Latest Posts

Mengejar Kebahagiaan yang Dapat Diterima Diri Sendiri

IMG_0354

 

Sebenarnya apa sih yang perlu manusia lakukan selama hidupnya? Menurut saya, setiap pribadi perlu berjuang untuk mengejar kebahagiaannya dengan cara yang bisa diterima oleh dirinya sendiri, bukan yang bisa diterima oleh lingkungan. Terdengar klasik yah, tapi itulah yang selalu saya pegang untuk terus bahagia. Saya tidak pernah kecewa dengan konsep hidup tersebut – karena dari hal tersebut, saya bisa berdiri di mana saya sekarang.

Nama saya Marvin Lucky. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen. Kenapa saya memulai dengan informasi ini? Karena saya bangga dengan kondisi saya saat ini. Saya menjalani masa perkuliahan saya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Dari sanalah, rasa cinta saya pada Republik Indonesia ini terpupuk dan bertumbuh. Semakin banyak saya tahu tentang pertanian Indonesia, semakin saya ingin menjadi bagian dalam perkembangan bangsa. Apakah latar belakang saya membuat saya mundur? Tentu tidak. Saya mengerti dan sadar, menjadi pejuang pertanian dengan latar belakang sebagai mahasiswa Indonesia-Tionghoa bukan hal yang lumrah. Dimana sebagian besar lebih tertarik menjadi seorang pebisnis, saya mencoba untuk bertahan dengan idealisme ini.

 

Sempat hampir menyerah dengan idealisme tersebut, Tuhan memberikan jalan untuk tetap bertahan dan berjuang di bidang pertanian. Saya mendapatkan beasiswa LPDP Indonesia (terima kasih banyak, LPDP, untuk kesempatan ini). Tidak ingin membuang kesempatan emas ini, saya segera bergerak dan mencari kampus dan jurusan pertanian terbaik di dunia. Pilihan saya jatuh ke the University of Adelaide. Saya mengambil Master of Global Food and Agricultural Business untuk jangka waktu 2 tahun perkuliahan. Tidak pernah ada penyesalan saat mengambil keputusan ini, karena the University of Adelaide adalah universitas terbaik dengan sejarah pertanian yang kuat. Saya banyak belajar (hingga sekarang) dari sistem pembelajaran, ilmu baru, dan teman-teman yang luar biasa.

 

Dua minggu setelah menginjakkan kaki di Adelaide, saya ditawarkan untuk menyalonkan diri menjadi ketua PPIA The University of Adelaide periode 2015. Awalnya, saya sempat minder karena latar belakang saya. Tapi saya memutuskan untuk menyalonkan diri. Meskipun ada kemungkinan kalah, setidaknya saya telah berjuang. Prinsip yang saya pegang teguh saat proses pemilihan hingga sekarang adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan berkat prinsip tersebut saya berhasil menjadi Ketua PPIA The University of Adelaide tahun lalu. Setahun bersama tim PPIA The University of Adelaide memberikan pengalaman dan cerita yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Susah, senang, capek, dan semangat mengiringi jalan kami selama setahun. Saya belajar untuk menerima kritik, untuk menerima perbedaan, dan untuk terus merangkul seluruh mahasiswa Indonesia di Adelaide. Saya sadar saya ketua yang jauh dari sempurna ketika menjalankan tugas, akan tetapi saya bangga dapat menyelesaikan masa jabatan saya dengan baik.

 

