Author Archive: WM Administrator

Jangan Biarkan Anganmu Dikontrol Orang Lain


“Kejarlah cita-citamu sampai ke Negeri China”. Itu adalah ungkapan yang ditujukan kepada setiap orang yang ingin mencapai cita-citanya. Semua orang pasti ingin kuliah di universitas yang diidamkan sejak lama, meskipun itu bukan universitas yang terbaik menurut orang lain. Semua orang pasti ingin kuliah di jurusan yang diidamkan supaya dapat bekerja di tempat favorit masing-masing. Itulah yang saya alami selama bertahun-tahun selagi saya di sekolah di Australia.

Perkenalkan saya Pasha, saya kuliah di Curtin University dan saat ini saya di tahun ketiga. Saya tinggal di Australia sejak tahun 2010. Mimpi saya sejak SMA adalah kuliah di Curtin University, meskipun sebenarnya orang tua saya lebih menyarankan kuliah di University of Western Australia (UWA) karena orang tua saya ingin saya menjadi orang yang pintar dan banyak berteman dengan orang bule. UWA Bagi orang tua saya, UWA adalah universitas yang pantas untuk saya. 

Pindah ke Ausralia tahun 2010, saya belum tahu tentang Australia. Jangankan tahu soal Curtin, bicara Bahasa inggris saja saya tidak mengerti. Sekitar tahun 2011, saya sedang menonton TV di sekolah dan tiba-tiba ada iklan tentang Curtin University. Iklannya menarik dan mengingatkan saya dengan iklan BSI. Setelah itu tiba-tiba saya bermimpi ingin pindah ke universitas itu. Di situlah saya memulai bermimpi untuk kuliah di Curtin University. Tetapi saya belum berpikir serius karena dulu saya belum tahu subject apa yang cocok untuk saya. Sampai di pertengahan tahun 2012, saya baru sadar setelah diberi tahu guru saya kalau saya mempunyai potensi di jurusan komputer dan saya juga bagus di geography. Akhirnya saya terpikir untuk belajar di bidang computer atau geography dan saya mengutarakan keinginan saya pada orang tua saya.

Orang tua saya bekerja di bidang research dan dia ingin saya kuliah di bidang science agar saya dapat bekerja di bidang yang sama. Tetapi saya tidak mau. Selain itu, di science saya masih di pathway 2, dan nilai saya cukup jelek. Saat orang tua saya tahu nilai saya jelek, orang tua saya marah dan saya disuruh mengikuti kursus science dan harus tetap mengambil research.

Tahun 2013, saya sangat stress ketika orang tua saya memaksa saya harus jadi researcher, sedangkan saya ingin kuliah di jurusan komputer. Saya sampai bingung, hidup saya ke depan bagaimana apakah berhasil atau tidak, apalagi setelah saya dengar banyak di berita tentang pelajar bunuh diri karena gagal ujian dan gagal kuliah atau jadi gila. Tapi saya masih sedikit optimis siapa tahu di masa depan, orang tua tidak memaksa. Pada bulan Mei 2013, diadakan pemilihan untuk student, apakah di year 11 dan year 12 saya mengambil ATAR (pathway untuk langsung ke university) atau non-ATAR (pathway yang ke TAFE baru ke university) dan saya beri tahu ibu saya. Ibu saya sangat senang dan ingin saya mengambil ATAR. Tapi ada satu hal yang buruk lagi, Ibu saya ingin saya masuk UWA, padahal saya ingin masuk Curtin. UWA standar nilainya tinggi sedangkan nilai saya rata-rata 60-70%, sehingga saya makin stress. Setelah nilai ujian keluar, nilai matematika dapat 76%, bahasa Inggris saya 70%, S&E (Geography) 69%, tetapi pelajaran yang ibu saya ingin (science), saya hanya mendapat 47% dan setelah itu Ibu sangat marah dan disappointed. Setelah nilai keluar, saya mencoba bicara dengan guru saya, apakah saya bisa mengambil ATAR path, Dia bilang untuk ATAR, saya harus ambil 4 unit ATAR dan saya bisa. Saya coba ke guru matematika, dia bilang saya bisa ambil ATAR, guru English juga mengatakan hal yang sama, tetapi guru science bilang tidak bisa karena nilai saya jelek. Tetapi karena di S&E di year 11 unitnya dipecah menjadi geography, history dan ekonomi. Saya akhirnya mengambil Geography dan Ekonomi dan diperbolehkan. Bahkan saya ambil 5 ATAR supaya jika ada unit yang failed saya aman, jadi saya ambil juga accounting. Tetap setelah saya bicara kepada orang tua, orang tua saya kecewa dan tetap ingin saya ambil science. Saya semakin sedih dan depresi, sampai saya mempunyai satu masalah lagi, Saya baru putus dari pacar saya dan saya sangat depresi. Di tahun 2013, nilai saya sangat anjlok, dan bahkan, science saya mendapat nilai 28%. Maths saya mendapat 50% dan saya failed di subject lainnya. Akhirnya ibu saya sedikit mengalah dan memperbolehkan saya ambil jurusan selain science.

Tapi sayang, setelah ibu saya setuju, nilai saya tambah anjlok bahkan 2013 akhir saya memutuskan untuk ambil Non-ATAR saja karena susah. Ibu saya awalnya tidak mau karena saya masuk TAFE dan tidak ke university. Saya akhirnya bilang saya tidak mau stress bahkan saya tidak mau akhirnya bunuh diri. Akhirnya ibu mengalah dan saya ambil non-ATAR. Setelah itu Mimpi saya ke university sedikit menghilang dan saya tidak terlalu tertarik untuk masuk ke university

Akhir tahun 2014, saya melihat program dari TAFE untuk Diploma dan ada Program VET. Akhirnya setiap hari Jumat, saya tidak sekolah tapi saya ke TAFE untuk mengambil program D3. Saya tertarik dengan program itu. Saya bicara dengan guru-guru di sekolah, dan beliau bertanya saya tertarik di program apa. Saya menjawab IT atau Digital Design. Dia mengatakan bahwa kebanyakan program VET itu untuk Nurse atau Mechanical. Saya kecewa, tapi guru saya mencarikan informasi lebih lanjut soal ini. Setelah mendapatkan informasi, saya mendapat kabar kalau ada Jurusan Digital Design di TAFE untuk VET Program. Saya tertarik. Saya bicara ke ibu saya. Ibu saya awalnya tidak setuju tetapi akhirnya dia setuju. Akhirnya saya mendaftarkan diri ke TAFE dan saya pikir mungkin ini jalan untuk ke Curtin. 

Setelah setahun, 3 bulan sebelum kelulusan di tahun 2015, saya terpikir bagaimana cara untuk masuk Curtin. Tiba-tiba saya ingat tentang Diploma Certificate 4 dan Diploma of Digital Design di TAFE. Saya ingin mengambil program tersebut. Tetapi saya diberi tahu bahwa akan ada program Uni Ready dari Curtin. Setelah mengikuti program tersebut selama 6 bulan, akan bisa langsung masuk Bachelor. Ibu saya tertarik sekali dan saya akhirnya mendaftar Uni Ready. Tapi karena saya bingung kenapa tidak ada kabar, akhirnya saya mendaftar TAFE juga untuk tahun 2016.

