terima. Saya pun mengajak rekan-rekan untuk terus berjuang. Sesulit atau serumit apapun itu, jangan pernah menyerah. Tidak perlu minder akan masa lalu dan segala sesuatu yang sudah “nempel” di diri kita, tapi banggalah karena kita tidak menyerah untuk berjuang untuk bahagia. Salam PPIA ^^

___________________________________________________________________________________________

Marvin Lucky adalah penerima beasiswa LPDP yang saat ini sedang menekuni gelar Master of Global Food and Agricultural Business di University of Adelaide.

Mengejar cita-cita di bawah langit Adelaide

Oleh: Rifqi Satya Adhyasa *)

Selepas kelas 12, sama halnya dengan mayoritas alumni SMA pada umumnya, saya galau dalam memilih jurusan kuliah S1 saya. “Pilih jurusan kuliah ga usah yang susah-susah Qi, pilih aja yang kamu gemari dan sukai,” tutur orangtua saya. “Karena kalau kamu pilih suatu jurusan demi gaji tinggi saja, kamu akan stress dan nggak akan puas dengan hidupmu. Semua profesi bisa bikin kamu sukses, selama kamu jalani dengan sebaik-baiknya dan kasih semuanya. Pilih jurusan yang bisa menonjolkan bakat dan kegemaranmu. Jangan ambil jurusan mainstream cuma karena kamu khawatir nggak dapet pekerjaan. Bila industrinya belum ada, kamu selalu bisa bikin sendiri. Batasan satu-satunya dalam hidup adalah dirimu sendiri.”

“Kamu harus bangga jadi diri sendiri. Ayah sama Ibu bangga kok sama kamu, selama kamu bisa hidup mandiri dan nggak jadi beban hidup orang lain.”

Perkataan bijak di atas ini menginspirasikan saya untuk memilih jalan hidup yang juga tidak kalah anti-mainstream. Tidak seperti kota-kota utama lain di Australia seperti Melbourne, Sydney, Perth, dan Brisbane, Adelaide adalah satu-satunya kota yang belum pernah saya datangi semasa menjalani pendidikan SMP dan SMA di Canberra selama lima tahun. Saya juga belum punya koneksi mahasiswa Indonesia di Adelaide sebelumnya. Sedangkan dari segi demografis, Adelaide juga merupakan kota utama yang memiliki jumlah pelajar Indonesia paling sedikit di Australia.

“Life begins at the end of your comfort zone” (Kehidupan dimulai di luar zona aman kita). Pepatah dari jejaring sosial Instagram inilah yang telah menjadi pedoman saya untuk tidak pernah takut akan berbagai ketidakpastian dalam hidup. Berbekalkan saran dari orang tua, tingkat kenekatan level dewa serta sebuah pepatah pendek dari Instagram, saya putuskan untuk menjalani program S1 jurusan Marketing and Communication di University of South Australia (UniSA), Adelaide. Adelaide bukanlah kota yang terkenal bagi pelajar S1 Indonesia seperti saya. Namun, saya melihat kota ini sebagai tempat yang tepat untuk memperluas wawasan dan menemukan jati diri saya yang sebenarnya.

Sudah banyak hal yang saya pelajari selama berdomisili di Adelaide dua tahun ini. Pertama, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri adalah suatu kesempatan langka. Menurut saya, penting bagi pelajar Indonesia di luar negeri untuk memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan melalui menjalin koneksi internasional yang dapat bermanfaat di masa depan. Tetapi, kenyataannya masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang terjebak dalam “The Indonesian Circle”. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana budaya konservatif di Indonesia sering mengakibatkan rasa takut untuk menjalin silaturahmi dan persahabatan dengan warga asing, serta memperkaya wawasan mengenai berbagai pandangan hidup budaya asing di luar negeri. Ironisnya, sistem pendidikan S1 di Australia bertolak belakang dengan ideologi tersebut.

Semasa kuliah di UniSA, saya sadar bahwa pendidikan di dalam kampus tidak lengkap bila tidak dikolaborasikan dengan membangun pengalaman dan wawasan kerja di luar kampus. Dalam kelas, kita diajarkan teori dan ilmu pokok untuk bekerja di industri sesuai bidang masing-masing, namun proses pembelajaran praktis terjadi justru di luar kampus. Contohnya dengan menjadi sukarelawan, bekerja paruh waktu, mengikuti program penempatan kerja dan juga sesi networking. Lewat hal-hal inilah kita dapat mengimplementasikan berbagai ilmu yang telah kita pelajari di kelas, terhadap praktik di ‘dunia nyata’. Ideologi tersebut memotivasi saya untuk bekerja paruh waktu dalam bidang yang sedang saya tekuni. Walau kuliah adalah prioritas utama saya, saya juga selalu berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional. Sekarang, saya bekerja di dua perusahaan yang berbeda – sebagai staf Marketing and Communication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan sebagai Marketing Ambassador di AUG Global Networks cabang Adelaide.