Selama berkuliah, mimpi saya adalah untuk pergi ke Roma, Italia dan bekerja di FAO-UN (Food and Agricultural Organization – United Nations) yang berpusat di ibu kota Italia. Saya bercita-cita untuk membantu seluruh manusia di dunia ini untuk mendapatkan makanan yang cukup, sehat, dan bergizi. Mimpi yang cukup simple, bukan? Memang, tapi saya sadar saya harus banting tulang dan berkorban demi mewujudkan impian saya. Meskipun begitu, saya tidak akan menyerah karena saya tahu saya sedang berjuang untuk mengejar kebahagiaan diri saya sendiri. Jujur, saya masih belum mengerti bagaimana cara terbaik untuk menuju ke sana. Namun saat ini saya sedang magang di UNORCID (United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia) yang bergerak di bidang kerusakan hutan dan pengurangan emisi karbon. Rasa cinta saya terhadap Indonesia semakin bertambah setelah saya mengerti bahwa sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi mengapa banyak orang Indonesia tidak ingin berkontribusi untuk memajukan Indonesia? Kenapa orang Indonesia cenderung merusak tatanan yang sudah baik ini? Kenapa orang Indonesia hanya bisa menggerutu dan protes saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya? Sebagai informasi, menurut World Bank 2015, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tahun 2015 menghasilkan kerugian dua kali lebih banyak dibandingkan dana yang diperlukan untuk membangun Aceh setelah tsunami. Singkatnya, tiga bulan kebakaran di tahun 2015 sama dengan rekonstruksi pembangunan di Aceh selama 10 tahun, dikali dua!

 

Sebagai penutup, saya bukan orang yang cukup percaya diri dengan masa depan. Saya pun belum memiliki gambaran jelas mengenai diri saya sendiri dalam lima tahun ke depan. Saya hanya ingin mengejar kebahagiaan yang bisa saya terima. Saya pun mengajak rekan-rekan untuk terus berjuang. Sesulit atau serumit apapun itu, jangan pernah menyerah. Tidak perlu minder akan masa lalu dan segala sesuatu yang sudah “nempel” di diri kita, tapi banggalah karena kita tidak menyerah untuk berjuang untuk bahagia. Salam PPIA ^^

___________________________________________________________________________________________

Marvin Lucky adalah penerima beasiswa LPDP yang saat ini sedang menekuni gelar Master of Global Food and Agricultural Business di University of Adelaide.

Mengejar cita-cita di bawah langit Adelaide

Oleh: Rifqi Satya Adhyasa *)

Selepas kelas 12, sama halnya dengan mayoritas alumni SMA pada umumnya, saya galau dalam memilih jurusan kuliah S1 saya. “Pilih jurusan kuliah ga usah yang susah-susah Qi, pilih aja yang kamu gemari dan sukai,” tutur orangtua saya. “Karena kalau kamu pilih suatu jurusan demi gaji tinggi saja, kamu akan stress dan nggak akan puas dengan hidupmu. Semua profesi bisa bikin kamu sukses, selama kamu jalani dengan sebaik-baiknya dan kasih semuanya. Pilih jurusan yang bisa menonjolkan bakat dan kegemaranmu. Jangan ambil jurusan mainstream cuma karena kamu khawatir nggak dapet pekerjaan. Bila industrinya belum ada, kamu selalu bisa bikin sendiri. Batasan satu-satunya dalam hidup adalah dirimu sendiri.”

“Kamu harus bangga jadi diri sendiri. Ayah sama Ibu bangga kok sama kamu, selama kamu bisa hidup mandiri dan nggak jadi beban hidup orang lain.”

Perkataan bijak di atas ini menginspirasikan saya untuk memilih jalan hidup yang juga tidak kalah anti-mainstream. Tidak seperti kota-kota utama lain di Australia seperti Melbourne, Sydney, Perth, dan Brisbane, Adelaide adalah satu-satunya kota yang belum pernah saya datangi semasa menjalani pendidikan SMP dan SMA di Canberra selama lima tahun. Saya juga belum punya koneksi mahasiswa Indonesia di Adelaide sebelumnya. Sedangkan dari segi demografis, Adelaide juga merupakan kota utama yang memiliki jumlah pelajar Indonesia paling sedikit di Australia.

“Life begins at the end of your comfort zone” (Kehidupan dimulai di luar zona aman kita). Pepatah dari jejaring sosial Instagram inilah yang telah menjadi pedoman saya untuk tidak pernah takut akan berbagai ketidakpastian dalam hidup. Berbekalkan saran dari orang tua, tingkat kenekatan level dewa serta sebuah pepatah pendek dari Instagram, saya putuskan untuk menjalani program S1 jurusan Marketing and Communication di University of South Australia (UniSA), Adelaide. Adelaide bukanlah kota yang terkenal bagi pelajar S1 Indonesia seperti saya. Namun, saya melihat kota ini sebagai tempat yang tepat untuk memperluas wawasan dan menemukan jati diri saya yang sebenarnya.