Januari 2016, setelah saya mendaftar TAFE, Saya baru dapat kabar bahwa saya diterima Uni Ready. Saya bimbang, akhirnya saya terima saja karena gratis. Setelah diterima, saya baru sadar kalau mata pelajaran Bahasa Inggris di UniReady itu susah dan saya failed. Bulan April 2016, Saya mengundurkan diri dari Uni Ready. Ibu akhirnya terima dan akhirnya saya hanya berkonsentrasi di Diploma of TAFE sampai akhir November 2016. Bulan Agustus, saya bicara kepada Ibu saya kalau saya masih ingin masuk Curtin. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba ibu saya minta saya harus di UWA. Padahal saya ingin masuk Curtin karena di Curtin, saya mempunyai banyak teman dan di Curtin banyak orang Indonesia. Ibu saya tetap tidak mau dan saya bingung. Setelah itu saya mencoba ke Curtin Open Day untuk mencari tahu jurusan apa yang cocok buat saya. Karena saya sedang stress, jadi saya mungkin salah informasi dan saya mendapat informasi kalau jurusan yang bagus itu adalah Mass Communication. Setelah 1 bulan, ibu saya akhirnya mengalah demi kebaikan saya. Saya mendaftar Mass Communication dan mimpi saya di Curtin berlanjut.

Tapi mimpi buruk tidak berhenti disitu, Semester 1 2017, Saya ambil jurusan Mass Comm dan ternyata pelajarannya susah. Saya bingung kok bukan ke IT malah ke Subject lain dan saya failed. Akhirnya di akhir Semester 1, saya pindah ke jurusan Digital Design dan sampai sekarang alhamdulillah saya sangat menyukainya. Saya sekarang sudah tahun terakhir dan akhir 2020 lulus.

Buat sobat PPIA, jangan patah semangat dan jika kalian ingin mengambil jurusan yang kalian mau, ambil saja. Tetapi hati-hati jangan sampai salah pilih jurusan seperti saya.

Salam PPIA

Pasha Wildenauer

(Curtin University)

“Kuliah di luar negeri itu enak, benarkah?”

Ketika mendengar tentang kuliah di luar negeri, pasti yang terbayang langsung hal-hal keren nan membanggakan ya. Bagaimana tidak, lihat saja foto-foto dan cerita mereka. Bisa jalan-jalan ke tempat keren, belajar di universitas ternama dunia, bisa melebarkan jejaring ke dunia internasional yang pasti akan berguna untuk masa depan, hingga kesempatan bekerja yang akan lebih besar. Tapi tahukah kita dibalik semua foto dan cerita itu ada hal yang sangat jarang diungkap.

Dalam tulisan ini saya tidak akan berpanjang lebar membahas bagaimana tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa karena itu sudah banyak diulas di berbagai blog, website dan media-media. Apalagi bagi yang sedang berusaha untuk meraih kursi di kampus luar negeri idaman pasti sudah banyak informasi yang kalian pahami tentang ini semua.

Saya ingin bercerita tentang sisi lain kuliah di luar negeri yang jarang dibahas. Tentang perjuangan berat baik disisi akademis maupun kehidupan sehari-hari yang mungkin belum banyak terpikirkan oleh mereka yang belum merasakannya. Dari perspektif saya sebagai HDR Mentor Macquarie University saya katakan bahwa kuliah di luar negeri itu penuh tantangan.  Kuliah di luar negeri memaksa kita untuk segera menyesuaikan diri dengan banyak hal yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang biasa kita hadapi di negeri sendiri. Dari budaya, makanan, hingga kondisi lingkungan yang jauh berbeda.

Pada awalnya, segala sesuatu di tempat baru di luar negeri memang terasa indah. Jalanan yang lebih bersih dan tertata, bangunan-bangunan yang cantik dan sebagainya. Pokoknya semua terasa indah apalagi ketika difoto lalu posting ke media sosial. Lama-kelamaan, saat mulai beradaptasi, kita akan mulai bisa merasakan adanya ketidakcocokan dengan situasi baru. Disetiap negara pasti ada saja budaya yang tidak cocok bagi kita. Ketidakcocokan itulah yang bisa membuat homesick atau parahnya jadi depresi. Begitu banyak hal yang biasa dilakukan di Indonesia, kini tidak bisa lagi. Ada banyak kemudahan di Indonesia yang kini menjadi sulit di luar negeri. Ditambah kangen dengan orang tersayang, hingga kita yang harus mulai lebih hati-hati ketika memilih makanan. Tapi tenang saja, bagi teman-teman muslim kalau soal makanan pasti tetap ada yang menjual resto halal atau bahan makanan yang halal kok. Homesick sebenarnya adalah hal yang wajar bagi mahasiswa perantauan. Tapi ketika kuliah di luar negeri mungkin akan lebih parah rasanya. Jelas saja, kalau homesick masih antar pulau mungkin bisa pulang, kalau antar negara dan jauh pula? Kata pulang menjadi sesuatu yang tidak murah (secara waktu dan biaya) untuk bisa didapat ketika kita kuliah di luar negeri.

Tantangan selanjutnya, kuliah di luar negeri berarti harus siap menghadapi sistem pendidikan yang berbeda dari kuliah di dalam negeri. Di sini, sistem pendidikannya lebih memusatkan pada kemandirian mahasiswa. Betul-betul harus mandiri. Tapi justru inilah yang sering membuat pelajar Indonesia menjadi stress karena saat di Indonesia kuliah adalah mendengar dosen bicara dan mencatat. Di luar negeri, menghadiri kuliah saja tidak akan cukup. Ada ratusan jam yang harus disiapkan untuk tenggelam di perpustakaan maupun flat demi bisa lulus satu unit mata kuliah. Saya pernah mendengarkan curhatan dari mahasiswa yang depresi karena nilai satu unit mata kuliahnya gagal dan harus mengulang. Kalau mengulang, sudah tau kan, tidak murah untuk bayar tuition fee satu unit apalagi mahasiswa itu adalah penerima beasiswa. Tidak terbayang bagaimana pusingnya untuk bilang ke orang tua, mau curhat ke siapa dan sebagainya. Dari segi personal, bahkan saya pernah dicurhati mahasiswa yang tidak betah karena di sini apa-apa harus mandiri. Dia bingung mau masak tidak bisa, mau beli juga mahal. Kalau di Indonesia bisa pesen Go-food dengan harga terjangkau beres deh. Disini ada sih Uber eats tapi berat di ongkos juga. Jadinya cuma bisa makan mie instan tiga kali sehari J.

Sampai di sini, masih memandang kuliah di luar negeri itu enak?

Peristiwa-peristiwa terhadap keluarga atau orang-orang terdekat juga akan sangat mempengaruhi keadaan kita disini. Saya pernah dicurhati seorang teman mahasiswa internasional otomatis dia harus berpisah jauh dengan keluarga. Suatu ketika, negaranya dilanda musibah gempa, dan hal ini akhirnya memengaruhi performa kuliahnya. Memang saat sedang kuliah di luar negeri dan terjadi hal-hal buruk pada keluarga kita rasanya akan lebih sakit jika dibandingkan ketika kita masih berada di Indonesia. Karena kita jauh dari orang-orang terdekat dan ada beban akademis juga yang harus dipikirkan. Lagi-lagi, mau cerita ke siapa? Pulang tak akan semudah itu. Tapi kan ada video call? Percaya deh, itu tidak akan cukup.