Semasa hidup, awalnya saya pernah mengira bahwa kesempatan datang kepada orang-orang yang sabar menunggu. Namun pengalaman hidup mandiri selama dua tahun di Australia mengajarkan saya bahwa hal tersebut kurang akurat. Salah satu dosen favorit saya pernah berkata; “Opportunities are often disguised as hard work; that is why most people don’t recognize them”. Maka dalam kehidupan nyata, kesempatan emas datang kepada orang-orang yang berani untuk mengambil resiko untuk keluar dari zona amannya demi menjemput berbagai kesempatan dalam hidupnya. Lebih dari itu, kesempatan datang kepada pribadi yang selalu bersyukur pada semua yang ia miliki, serta mereka yang gigih dan cermat dalam membangun koneksi dan relasi. Yang paling penting, kesempatan datang kepada mereka yang cukup percaya akan impian dan tujuan dalam hidupnya. Faktor-faktor tersebutlah yang membuat saya sadar akan empat nilai-nilai pribadi terpenting dalam hidup saya: integritas, pola pikir terbuka, kreativitas, dan rasa bersyukur.

Poin inilah yang memberikan saya motivasi untuk mengambil berbagai inisiatif untuk membantu pelaksanaan berbagai acara dan program di UniSA. Berbagai kontribusi yang telah saya berikan terhadap UniSA antara lain: bertugas sebagai salah satu Business Mentor di kampus, bertanggung jawab sebagai Promotion Team Member di University of South Australia Student Association (USASA), menjabat sebagai Wakil Ketua PPIA UniSA periode 2015/2016, berpartisipasi dalam Unite Leadership Program 2015 dan Business Career Mentoring Scheme, serta berbagai kesempatan acara volunteering lainya. Berbagai aktivitas tersebut memberikan saya ruang dan peluang untuk berinteraksi dan menjalin koneksi lokal maupun internasional. Hal ini dapat bermanfaat bagi berbagai aspek jangka pendek maupun jangka panjang, dalam bidang personal, sosial maupun profesional dalam hidup saya.

Berbagai pengalaman di Adelaide telah merevolusi cara pandang saya mengenai definisi kesuksesan. Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan, namun kebahagiaanlah yang menjadi kunci kesuksesan. Awalnya, saya kira kesuksesan bisa diukur lewat materi. Namun, saya sekarang berpendapat bahwa kesuksesan dapat diukur dari dampak positif dalam kebahagiaan pribadi sekaligus dampak yang kita berikan kepada orang lain. Saya juga belajar bahwa selama kita masih diberi umur oleh Tuhan, sukses tidak akan ada ujungnya, dan tidak akan pernah ada batasnya – karena sesungguhnya, satu-satunya sekat yang membatasi kita dari sebuah impian adalah rasa takut akan kegagalan yang hanya terpancar dari dalam diri kita sendiri.

 

 

 

*) Rifqi Satya saat ini sedang menekuni program studi Bachelor of Marketing and Communication di University of South Australia, Adelaide. Selain kuliah, Rifqi berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional dan berorganisasi. Hal ini ia raih dengan berpengalaman kerja di dua perusahaan yang berbeda. Saat ini, Rifqi tercatat sebagai staf Marketing and Comunication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan di AUG Global Networks cabang Adelaide sebagai Marketing Ambassador. Selain itu, Rifqi juga bertanggung jawab sebagai Wakil Presiden PPIA University of South Australia, periode 2015/2016 demi mempromosikan budaya nasional Indonesia, serta membentuk wadah silaturahmi internasional untuk seluruh pelajar Indonesia di University of South Adelaide.

 

 

Beritakanlah, Kawan: Air Mengalir Sampai Jauh…

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*

Akhirnya… :)

Sesuatu yang berawal dengan apik, dan telah berjalan sangat baik, ketika tiba masa berakhir, sepantasnya ia diakhiri dengan indah pula. Setahun begitu cepat. Serasa baru kemarin saya memberi pengantar untuk Diary PPIA dengan tulisan berjudul “Mengawal Bagai Kanal, Biar Deras Air Mengalir”. Semasih tak cukup banyak kisah bisa dirangkai, kini tahu-tahu periode kepengurusan PPIA Aktivis 2014-2015 sudah harus berakhir.

Jika sebuah kisah memiliki prolog, selayaknya ia ditutup dengan epilog. Butuh waktu khusus bagi saya menuliskan ini, di sela persiapan ujian, menata emosi dan bergulat dengan damai hati. Saya bahkan butuh memutar lebih dahulu lagu-lagu legendaris dari Ebiet G. Ade hingga almarhum Gesang untuk mendapatkan atmosfir yang mengena sebelum menulis. Maka inilah semacam catatan akhir periode dan laporan pertanggungjawaban Diary PPIA sebagai sebuah program baru yang diperkenalkan oleh PPIA Aktivis.