Sudah banyak hal yang saya pelajari selama berdomisili di Adelaide dua tahun ini. Pertama, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri adalah suatu kesempatan langka. Menurut saya, penting bagi pelajar Indonesia di luar negeri untuk memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan melalui menjalin koneksi internasional yang dapat bermanfaat di masa depan. Tetapi, kenyataannya masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang terjebak dalam “The Indonesian Circle”. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana budaya konservatif di Indonesia sering mengakibatkan rasa takut untuk menjalin silaturahmi dan persahabatan dengan warga asing, serta memperkaya wawasan mengenai berbagai pandangan hidup budaya asing di luar negeri. Ironisnya, sistem pendidikan S1 di Australia bertolak belakang dengan ideologi tersebut.

Semasa kuliah di UniSA, saya sadar bahwa pendidikan di dalam kampus tidak lengkap bila tidak dikolaborasikan dengan membangun pengalaman dan wawasan kerja di luar kampus. Dalam kelas, kita diajarkan teori dan ilmu pokok untuk bekerja di industri sesuai bidang masing-masing, namun proses pembelajaran praktis terjadi justru di luar kampus. Contohnya dengan menjadi sukarelawan, bekerja paruh waktu, mengikuti program penempatan kerja dan juga sesi networking. Lewat hal-hal inilah kita dapat mengimplementasikan berbagai ilmu yang telah kita pelajari di kelas, terhadap praktik di ‘dunia nyata’. Ideologi tersebut memotivasi saya untuk bekerja paruh waktu dalam bidang yang sedang saya tekuni. Walau kuliah adalah prioritas utama saya, saya juga selalu berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional. Sekarang, saya bekerja di dua perusahaan yang berbeda – sebagai staf Marketing and Communication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan sebagai Marketing Ambassador di AUG Global Networks cabang Adelaide.

Semasa hidup, awalnya saya pernah mengira bahwa kesempatan datang kepada orang-orang yang sabar menunggu. Namun pengalaman hidup mandiri selama dua tahun di Australia mengajarkan saya bahwa hal tersebut kurang akurat. Salah satu dosen favorit saya pernah berkata; “Opportunities are often disguised as hard work; that is why most people don’t recognize them”. Maka dalam kehidupan nyata, kesempatan emas datang kepada orang-orang yang berani untuk mengambil resiko untuk keluar dari zona amannya demi menjemput berbagai kesempatan dalam hidupnya. Lebih dari itu, kesempatan datang kepada pribadi yang selalu bersyukur pada semua yang ia miliki, serta mereka yang gigih dan cermat dalam membangun koneksi dan relasi. Yang paling penting, kesempatan datang kepada mereka yang cukup percaya akan impian dan tujuan dalam hidupnya. Faktor-faktor tersebutlah yang membuat saya sadar akan empat nilai-nilai pribadi terpenting dalam hidup saya: integritas, pola pikir terbuka, kreativitas, dan rasa bersyukur.

Poin inilah yang memberikan saya motivasi untuk mengambil berbagai inisiatif untuk membantu pelaksanaan berbagai acara dan program di UniSA. Berbagai kontribusi yang telah saya berikan terhadap UniSA antara lain: bertugas sebagai salah satu Business Mentor di kampus, bertanggung jawab sebagai Promotion Team Member di University of South Australia Student Association (USASA), menjabat sebagai Wakil Ketua PPIA UniSA periode 2015/2016, berpartisipasi dalam Unite Leadership Program 2015 dan Business Career Mentoring Scheme, serta berbagai kesempatan acara volunteering lainya. Berbagai aktivitas tersebut memberikan saya ruang dan peluang untuk berinteraksi dan menjalin koneksi lokal maupun internasional. Hal ini dapat bermanfaat bagi berbagai aspek jangka pendek maupun jangka panjang, dalam bidang personal, sosial maupun profesional dalam hidup saya.