Meskipun sebagai pelajar di luar negeri bisa lebih rentan terhadap depresi, tetapi jangan buru-buru negative thinking sama kuliah di luar negeri ya. Tenang, di setiap kesulitan akan selalu ada kemudahan. Universitas-universitas di luar negeri, terutama di negara maju, biasanya punya sistem untuk membantu mahasiswa khususnya mahasiswa internasional untuk menangani masalah-masalah seperti ini.

Lalu bagaimana caranya menghadapi tantangan-tantangan kuliah di luar negeri yang tidak bisa dikatakan mudah itu?

Pertama, untuk menjaga kesehatan, walaupun saya paham betul pasti mahasiswa sibuk sekali dengan tugas dan berbagai aktivitas lainnya, sempatkanlah olahraga. Bisa ikut di gym uni, tapi harus bayar ya. Kalau mau gratis bisa jogging atau olah raga lainnya yang ngga harus bayar. Misalnya jogging disekitar taman, kos, dan lain-lain. Pasti pernah dengar, ketika kita berolahraga, akan terjadi peningkatan hormon endorphin yang bisa mengurangi rasa sakit dan hormon ini pula yang menjadi kunci olahraga bisa bikin bahagia sekaligus meredakan stress. Jadi untuk menjaga kesehatan dan kebahagiaan, sempatkanlah olah raga.

Kedua, social life. Kita bisa bergabung dan bersosialisasi dengan teman-teman di berbagai kesempatan untuk sekadar bertukar cerita. Karena dengan bertukar cerita, kita bisa saling belajar dan saling menguatkan satu sama lain. Berikan kesempatan kepada teman untuk mengerti dan membantu kita. Mereka peduli, dan bisa jadi tahu apa yang harus dilakukan. Selain itu, bisa juga bergabung dengan organisasi kampus untuk mengasah dan mengembangkan potensi diri.

Ketiga, jangan pernah malu untuk meminta tolong apabila memang dirasa mengalami depresi, stress dan semacamnya. Kampus punya pelayanan konseling di mana kita bisa curhat ke psikolog atau bahkan mendapatkan bantuan medis apabila dirasa stress-nya level dewa. Tidak akan menyelesaikan 100% masalah kita, memang. Tapi tidak ada salahnya dicoba. Setidaknya beban kita akan berkurang.

Akhirnya, memang diperlukan kesiapan mental dan fisik untuk bisa beradaptasi dan kuliah di luar negeri dengan baik. Akan selalu ada tantangan yang menghampiri untuk menguji seberapa kuat dan tahan bantingnya kita. Karena kuliah di luar negeri bukan hanya belajar akademik semata, tetapi belajar tentang kehidupan.

Salam PPIA!

(Sandy Arief, PhD Candidate, Research Excellence Scholarship recipient of Macquarie University, Sydney, Australia)

­­­­­

Rezeki Tidak Akan Kemana

“Saya ingin melanjutkan studi master di luar negeri”, itu jawaban saya setiap kali ditanya teman-teman mengenai rencana saya seusai menyelesaikan pendidikan sarjana di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Mimpi tersebut bermula dari cerita seorang senior sekaligus teman baik saya yang mendapatkan beasiswa Master di UK. Ia menceritakan perjuangannya beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pendidikan yang sangat berbeda, serta persaingan ketat dengan orang-orang dari segala penjuru dunia yang pada akhirnya mempengaruhi cara pandangnya terhadap Indonesia. Diam-diam saya sangat penasaran seperti apa rasanya kuliah di negeri orang dan bagaimana itu akan mempengaruhi saya dalam memandang Indonesia. “Ya rasakan sendiri”, kata teman saya setiap kali saya bertanya.

Lulus kuliah pada akhir tahun 2014, saya tidak serta merta memulai research saya terkait menempuh pendidikan di luar negeri. Saya habiskan 2 tahun untuk bekerja tanpa ada upaya, hampir lupa dengan mimpi saya. Beruntung banyak teman mulai mengingatkan saya. Di akhir tahun 2016 saya mengambil kursus Bahasa Inggris sembari tetap bekerja. Di sela waktu bekerja, saya sempatkan membuat daftar beasiswa dan daftar universitas yang memiliki program Master di bidang urban planning.

Pada tahun 2017, perburuan beasiswa untuk kuliah di luar negeri pun dimulai! Pertama kali mencoba seleksi beasiswa, saya mendaftar untuk beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Di tahap wawancara, saya ditawari untuk studi master di dalam negeri karena tipis kemungkinan saya untuk lolos seleksi studi ke luar negeri. Namun saya tidak rela membuang mimpi saya begitu saja. Ya, upaya pertama saya gagal. Tidak berhenti di sini, serangkaian seleksi beasiswa yang saya ikuti, termasuk Chevening dan AAS (Australia Awards Scholarship), menghasilkan kegagalan lainnya. Ternyata tidak seindah foto-foto di media sosial teman-teman saya yang sudah lebih dulu berkesempatan mencicipi rasanya menempuh pendidikan di negeri antah berantah. Ada perasaan sedih dan kecewa, tetapi saya katakan berulang kali pada diri saya sendiri ‘rezeki tidak akan kemana’. Hingga suatu sore, salah seorang dosen di tempat saya bekerja mengirimkan pesan berisi kesempatan beasiswa studi di Tasmania, Australia bertajuk ‘Beasiswa Sri Sultan Hamengku Bawana X’.  Karena aplikasi beasiswa ini akan ditutup dalam 2 hari ke depan, saya siapkan semua persyaratan dalam 2 hari. Bahkan recommendation letter  yang biasanya baru didapatkan setelah berminggu-minggu, tergantung waktu luang dosen, saya dapatkan kurang dari 1 jam! Bagaimana mungkin? Tentu saja, everything is possible, rasanya seperti semesta mendukung. Tahap wawancara beasiswa ini pun sangat berkesan bagi saya karena segala pertanyaan yang diajukan adalah seputar Daerah Istimewa Yogyakarta dan kontribusi yang ingin saya berikan untuk keberlanjutannya. Sempat gugup diwawancarai oleh GKR Mangkubumi dan beberapa kali diminta menjawab dalam Bahasa Jawa, rezeki saya datang juga! Saya dinyatakan lolos seleksi sekitar 4 bulan setelah wawancara dan here I am, studying Master of Planning at University of Tasmania, Australia!

Berhasil mendapatkan beasiswa bukan berarti perjuangan saya selesai. Saya harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru untuk mendukung proses studi saya. Masih lekat di ingatan saya pertama kali memijakkan kaki di Tasmania setahun yang lalu, angin kencang nan dingin menerpa wajah saya. “It’s always like this in Hobart. Can you see that mountain? You’ll find snow there even in summer”, jawaban petugas bandara ketika saya bertanya mengenai dinginnya Kota Hobart saat musim panas. Bukan hanya cuaca, Kota Hobart bisa dibilang sangat sepi dibandingkan dengan Yogyakarta. Tidak banyak hiburan di kota ini pada malam hari, toko dan restoran sudah banyak yang tutup pada pukul 5 sore. Belum lagi kendala bahasa yang saya alami ketika awal pertama saya tiba. Tidak jarang saya harus mengulang beberapa kali kalimat yang ingin saya ucapkan atau bahkan menggunakan isyarat untuk mempermudah komunikasi dengan penduduk lokal. Apa sekarang saya masih beradaptasi? Ya, tentu saja! Saya menikmati setiap prosesnya.