(more…)

Jangan Berhenti Sampai Mati

Oleh: Felix Chandra*

Berasal dari keluarga sederhana di kota kecil, saya mempunyai cita-cita yang besar untuk menjadi seseorang yang berguna bagi siapapun. Kesempatan bersekolah di Singapura adalah cikal-bakal saya terbuka kepada mata dunia. Di sana saya merasa sangat terbantu dalam meningkatkan daya percaya diri dan menjalin koneksi dari berbagai macam negara serta menumbuhkan sikap mandiri dalam melaksanakan tugas. Di sana juga saya mulai berkesempatan berorganisasi dengan menjadi salah satu “prefect” yakni istilah yang ditujukan bagi murid yang bertugas menegakkan ketertiban berdasarkan peraturan dari sekolah. Singkat cerita, saya merasa terbantu dengan pengalaman ini dimana saya harus menjadi panutan bagi murid-murid lainnya.

Setelah menyelesaikan “secondary school” dan menyelesaikan ujian GCE-O level dengan hasil memuaskan, saya mulai memikirkan langkah untuk jenjang studi selanjutnya. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia selama satu tahun untuk masa “foundation” sebelum melanjutkan ke RMIT University. Australia, itulah negara kangguru yang merupakan salah satu negara yang ingin saya kunjungi sejak lama. Saya mendapat tawaran untuk menuntut ilmu di negara ini dalam bidang nutrisi pangan dan teknologi.

Diamanatkan menjadi salah satu ketua publikasi dalam proyek tahunan PPIA RMIT yang ke-3 bertemakan “Project O IGNITE” merupakan kesempatan emas mengasah ketertarikan saya untuk menjadi ketua dan di bidang yang cukup menarik perhatian dalam sebuah acara besar. Mandat ini pun saya laksanakan dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan bagi saya. Selepas masa jabatan ini, saya diberi kesempatan untuk melayani hubungan masyarakat PPIA RMIT pada tahun 2014. Jabatan tersebut saya jalankan selama satu tahun dibarengi dengan pendaftaran untuk menjadi penanggung jawab media sosial PPI Australia.

(more…)

Ini Bahagiaku… Mana Bahagiamu?

Oleh: Frisca Setyorini*)

Sejak saya mulai bekerja dan merantau ke ibukota, aktivitas rutin yang saya lakukan hanya pergi dan pulang kantor dan rumah. Begitu terus setiap hari. Kemacetan di Jakarta membuat saya malas keluar rumah pada akhir pekan. Pastinya membosankan sekali, mengingat sewaktu kuliah dulu saya termasuk sering beraktivitas keluar rumah, melakukan hal positif tentunya.

Sejak kecil, orang tua mengarahkan saya agar aktif menggeluti olahraga dan seni. Menurut mereka, energi saya terlalu berlebihan, sehingga sayang kalau tidak disalurkan ke hal-hal yang positif, hehehe. Sempat bergabung dengan klub renang dan klub basket di kota kelahiran, Surabaya, mulai SMP sampai kuliah saya aktif bergabung di organisasi siswa/mahasiswa berhubungan dengan kesenian maupun olahraga. Masa SMU pun saya warnai dengan bermusik. Saya merasa bermain musik dan bergabung dalam tim olahraga bisa membuat hidup saya lebih berarti. Itu adalah dua hal dari beberapa aktivitas favorit yang membuat saya bahagia.

Sungguh sayang, sejak bekerja justru dua kegiatan tersebut lama saya tinggalkan. Kesibukan dan tempat tinggal teman-teman yang berjauhan menjadi alasan utama. Beruntung, ibu kost saya di Jakarta adalah seorang ustadzah yang aktif di pengajian dan memiliki kelompok rebana. Jadi saya sesekali ikut acara pengajian plus mendengarkan mereka latihan rebana dan berdendang. Kebetulan juga, ibu kost saya ini adalah sahabat Umi Elvi Sukaesih, seorang penyanyi dangdut yang legendaris di Indonesia. Jadilah, jika Umi Elvi hadir, kami semua berlatih bernyanyi sambil bermain rebana. Paling tidak, aktivitas mengaji bersama dan berlatih rebana bisa mengembalikan hobby bermusik yang sudah lama saya tinggalkan. :)

Hingga tibalah saat saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Australia. Australia adalah negara yang tidak pernah terpikir untuk saya datangi. Bahkan dalam mimpi pun tidak. Tetapi justru di Australia saya bertemu kembali dengan pengalaman lama. Pengalaman berorganisasi dan berkesenian. Saat pertama kali datang kemari, saya sudah tertarik dengan organisasi pelajar Indonesia, PPIA. Sebelum kemaripun, saya bergabung dalam mailing list PPIA dan teman-teman di PPIA-lah yang membantu saya mendapatkan tempat tinggal yang hingga saat ini saya tinggali. Saya sangat beruntung dapat bergabung dengan PPIA sejak dini. Pertama kali bergabung di kepengurusan, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Wakil Ketua PPIA ranting The University of Adelaide.

(more…)