Berbagai pengalaman di Adelaide telah merevolusi cara pandang saya mengenai definisi kesuksesan. Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan, namun kebahagiaanlah yang menjadi kunci kesuksesan. Awalnya, saya kira kesuksesan bisa diukur lewat materi. Namun, saya sekarang berpendapat bahwa kesuksesan dapat diukur dari dampak positif dalam kebahagiaan pribadi sekaligus dampak yang kita berikan kepada orang lain. Saya juga belajar bahwa selama kita masih diberi umur oleh Tuhan, sukses tidak akan ada ujungnya, dan tidak akan pernah ada batasnya – karena sesungguhnya, satu-satunya sekat yang membatasi kita dari sebuah impian adalah rasa takut akan kegagalan yang hanya terpancar dari dalam diri kita sendiri.

 

 

 

*) Rifqi Satya saat ini sedang menekuni program studi Bachelor of Marketing and Communication di University of South Australia, Adelaide. Selain kuliah, Rifqi berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional dan berorganisasi. Hal ini ia raih dengan berpengalaman kerja di dua perusahaan yang berbeda. Saat ini, Rifqi tercatat sebagai staf Marketing and Comunication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan di AUG Global Networks cabang Adelaide sebagai Marketing Ambassador. Selain itu, Rifqi juga bertanggung jawab sebagai Wakil Presiden PPIA University of South Australia, periode 2015/2016 demi mempromosikan budaya nasional Indonesia, serta membentuk wadah silaturahmi internasional untuk seluruh pelajar Indonesia di University of South Adelaide.

 

 

Beritakanlah, Kawan: Air Mengalir Sampai Jauh…

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*

Akhirnya… :)

Sesuatu yang berawal dengan apik, dan telah berjalan sangat baik, ketika tiba masa berakhir, sepantasnya ia diakhiri dengan indah pula. Setahun begitu cepat. Serasa baru kemarin saya memberi pengantar untuk Diary PPIA dengan tulisan berjudul “Mengawal Bagai Kanal, Biar Deras Air Mengalir”. Semasih tak cukup banyak kisah bisa dirangkai, kini tahu-tahu periode kepengurusan PPIA Aktivis 2014-2015 sudah harus berakhir.

Jika sebuah kisah memiliki prolog, selayaknya ia ditutup dengan epilog. Butuh waktu khusus bagi saya menuliskan ini, di sela persiapan ujian, menata emosi dan bergulat dengan damai hati. Saya bahkan butuh memutar lebih dahulu lagu-lagu legendaris dari Ebiet G. Ade hingga almarhum Gesang untuk mendapatkan atmosfir yang mengena sebelum menulis. Maka inilah semacam catatan akhir periode dan laporan pertanggungjawaban Diary PPIA sebagai sebuah program baru yang diperkenalkan oleh PPIA Aktivis.

(more…)

Jangan Berhenti Sampai Mati

Oleh: Felix Chandra*

Berasal dari keluarga sederhana di kota kecil, saya mempunyai cita-cita yang besar untuk menjadi seseorang yang berguna bagi siapapun. Kesempatan bersekolah di Singapura adalah cikal-bakal saya terbuka kepada mata dunia. Di sana saya merasa sangat terbantu dalam meningkatkan daya percaya diri dan menjalin koneksi dari berbagai macam negara serta menumbuhkan sikap mandiri dalam melaksanakan tugas. Di sana juga saya mulai berkesempatan berorganisasi dengan menjadi salah satu “prefect” yakni istilah yang ditujukan bagi murid yang bertugas menegakkan ketertiban berdasarkan peraturan dari sekolah. Singkat cerita, saya merasa terbantu dengan pengalaman ini dimana saya harus menjadi panutan bagi murid-murid lainnya.

Setelah menyelesaikan “secondary school” dan menyelesaikan ujian GCE-O level dengan hasil memuaskan, saya mulai memikirkan langkah untuk jenjang studi selanjutnya. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia selama satu tahun untuk masa “foundation” sebelum melanjutkan ke RMIT University. Australia, itulah negara kangguru yang merupakan salah satu negara yang ingin saya kunjungi sejak lama. Saya mendapat tawaran untuk menuntut ilmu di negara ini dalam bidang nutrisi pangan dan teknologi.