Menjadi newcomer dan tidak mengenal siapa pun di Kota Hobart, saya mendapat banyak pertolongan dari pelajar Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini. Tiga hari pertama di kota ini, saya tinggal bersama sebuah keluarga kecil yang juga membantu saya menemukan akomodasi dan membeli barang-barang yang saya perlukan untuk memulai hidup baru saya. Minggu berikutnya saya diundang untuk makan malam bersama para pelajar Indonesia lainnya di rumah salah seorang senior. Hanya ada sekitar 15 orang dalam acara tersebut dengan 6 diantaranya, termasuk saya, adalah pendatang baru. Dalam kesempatan itu diputuskan juga bahwa persatuan pelajar di Kota Hobart akan bergabung dengan pelajar di Kota Launceston mengingat keterbatasan jumlah dan ketersediaan waktu para anggota. Itulah kali pertama saya berkenalan dengan organisasi PPIA Tasmania.

Singkat cerita, saya diperkenalkan dengan Anton, ketua PPIA Tasmania yang tinggal di Kota Launceston. Saya mengutarakan keinginan saya untuk membantu dalam organisasi PPIA Tasmania, khususnya terkait kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di Kota Hobart. Obrolan dengan Anton mengantar saya untuk menghadiri Kongres PPIA di Kota Brisbane pada Juni 2018. Saya berkesempatan bertukar ide dan membangun jejaring dengan para pelajar Indonesia dari wilayah lain di Australia. Mereka anak-anak muda yang sangat menginspirasi! Selang beberapa minggu dari kongres, saya ditawari untuk bergabung dengan PPIA oleh ketua terpilih, Hakam Junus. Saya putuskan untuk bergabung dalam Divisi Social Project yang diketuai oleh Sakti, teman yang juga saya kenal dari Kongres PPIA. Melalui PPIA saya belajar berorganisasi, bekerja dalam tim dengan teman-teman yang belum pernah saya temui secara langsung, serta membagi waktu antara mengerjakan tugas kuliah dan tugas organisasi yang diamanatkan pada saya.

Akhirnya impian saya menjadi pelajar di Australia tercapai. Benar kata teman saya, menjadi pelajar di negeri orang mempengaruhi cara pandang saya terhadap Indonesia. Jangan tanya, rasakan sendiri saja! Satu hal yang saya ingin bagikan kepada teman-teman yang sedang berusaha meraih mimpinya, jangan menyerah, karena rezeki tidak akan kemana!

Salam PPIA

Rianisa Fitriani

University of Tasmania

Meraih Impian untuk Studi Lanjut: It’s Not Impossible

Setiap orang yang menempuh studi di luar negeri pasti memiliki kisah dan motivasi yang berbeda-beda, demikian juga dengan apa yang saya alami hingga saat ini. Berawal dari keinginan saya untuk melanjutkan studi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan seminar dan talkshow tentang studi lanjut yang diselenggarakan di kampus saya semasa kuliah S1. Berbekal beberapa informasi yang saya dapatkan dari kegiatan-kegiatan tersebut, saya menyampaikan keinginan saya pada orang tua saya dan alhamdulilah kedua orang tua saya merestui keinginan tersebut. Awalnya, program profesi dietitian sempat menjadi pertimbangan saya, namun saya urung mengikuti program tersebut karena saya membulatkan tekad untuk mencari beasiswa agar tidak membebani orang tua saya. Apakah saya memilih studi S2 hanya karena alasan biaya? Tentu tidak. Pikiran saya sederhana: dengan menempuh studi master, akan lebih besar peluang untuk ke luar negeri dan saya bisa mengejar cita-cita awal saya waktu itu untuk menjadi akademisi.

Di masa pengerjaan skripsi, saya memulai perjalanan menuju impian untuk studi lanjut. Saya menemui dosen di jurusan saya, yang merupakan alumnus universitas yang saya inginkan. Universitas tersebut, setahu saya, adalah salah satu yang terbaik untuk memperdalam ilmu gizi di Eropa dan cukup banyak senior saya yang sudah melanjutkan studi ke sana. Sejujurnya saya tidak pernah berpikir untuk belajar di Australia, karena banyak orang yang mengatakan bahwa requirements-nya sangat tinggi. Bukan hanya terkait kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga beberapa required courses bagi calon mahasiswa di bidang kesehatan. Belum lagi cerita bahwa Australia Awards Scholarship (AAS), salah satu beasiswa idaman untuk belajar di negeri Kanguru, lebih banyak diberikan pada pegawai negeri atau orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja cukup banyak, bukan fresh graduate seperti saya.

Singkat cerita, saya mendapatkan banyak informasi dari dosen saya tersebut, terutama terkait IELTS dan persyaratan untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri. Beliau juga mengarahkan saya untuk tidak mengejar satu beasiswa dan satu kampus saja, melainkan saya harus mencoba semua peluang yang ada karena kita belum tahu di negara mana rezeki kita berada. Selain itu, hal terpenting untuk mengawali langkah saya adalah menempuh ujian IELTS, tes Bahasa Inggris yang awalnya saya sama sekali tidak tertarik mempelajarinya.

Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tetapi pertemuan saya dengan dosen saya tersebut membawa banyak perubahan dalam cara berpikir saya, khususnya dalam mencari beasiswa. Berdasarkan arahan beliau, saya membuat daftar panjang yang berisi lebih dari sepuluh beasiswa dan kampus potensial yang akan saya apply, lengkap dengan deadline dan persyaratannya. Finally, ada tujuh beasiswa yang saya coba mendaftar, termasuk AAS. Selain itu, satu hal lagi yang membuat saya sangat bersyukur adalah beliau dengan senang hati membantu saya belajar untuk persiapan tes IELTS dan aplikasi beasiswa. Mungkin beliau sudah bisa memprediksi bahwa persiapan saya akan kurang maksimal kalau tidak dibantu, hehehe.

Setelah jatuh bangun menjalani tes IELTS dan mendapatkan Letter of Acceptance dari kampus idaman saya di Eropa tersebut, datanglah rezeki yang tak disangka: email bahwa saya menjadi awardee AAS. Memang saat itu tidak mudah untuk langsung mengganti negara tujuan studi yang sudah terpatri di kepala selama setahun lebih, tetapi inilah jalan yang disiapkan-Nya untuk saya. Alhamdulilah semua rangkaian pre-departure training sudah saya lalui hingga tak terasa saat ini saya akan memasuki semester terakhir saya di University of Queensland (UQ).

Selama perjalanan mendapatkan beasiswa dan menjalani studi lanjut, saya mendapatkan banyak hal yang berarti, namun ada tiga hal utama yang ingin saya bagikan dalam story ini. Pertama, tentu saja banyak pengalaman baru yang didapatkan ketika menempuh studi: mendapatkan teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif. Kedua, sangat penting untuk menguatkan tekad dalam meraih cita-cita dengan diiringi niat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa? Karena pada beberapa contoh yang saya temui, niat yang kurang baik dan tidak adanya restu orang tua seringkali berujung pada keputusasaan dalam mengejar cita-cita untuk melanjutkan studi. Terakhir, jadilah pribadi yang rajin bersyukur karena tidak ada rasa syukur dan keikhlasan yang merugikan, walaupun mungkin butuh waktu yang lama untuk menyadarinya. Meraih impian untuk studi di luar negeri memang tidak mudah, but it’s not impossible.

Salam PPIA!