Diamanatkan menjadi salah satu ketua publikasi dalam proyek tahunan PPIA RMIT yang ke-3 bertemakan “Project O IGNITE” merupakan kesempatan emas mengasah ketertarikan saya untuk menjadi ketua dan di bidang yang cukup menarik perhatian dalam sebuah acara besar. Mandat ini pun saya laksanakan dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan bagi saya. Selepas masa jabatan ini, saya diberi kesempatan untuk melayani hubungan masyarakat PPIA RMIT pada tahun 2014. Jabatan tersebut saya jalankan selama satu tahun dibarengi dengan pendaftaran untuk menjadi penanggung jawab media sosial PPI Australia.

(more…)

Ini Bahagiaku… Mana Bahagiamu?

Oleh: Frisca Setyorini*)

Sejak saya mulai bekerja dan merantau ke ibukota, aktivitas rutin yang saya lakukan hanya pergi dan pulang kantor dan rumah. Begitu terus setiap hari. Kemacetan di Jakarta membuat saya malas keluar rumah pada akhir pekan. Pastinya membosankan sekali, mengingat sewaktu kuliah dulu saya termasuk sering beraktivitas keluar rumah, melakukan hal positif tentunya.

Sejak kecil, orang tua mengarahkan saya agar aktif menggeluti olahraga dan seni. Menurut mereka, energi saya terlalu berlebihan, sehingga sayang kalau tidak disalurkan ke hal-hal yang positif, hehehe. Sempat bergabung dengan klub renang dan klub basket di kota kelahiran, Surabaya, mulai SMP sampai kuliah saya aktif bergabung di organisasi siswa/mahasiswa berhubungan dengan kesenian maupun olahraga. Masa SMU pun saya warnai dengan bermusik. Saya merasa bermain musik dan bergabung dalam tim olahraga bisa membuat hidup saya lebih berarti. Itu adalah dua hal dari beberapa aktivitas favorit yang membuat saya bahagia.

Sungguh sayang, sejak bekerja justru dua kegiatan tersebut lama saya tinggalkan. Kesibukan dan tempat tinggal teman-teman yang berjauhan menjadi alasan utama. Beruntung, ibu kost saya di Jakarta adalah seorang ustadzah yang aktif di pengajian dan memiliki kelompok rebana. Jadi saya sesekali ikut acara pengajian plus mendengarkan mereka latihan rebana dan berdendang. Kebetulan juga, ibu kost saya ini adalah sahabat Umi Elvi Sukaesih, seorang penyanyi dangdut yang legendaris di Indonesia. Jadilah, jika Umi Elvi hadir, kami semua berlatih bernyanyi sambil bermain rebana. Paling tidak, aktivitas mengaji bersama dan berlatih rebana bisa mengembalikan hobby bermusik yang sudah lama saya tinggalkan. :)

Hingga tibalah saat saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Australia. Australia adalah negara yang tidak pernah terpikir untuk saya datangi. Bahkan dalam mimpi pun tidak. Tetapi justru di Australia saya bertemu kembali dengan pengalaman lama. Pengalaman berorganisasi dan berkesenian. Saat pertama kali datang kemari, saya sudah tertarik dengan organisasi pelajar Indonesia, PPIA. Sebelum kemaripun, saya bergabung dalam mailing list PPIA dan teman-teman di PPIA-lah yang membantu saya mendapatkan tempat tinggal yang hingga saat ini saya tinggali. Saya sangat beruntung dapat bergabung dengan PPIA sejak dini. Pertama kali bergabung di kepengurusan, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Wakil Ketua PPIA ranting The University of Adelaide.

(more…)

Bersama PPIA: Dahulu, Kini dan Yang Akan Datang

Oleh: Muhammad Taufan*)

Saya dan PPIA

Bagi saya, keterlibatan di PPIA, yang berawal di tingkat ranting di Flinders University, Adelaide, kemudian berlanjut di tingkat cabang South Australia, merupakan hal yang sangat saya syukuri dan banggakan. Ya, saya syukuri karena dapat ikut serta membantu kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelajar dan Indonesia sekecil apapun kegiatannya, dan saya banggakan karena dapat berdiri di antara rekan-rekan yang luar biasa, berasal dari berbagai latar belakang daerah, profesi serta disiplin ilmu, namun memiliki satu semangat untuk membawa manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Hal ini terlepas dari apapun posisi kita di PPIA, usia dan perbedaan jenjang studi yang kita tempuh.