Hesti Retno Budi Arini

(University of Queensland)

IMG-20180924-WA0014

Bisa Karena Terbiasa

Thumbnail_PPIAVlog

Saya tidak lulus SMA. Begitu saya mendekati akhir SMA kelas dua, saya langsung merengek minta disekolahkan di foundation yang berlokasi di Sydney. Saya yang berumur 16 tahun waktu itu ngebet sekali cepat-cepat keluar dari Indonesia, tidak terpikir betapa susahnya hidup di negeri orang tanpa riset yang matang. Di sisi lain, saya juga tidak yakin kalau nilai A level saya akan mencukupi untuk masuk kuliah jika saya lulus nanti. Setelah saya menjelaskan alasan saya kepada orang tua, akhirnya mereka menyetujui dan menyanggupi.

Semua berjalan dengan lancar, awalnya. Setelah satu tahun saya belajar di Sydney, keluarga saya terkena kendala finansial. Dari uang jajan yang mulai dikirim terlambat, kemudian dikurangi, kemudian tidak sama sekali. Saya sadar saya harus putar otak untuk menutupi biaya hidup bahkan sampai daftar beasiswa sana-sini (yang sayang sekali hanya mentok di tahap interview karena nilai saya ngepas saja, hahaha).

Tapi saya sadar, rasanya saya kurang ajar sekali bila menyerah di tengah jalan seperti ini. Keluarga saya tidak kenal lelah mendukung saya, mentally dan financially, sedangkan saya merengek minta pulang ke Indonesia lagi. Ditambah lagi saya tidak memiliki ijazah SMA, tidak punya pegangan lain. Mau tidak mau, saya tetap belajar sambil kerja part-time. Anak manja seperti saya tiba-tiba berkerja di restoran cepat saji pada shift pagi, kemudian kuliah sore hingga malam. Keadaan berubah begitu mendadak, rasanya kalau saya ingat-ingat lagi begitu ngilu karena waktu itu belum terbiasa, hahaha!

Kehidupan saya hanyalah kerja dan belajar, begitu terus setiap bulan. Saya kala itu tidak memiliki teman. Walaupun tampang saya seperti ‘anak gaul Jakarta’ (ini verbatim! Hahaha) saya sebenarnya tidak pandai berkenalan dengan orang baru. Namun, saya senang berorganisasi dari SMP, karena secara langsung organisasi ‘memaksa’ orang lain untuk berkenalan dan berkerja dengan saya. Saya bisa melewatkan kenalan basa-basi yang saya tidak sukai. Akhirnya, saya memutuskan untuk masuk PPIA University of Sydney (USYD) 2016.

Saya mendaftar menjadi anggota desain di PPIA USYD, dan di tahun yang sama ditawari posisi menjadi anggota seni budaya dan olahraga di PPIA New South Wales (NSW). PPIA NSW mempercayakan saya untuk menjadi project manager sebuah acara drama, yaitu Panggung Pahlawan. Sebagai anak baru yang juga culun, tak terhitung berapa kali saya menangis di depan teman-teman karena tekanan memegang acara, hahaha. Walaupun tidak semua berjalan mulus, saya senang dapat bertemu dengan teman-teman baru yang tidak sungkan untuk saling membantu. Teman-teman saya juga tidak ragu untuk mengajarkan hal baru kepada saya, alias tidak pelit ilmu. Kudos!

Selesai masa jabatan 2016-2017, saya kembali ditawarkan untuk menjadi anggota staf desain PPIA NSW tahun 2017-2018. Jujur saja, saya suka pusing bila ada tugas yang didelegasikan secara mendadak kepada saya. Namun, tugas-tugas seperti itu terkadang nagih lho, ya. Mungkin karena saya juga yang senang mengerjakan apapun yang berbau desain. PPIA UTS tahun itu juga menyelenggarakan drama musikal yang berjudul Epilogue, yang saya, lagi-lagi, juga menjadi bagian dari itu. Saya bersyukur karena PPIA cabang dan ranting tidak bosan melihat muka saya yang begitu-begitu saja.

Di tahun terakhir saya kuliah, saya sudah berpikir untuk tidak mendaftar ataupun terlibat dengan PPIA manapun, karena ingin fokus serta memberikan kesempatan kepada murid lainnya. Mendekati akhir periode saya menjabat di PPIA NSW, saya tiba-tiba ditelpon oleh teman saya dari Wollongong. Kemudian ia bilang ketua PPIA Pusat ingin berbicara dengan saya. Waktu itu Mas Hakam baru saja terpilih menjadi ketua baru, dan wajahnya terpampang di instastory teman-teman saya yang mengikuti Kongres PPIA di Brisbane. Mas Hakam menawarkan posisi ketua divisi desain kepada saya, dan saya, tentu saja, sempat ragu karena saya terbiasa berkerja di bawah pimpinan orang lain. Namun kini di sinilah saya, di semester terakhir kuliah, menjabat sebagai ketua divisi desain, hahaha! Acara dan skala yang diurus oleh PPIA Pusat membuat saya sempat kewalahan karena perbedaan yang mencolok dibanding ketika saya menjabat di cabang dan ranting. Sekalian saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang kini berkerja dengan saya bila saya masih banyak kurangnya, hehehe.

Saya senang menjadi bagian dari PPIA, di manapun itu, karena saya tidak pernah berhenti mempelajari hal baru. Walaupun capek harus juggling waktu antara kuliah, kerja dan berorganisasi, saya tidak pernah kapok terlibat dengan PPIA. Sebagai orang yang mudah kesepian namun juga malu berkenalan dengan orang lain, PPIA beserta acara-acaranya membantu saya untuk bertemu dengan teman-teman baru, bahkan konco kenthel, hehehe. Kesibukan-kesibukan yang berarti ini membuat saya lupa bahwa saya adalah murid manja yang penakut tiga tahun lalu. Saya sangat bersyukur akan hal itu.

Kalau saya diizinkan untuk memutar waktu, saya ingin berbicara kepada diri saya tiga tahun lalu. Ingin sekali memberi tahu kalau hidup tidak semulus yang kamu kira. Namun jangan terlalu khawatir, karena kamu akan bertemu orang-orang baik. Dan orang-orang baik ini akan membuat hidupmu lebih baik pula. Also, perbanyak istighfar biar gak nangis terus, hahaha!

Jangan lupa, kamu bisa karena terbiasa.

Salam PPIA! 🙂

 

Alya Budiman

(University of Sydney)

Woman from East and her dreams

IMG_1485 

Setiap kita tentu punya impian, entah itu akan tercapai suatu saat nanti ataukah tetap menjadi sepotong impian yang tergantung dilangit sana. Dan sayapun memiliki impian masa kecil untuk menjadi seorang Apoteker yang bekerja di apotek dan bertemu banyak orang. Seru saja berpikir menjadi seorang “penjual obat”.

Bagi seorang bocah usia 7 tahun, tergila-gila dengan profesi apoteker tentulah tak lazim kala itu. Harusnya bermimpi menjadi princess seperti dalam dongeng.  Dan pula profesi apoteker saat itupun belum sepopuler sekarang yang banyak digandrungi anak-anak muda. Terus, kok bisa ya? Hmmmmhm…… Pemberian vitamin C Bodde bergambar boneka sirkus oleh sepupu jauh saat saya main ke apotek tempat kerjanya itu yang menjadi alasannya. Rasa asam manis asam askorbat dan gambar yang lucu itulah yang membuat saya penasaran dengan sekolah yang bisa mengantarku bekerja di apotek.

Dan saat yang telah lama kunanti akhirnya datang juga. Di tahun 1998, saya bisa mendaftar pada sekolah impian. Walaupun mama, yang merupakan “entrepreneur” sejati, menghendaki agar saya menjadi perawat. Yah, jika nanti sudah berusia lanjut dan sakit, tentu saya bisa merawatnya. Lagi pula, waktu kecil saya langganan ke dokter hampir setiap bulannya. Namun, karena saya sudah menunggu waktu ini dari sewindu, maka diam-diam Sekolah Menengah Farmasi Depkes Kupang (SMF) yang saya daftar. Waktu bilang ke mama tentang SMF, beliau sedikit kecewa karena menginginkan saya masuk SPK. Alasannya saya dapat langsung bekerja selepas lulus nanti. Walaupun sebenarnya itu bukan alasan utama, anak tunggal merupakan alasan utama. SMF lokasinya di Kupang (pulau Timor), sedangkan saya bisa tetap berdomisili di Ende bersama mama, jika memilih SPK. Apa mau dikata, saya terlalu ingin menjadi Apoteker dan SMF adalah langkah awal menjadi Apoteker. Sayapun berada dalam dilema apakah tinggal dengan mama atau meraih mimpi. Tapi saya percaya yang terbaik sesuai kehendak-Nya. Sayapun lulus test masuk SMF dan merantau ke Kupang di usia 15 tahun.

Saya bersekolah selama 3 tahun di SMF dan lulus di bulan Juni tahun 2001. Saya sudah menggapai separuh mimpi saya. Dalam usia masih 18 tahun saya sudah bekerja dan punya gaji sendiri. Senangnya bukan kepalang, apalagi gaji saya lebih besar dari PNS kala itu.  Itu adalah salah satu alasan saya malas daftar CPNS saat itu. Saya masih punya banyak waktu, pikirku.  Rencansaya bekerja 2-3 tahun lagi sambil menabung biaya kuliah yang masih mahal saat itu. Kasian mama saya kalau harus menanggung semuanya. Apalagi biaya SMF-ku dulu sudah terhitung mahal buat ukuran SMA. Cita-citaku melamar CPNS saat 25 tahun, setelah menjadi apoteker dan bekerja di swasta 2 tahun. Namun, saya disarankan aji mumpung mendaftar CPNS. Lulus syukur, kalaupun  tidak lulus masih ada tahun-tahun berikutnya.

Sayapun menguji peruntungan di bulan Agustus 2001. Namun ketika lulus sekitar November, saya lalu berpikir kapan saya bisa lanjut kuliah? Antara bahagia, bingung dan shocked karena di luar ekspektasi. Bingung karena saya harus menunggu 5 tahun buat tugas belajar. Bahagia karena telah membanggakan mama dan almamater saat langsung lulus PNS provinsi hanya 5 bulan setelah lulus SMF. Namun, saya percaya “semua indah pada waktu-Nya”. Saat menelpon mama, beliau amat terkejut bercampur bahagia. Kemudian berpesan untuk tetap selalu menjadi anak yang jujur, takut akan Tuhan dan banyak berdoa karena saya bekerja bagi orang sakit.  Jangan pernah membuat orang yang kena musibah menangis karena air mata mereka akan membuat hidup kita lebih susah dikemudian hari. Dan hidupku dimulai dengan babak baru bekerja sebagai PNS namun tetap meredam asa.

Pada tahun 2004, saya mendaftar program khusus 2 tahun D3 Farmasi bagi lulusan SMF yang sudah bekerja. Perjuangan mendapat beasiswa Pemda NTT gagal dengan alasan masa kerja. Namun tak hilang akal, saya melobi beasiswa bagi tenaga kesehatan NTT pada Dinas Kesehatan dan bertemu dengan Kadis dr. Stefanus Bria Seran yang sangat mendukung peningkatan pendidikan bagi SDM Kesehatan. Setelah melewati proses yang penuh tantangan, akhirnya sayapun mendapatkan beasiswa. Walaupun tidak sepenuhnya ditanggung Dinkes, paling tidak waktu bisa kubeli buat mempersingkat waktu kuliah apoteker nanti.

Selesai kuliah D3 Farmasi dengan segala lika-likunya, akhirnya pada tahun 2006 di pulau Alor,  saya bertemu dengan kak Ermi Ndun, alumni AAS yang bekerja pada Dinkes NTT dan sosok yang sangat menginspirasi anak muda NTT. Hasil dari pertemuan itu adalah rajutan mimpi terbesarku, yaitu kuliah S2 di Australia. Yeiiii!!!! Mimpi kali ini membuatku berpacu lebih cepat melawan waktu. Segera kuusulkan tugas belajar di tahun 2008 agar secepatnya lulus apoteker dan melamar AAS.

Kali ini sebagai wanita yang sudah menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang berasal dari pulau Rote, menggapai mimpi bersama AAS bukanlah perkara mudah, dimana saya harus kuliah ribuan mil dari Kupang. Namun membawa anak-anak adalah mimpiku juga, sambil membagi waktu belajar dan keluarga. Dan pengorbanan terbesar saya adalah saat mengikuti Pre Departure Training di Bali, karena harus meninggalkan keluarga tercinta berbulan-bulan lamanya. Setelah melalui perjuangan dan drama kehidupan yang menantang, akhirnya saya bisa meraih mimpi dari masa kecil menjadi apoteker dan mimpi terbesar saya, mengambil pendidikan master di Australia. Dan bonus dari mimpi-mimpi itu adalah anak-anak pun akan dapat merasakan kehidupan di Australia.

Kepada anak-anak saya maupun semua anak muda yang saya jumpai, saya selalu berkata : “Selama mimpi masih gratis dan tidak berbayar bagi siapapun dia, maka mimpilah setinggi-tingginya, semesta akan mendukung jika kita percaya dan bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi kita”. Sekalipun sekarang saya sudah mencapai mimpi-mimpi saya, namun saya masih menaruh mimpi-mimpi lainnya pada rasi bintang Crux di atas sana. Ketika saya melihatnya, saya teringat mimpi-mimpi saya yang digantung di atas bintang dan akan menggapainya. Semoga.

 

Salam sukses buat para peraih mimpi.

 

Thresia Maria Wonga

(The University of Adelaide)

 

 

Great Things Never Came from Comfort Zones

 

Berada jauh dari negara asal dan harus beradaptasi di negara yang kita tidak familiar jelas merupakan sebuah tantangan. Tidak pernah terpikir dari bangku SMA kalau pada akhirnya saya akan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Pertama kali menginjakkan kaki di Canberra, satu hal yang terpikir adalah “Mengapa kota ini begitu sepi?” Hahaha. Dibandingkan dengan Jakarta, Canberra bisa dibilang bukanlah pilihan yang tepat untuk anak yang terbiasa dengan kehidupan di Jakarta. Namun melalui kota inilah saya banyak belajar dan saya bertumbuh menjadi diri saya  sekarang.

Sempat merasa menyesal dengan keputusan saya karena memilih untuk melanjutkan di kota Canberra, namun melalui organisasi PPIA inilah saya merasa beruntung bisa belajar di kota Canberra. Saya cukup aktif dalam organisasi PPIA dari awal saya masuk university. Awal mulanya, keinginan bergabung di PPIA ANU dikarenakan adanya rasa senang di dalam hati di saat bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Namun setelah bergabung, saya merasa organisasi ini sangatlah penting. Selain mengobati rasa rindu akan rumah, kita juga bisa memberikan kontribusi positif sebagai mahasiswa dan sebagai orang Indonesia. Maka dari itu, hingga hari ini saya masih aktif dalam organisasi PPIA ini. Selain di PPIA ANU, saya juga pada akhirnya memutuskan untuk bergabung PPIA cabang Australian Capital Territory (PPIA ACT). Menariknya, memang pada waktu itu saya sudah mempunyai minat untuk bergabung dalam PPIA ACT, tapi saya tidak menyangka akan bergabung di posisi sekretaris dan dengan cara seperti itu.