Singkat cerita, selama kurang lebih dua tahun berkecimpung di PPIA tingkat ranting dan cabang sangat banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat diperoleh. Hingga pada bulan Juli 2014, ketika kepengurusan PPIA South Australia, dimana saya dipercaya sebagai wakil ketuanya, akan segera berakhir, datanglah undangan menghadiri Kongres PPIA Pusat yang akan dilaksanakan di Brisbane, Queensland. Menerima informasi tentang adanya Kongres tersebut, hal yang terpikir pertama kali adalah apabila ada uang yang cukup saya ingin datang, jalan-jalan ke Brisbane, dan bertemu rekan-rekan PPIA dari cabang-cabang dan ranting-ranting lain.

Kemudian, mengingat adanya berbagai masukan, termasuk telepon dari Mas Faiz dan dorongan PPIA di South Australia, agar saya memajukan diri sebagai Ketua Umum PPIA Pusat, membuat saya berpikir bagaimana meyakinkan rekan-rekan tersebut, termasuk para peserta Kongres nantinya agar tidak memajukan saya sebagai calon Ketua Umum PPIA Pusat. Namun, dengan pertimbangan yang ada pada saat Kongres dan ‘paksaan’ Mas Faiz, Dudy, dan lainnya, saya bersedia mendampingi Dudy dalam presentasi kandidat Ketua Umum PPIA Pusat 2014-2015. Dari proses yang berjalan, alhamdulillah, telah diperoleh hasil terbaik dengan terpilihnya Dudy sebagai Ketua Umum PPIA Pusat. Tentu saja ini sangat melegakan bagi saya karena terhindar dari amanah yang begitu berat, namun di satu sisi saya juga harus membantu Dudy dengan menyatakan bersedia sebagai Wakil Ketua Umum. Dari sinilah kemudian dimulai babak baru perjalanan saya di PPIA dengan lingkup yang jauh lebih besar.

(more…)

Memayu Hayuning Bawana

Oleh : Tri Mulyani Sunarharum*)

Memasuki akhir bulan Oktober 2014, tepat di hari pertama di tahun baru Hijriyah, kota Brisbane sudah mulai terasa panas meskipun sebenarnya masih belum memasuki musim panas. Sang mentari pun terlihat sangat ceria berbagi cahaya dan energinya pada dunia. Namun, tetap saja kesejukan masih hadir di tengah-tengah kebersamaanku menikmati akhir pekan bersama keluarga tercinta, di sebuah apartemen sederhana yang sudah kami tinggali selama hampir dua setengah tahun.

Pergantian tahun baru Hijriyah ini membuatku merenungkan dan merefleksikan kembali apa yang telah kujalani dalam hidupku, bagaimana aku menjalaninya, dan apa saja yang harus kuperbaiki untuk dapat semakin bertumbuh menjadi insan yang lebih baik. Hmm.. Aku pun tersadar bahwa waktu tak terasa cepat berlalu. Masih banyak tugas-tugas hidup yang belum kuselesaikan. Tugas-tugas yang kumaknai sebagai bagian dari perjuanganku dalam turut memayu hayuning bawana.

Mungkin di antara kita ada yang sudah sering mendengar, namun ada pula yang sama sekali belum pernah mendengar istilah “memayu hayuning bawana”. Apakah arti dan maksudnya? Bila diartikan ke dalam ranah Bahasa Indonesia, memayu hayuning bawana adalah memelihara kelestarian dunia/ alam atau mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia. Ya.. Istilah yang berasal dari Bahasa Jawa ini memiliki makna yang luas dan cukup dalam. Aku pun percaya bahwa manusia diciptakan pasti ada maksudnya, yaitu untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Dan betapa bijaksana Tuhan memberikan peranan yang berbeda-beda pada manusia dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat bersinergi dalam upaya memayu hayuning bawana tersebut. Ada yang menjadi khalifatullah seperti pemerintah, lurah, atau bahkan ketua RT; ada yang menjadi pedagang; menjadi petani; menjadi guru; menjadi peneliti; menjadi pengusaha, dan sebagainya. Dan dari keberagaman peranan itu, kita sekalian adalah pemimpin-pemimpin kecil, khususnya bagi diri kita sendiri.