Beberapa hari setelah terpilihnya Welhelmus Poek atau yang lebih dikenal sebagai Mas Mus sebagai president PPIA ACT 2018-2019, sekitar jam 6 pagi saya menerima permintaan pertemanan dari Mas Mus di Facebook saya. Dikarenakan Canberra tergolong kota kecil, kita dengan mudah mengetahui kabar terpilihnya Mas Mus. Lalu setelah saya menerima permintaan pertemanan dari dia, saya mengirim pesan untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi President PPIA ACT. Setelah itu kami berbincang dan saya menawarkan diri saya untuk menjadi kepala bagian di divisi minat, bakat, dan keterampilan. Lalu saya ingat Mas Mus menjawab “Wah aku senang kalau ada anak muda kayak kamu, I will give one strategic position to you.” Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan Mas Mus untuk membicarakan posisi di PPIA ACT dan saya sempat bimbang saat ditawarkan untuk memilih antara posisi sekretaris atau kepala bagian divisi minat, bakat, dan keterampilan. Sejujurnya, saya sedikit takut jika saya memilih menjadi sekretaris saya hanya belajar hal administrasi-administrasi saja. Namun pada waktu itu, Mas Mus bilang ke saya kalau ini merupakan posisi yang strategis kalau kamu mau belajar banyak.  Saya bersyukur saya mengambil keputusan untuk mengambil posisi sekretaris ini, karena saya benar-benar belajar banyak. Mulai dari bertemu dengan orang-orang penting dan juga mengkoordinir acara-acara Indonesia di Canberra dan juga antar negara bagian.

Selain itu, berada di ibukota Australia yang merupakan pusat pemerintahan Australia merupakan suatu privilege bagi saya sebagai pengurus PPIA. Kedutaan Besar Indonesia yang terletak di Canberra cukup memudahkan bagi kami sebagai pengurus PPIA ACT untuk berkomunikasi dengan Duta Besar Indonesia di Australia dan pejabat-pejabat lainnya. Salah satu yang membuat saya terkesan atas privilege bisa belajar dan berorganisasi di PPIA ACT ini adalah ketika Konselor Menteri Penerangan, Sosial, dan Budaya secara personal memuji kinerja saya. Sebagai mahasiswa, pujian itu sangat berarti dan membuat saya sendiri termotivasi untuk berkembang dan berkontribusi lebih lagi. Dari PPIA, saya banyak belajar mengenai leadership, teamwork, dan juga dalam hal time management, khususnya di saat saya diharuskan untuk bijak dalam membagi waktu untuk mengerjakan assignment dan mengkoordinir keberlangsungan kegiatan PPIA.

Seperti yang tertera pada judul, saya percaya “Great things never came out from comfort zone.” Jadi melalui tulisan ini, saya ingin mendorong kalian, di mana pun kalian berada dan ditempatkan, always challenge yourself dan jangan takut untuk berkontribusi lebih! Apalagi untuk Indonesia!

Salam PPIA!

October

Joshlyne Edwina

(Australian National University)

Petualangan yang Berawal dari Mimpi

Saat masih di bangku SMA mungkin kita pernah menuliskan mimpi kita untuk melanjutkan kuliah di universitas mana. Beberapa orang mungkin tidak percaya dengan hal ini karena apalah arti dari sebuah tulisan di kertas yang ditempel di dinding kelas. Termasuk saya, bahkan setiap kali saya disuruh untuk menuliskan cita-cita mau ke mana selanjutnya , saya tidak pernah serius untuk menulisnya. Oleh karena itu saya selalu menulis akan melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Australia. Sejujurnya saya juga tidak tau apa motivasi saya untuk menuliskan cita-cita yang bahkan pada saat itu saya cuma menganggap sebagai mimpi saja, karena tidak ada yang salah dengan mimpi. Tetapi dengan berjalannya waktu, setiap kali melihat tulisan tersebut, hati kecil saya selalu meminta untuk mewujudkannya. Alhamdulillah dengan doa dan dukungan orang tua, mimpi saya terwujud, saya berhasil sampai di University of Wollongong (UoW). Di sinilah petualangan itu dimulai.

Sebelum masuk Uni, saya harus mengikuti college Bahasa Inggris selama 6 minggu di UoW. Tidak memiliki kerabat atau orang yang saya kenal di Wollongong, saya memutuskan untuk mengontak PPIA UoW. Terima kasih untuk Mas Aan, President PPIA UoW waktu itu (tahun 2015), yang mau membantu saya untuk mencarikan rumah dan bahkan saat pertama kali sampai, beliau membantu saya untuk pergi membeli barang yang saya butuhkan sembari mengajak keliling kota Wollongong. Saat itu saya masih pemalu karena masih baru dan jadinya merasa kesepian karena tidak memiliki teman, lalu saya diajak main dan mulai berkenalan dengan teman-teman lainnya dan juga keluarga besar PPIA UoW.

Lalu tahun pertama saya di Uni dimulai, saat itu saya sudah pindah ke Sydney karena kelas yang saya ikuti memang berada di Sydney bukan di Wollongong. Di Sydney saya tinggal di rumah wakaf yang juga berfungsi sebagai musholla milik salah satu komunitas muslim di Sydney. Tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di luar kesibukan perkuliahan. Tugas, buku, dan angka mungkin teman dekat yang saya punya. Jarang ada waktu untuk nongkrong seperti saat masih di Indonesia, paling hanya beberapa kali saja karena memang teman kampus saya hanya ada sekitar 32 orang dan itu pun setelah kelas mereka langsung pulang karena kebanyakan dari mereka berasal atau tinggal diluar kota Sydney. Jadi ya saya lebih banyak aktif dan berteman dengan komunitas. Rata-rata mereka semua telah berkerja dan berkeluarga. Sebagai anak muda pastilah ingin mencari teman sebaya dan merasakan ‘Sydney’ tetapi masih belum kesampaian. Mungkin hanya keliling kota untuk menghapus rasa bosan. Untungnya saya berkenalan dengan seseorang yang kita sering jalan bareng. At least saya ada teman ngobrol dan curhatlah. Oleh dia, saya akhirnya berkenalan dengan anak-anak PPIA kampus lain yang ada di Sydney.

Tahun kedua, petualangan ini saya lanjutkan dengan memutuskan untuk pindah ke kampus utama di Wollongong. Salah satu alasanya adalah saya ingin merasakan kehidupan kampus yang sebenarnya karena kampus yang di Sydney hanya kampus satelit atau cabang dari UoW. Kembali ke Wollongong, saya tinggal di Dallas House, rumah legendnya mahasiswa Indonesia di Wollongong. Karena saya ingin merasakan kehidupan kampus di luar negeri seperti di film-film, saya memutuskan petualangan ini untuk melakukannya dengan ‘STUDY HARD, PLAY HARD’.

Sibuk dengan tugas, essay dan dikejar deadline. Saya masih sempat untuk menikmati kehidupan dengan teman-teman, main game bareng dan melakukan hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah saya pikirkan untuk melakukannya. Selain itu juga ada drama-drama klasik seperti pertemanan dan percintaan yang turut mewarnai petualangan ini.

Lalu saya juga mulai aktif di PPIA UoW dan saat ini juga di PPIA Pusat. Belajar berorganisasi dari orang – orang hebat dan menambah networking sangat berarti bagi saya. Hingga satu waktu saya pernah termenung mengingat apa saja yang telah saya lalui dalam petualangan saya  selama ini.

Dulu yang hanya sebatas mimpi yang saya tempel di dinding kelas, entah bagaimana mengantarkan saya berdiri dan bertualang di benua Australia. Bertualang mencari ilmu dengan dosen terbaik, bertemu dengan beragam macam orang dan pengalaman baik yang enak maupun tidak enak, telah emberi saya pelajaran yang beguna untuk masa depan. Tidak hanya dalam konteks studi tetapi juga dalam kehidupan.

Di situ saya percaya, bahwa mimpi bisa jadi nyata. Mimpi yang dulu saya tidak anggap serius saja bisa jadi nyata. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi-mimpi itu akan membawamu pada petualangan yang luar biasa!

20180917_120630

Fuad Alghani

(University of Wollongong)

Ketika Saya Memilih Jalan yang Sulit

35721691_10212281620304283_3429017840911384576_n

Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk melanjutkan studi Strata 2 (Master), walau harus melewati berbagai drama kehidupan. Yah, seperti yang Allah firmankan dalam Alquran, “Innamal khayatud dunya la’ibuw wa lahwun…”, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Oke, gak nyambung.

Kok jalan yang sulit? Hmmm… Gimana yah. Tahun 2012 saya menjadi sarjana dan mulai memasuki jenjang karir pada dunia kerja. Dari tahun itulah saya mulai menikmati uang hasil kerja sendiri dengan hasil yang ‘proper’. Uang hasil kerja saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Yah, untuk modal membangun keluarga kelak. Walau sampai sekarang gak nemu-nemu juga yang cocok, wkwkwkwk… Di saat kondisi seperti itu, mungkin sebagian orang mungkin lebih memilih karir dan kehidupan yang settle, daripada kembali ke bangku kuliah, ngekos lagi, ngerjain tugas lagi, dan sederet kegiatan mahasiswa lainnya. Namun, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Saya sadar, tak ada yang menjamin 100% bahwa dengan saya kuliah, saya akan menjadi pribadi yang saya cita-citakan. Tak ada. Tak ada garansi bahwa kondisi finansial saya akan menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya masih kerja dulu. Tak ada. Namun, saya ambil resiko itu. Bukankah hidup itu pengorbanan? Bukankah untuk menggapai bintang kita harus berusaha dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Tidak menjamin berhasil memang. Tapi tidak melakukan apa-apa akan menjamin kita untuk gagal meraih mimpi. Takkan lari gunung kau kejar, tapi takkan sampai bila tak kau daki. Begitu kira-kira.

Lah, emangnya apa sih yang mau dicari dari belajar Master? Mau jadi dosen? Enggak, sih. Soal alasan mendasar untuk melanjutkan jenjang Master kayaknya bakal perlu kisah dengan judul tersendiri, deh. Gak cukup kalo diceritakan di sini, hehehe…

Anyway, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa saya agak terlambat mengambil jenjang Master ini. Mungkin benar juga sih, hahaha… Banyak teman-teman saya yang kini sudah mengambil jenjang Doktoral di luar negeri, beasiswa pula. Bahkan adik kelas saya sudah banyak yang menyandang gelar Master. Yang tak melanjutkan kuliah pun banyak yang sudah melanglang buana, berkeliling dunia, dan memberi kontribusi kepada manusia dengan prestasinya yang berjuta. Saya? Kuliah S2 saja baru mau mulai. Tertinggal banyak langkah nampaknya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Ngapain sih lu, pake S2-S2 segala. Kawin dulu, lu tuh dah tua tauk!” Jlebbb… Hikss, tak apalah, kan katanya tiap orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri (ini lebih ke arah “menghibur diri” sih, wkwkwk…). Yah apapun itu, semoga kedepannya saya masih diberi kesempatan untuk berhasil dan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW, “khoyrunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin. Yang baca bilang aamiin juga donk, hahaha…

Well, sebenarnya ide untuk melanjutkan studi master sudah ada dari dulu. Bahkan sebelum saya masuk kuliah Strata 1 (Bachelor). Namun, mimpi ini sempat terkubur dan terlupakan selama bertahun-tahun. Awalnya saya berkeinginan untuk kuliah di Inggris, dan praktis Chevening menjadi sorotan saya. Sayangnya, beasiswa bergengsi ini mensyaratkan pelamar harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun. Oh ya sudah, kerja dulu lah. Begitu pikir saya. Dan ternyata, saya keterusan bekerja hingga 5 tahun. Kemampuan Bahasa Inggris? Jangan ditanya, degradasi dimana-mana. Hingga pada pertengahan 2016, saya azzamkan hati untuk menggali kembali mimpi yang sudah tertimbun rutinitas harian. Saya mulai bergabung dengan Indonesia Mengglobal dan belajar banyak tentang dunia scholarship termasuk academic writing bersama mentor saya waktu itu. Bulan Desember 2016 saya putuskan untuk mengambil unpaid leave dari perusahaan agar saya bisa belajar IELTS. Dan saya memilih Pare Kampung Inggris sebagai tempat pertapaan saya.

Singkat cerita, setelah melalui drama ini dan itu (dramanya juga bisa dibikin cerita tersendiri, loh, hahaha…), saya memilih Monash University sebagai tempat tujuan belajar dan Master of Business Information System sebagai subjek studi, bukan kampus-kampus kenamaan di UK. Saya pun ambil tes IELTS dengan modal hasil belajar di Pare, buat essay lalala lilili, translate ijazah ke dalam Bahasa Inggris dengan bantuan penerjemah tersumpah. Setelah dokumen untuk mendaftar kampus dirasa lengkap, termasuk transkrip IELTS, saya apply tujuan studi yang saya minati itu dengan bantuan IDP. Setelah mendapat Unconditional Offer Letter, saya memupuk kepercayaan diri saya untuk mendaftar beasiswa LPDP reguler. Dan, alhamdulillah, tahap demi tahap berhasil saya lalui. Dengan kemudahan dari-Nya, wejangan-wejangan teman dan mentor, dan doa-doa dari keluarga tercinta, saya dinyatakan lulus. Sampailah saya di sini sekarang, Melbourne yang katanya kota pendidikan. Salah satu kota ternyaman untuk ditinggali di muka bumi. Katanya.

Jalan perjuangan masih panjang, dan itu harus saya lalui. Mungkin tidak semudah jalan waktu saya bekerja dulu, tapi Allah berfirman, “Inna ma’al ‘usri yusroo”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Oleh karena itu, saya mohon doa para pembaca sekalian yang budiman agar saya memperoleh ilmu yang bermanfaat, berhasil meraih apa yang saya cita-citakan, dan mampu memberi kontribusi yang nyata kepada masyarakat di manapun saya berada. Dan semoga doa-doa yang pembaca panjatkan juga kembali kepada diri pembaca sekalian.

Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasku dan atas orang-orang yang menuntut ilmu dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan jalan kami payah dan bermasalah, Aamiin…

Salam sukses!

Yugo P. Ananda, Melbourne, 20180619