(more…)

Sampai Saat Kita Bersulang, Tetap Kosongkan Cawanmu, Kawan!

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra*)

Rabu, 27 Agustus 2014.

Aku bergegas setengah berlari melewati tanjakan di sepanjang Murphy’s Avenue sebelum menikung ke Braeside Avenue. Jam delapan kurang sepuluh malam AEST, akhirnya aku tiba di rumah. Mampir dapur, menyambar sepiring nasi dan ikan goreng tepung masakan istriku, kembali ke kamar bersama secangkir teh panas, tak lupa kucium kening istri setelah diciumnya tanganku. Kunyalakan laptop dan mulai login Skype, aplikasi video-call yang baru saja semalam ku-install agar dapat turut rapat kerja online dengan Departemen Media dan Komunikasi PPIA.

Koneksi tersambung! Tak sampai sepeminuman teh kemudian, undangan konferensi masuk. Rapat kerja dimulai. Ini adalah rapat kerja kali kedua bagi Depmedkom, tapi pertama kali bagiku, karena pada rapat Upgrading sebelumnya aku berhalangan, masih di kereta dalam perjalanan pulang dari kelas akhir pekan di kampus UOW-Sydney Business School. Agenda rapat kali itu adalah pembagian peran serta program kerja. Depmedkom memiliki empat bidang. Content dan Creative digawangi oleh Putu Dea Kartika Putra, dibantu Edwin Tang, Arrizki dan Syifa Puspasari. Public Relations menjadi tugas Felix Chandra bersama Gregorius Abanit dan Nadeen Samira. Ridho Nur Imansyah dan Erlangga Satria Gama berperan krusial di bidang Information Technology dan bertanggung jawab mengelola situs resmi PPIA. Adapun ‘Mas’ Andri Sinaga, ‘Mas’ Aga Maulana dan aku ditunjuk sebagai Media Relations Officers. Selain itu, ditetapkan sembilan program kerja utama yang meliputi Radio PPIA, Newsletter PPIA, Manajemen Sosial Media, Manajemen Website, Video Ucapan Hari Besar, Majalah Aktivis, Press Release, Design Poster dan Flyer, serta Diary PPIA Aktivis. Rapat berjalan dinamis dan hangat. Aku terkesan dengan potensi dan kinerja teman-teman baruku. Semangat dan optimisme mereka kuresapi. Bak disuntik darah segar, aku senang bisa lebur bersinergi, serasa jadi muda lagi.

(more…)

Do It Now : Sometimes “Later” Becomes “Never”

Oleh : Kartika Sari Henry *)

1 Agustus 2014.

Tepat satu bulan setelah saya datang ke Melbourne – kembali lagi jadi pelajar dan untuk pertama kalinya bersekolah di luar Indonesia. Saya melihat PPIA Pusat membuka pendaftaran anggota untuk periode kepengurusan 2014-2015 melalui Facebook. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu tentang apa yang sudah dilakukan oleh PPIA Pusat. Hal menarik pertama yang saya temukan adalah PPIA Pusat mengoordinasi pengumpulan dan penyaluran 1-2 ton buku dalam beberapa tahun terakhir untuk anak-anak Indonesia. Bagi saya, jumlah tersebut BESAR sekali dan menunjukkan tindakan nyata. Walaupun berada di luar negeri, kita tetap dapat berkontribusi bagi Indonesia. Saya pun mulai membaca satu persatu program PPIA Pusat dan semakin tertarik untuk bergabung. Tetapi…

Terpikir sederet pertanyaan sebelum mendaftar, antara lain:

(more…)

Kemahasiswaan Indonesia di Australia

Oleh : Agdiosa Manyan*)

Banyak orang berharap untuk mengenyam pendidikan di luar Indonesia. Saya pun tidak terkecuali, namun dari sisi lain saya juga ingin merasakan pendidikan tinggi di Indonesia, untuk mengetahui perbedaan mendasar dari segi pendidikan yang membentuk para lulusannya. Salah satu jalan untuk memenuhinya adalah program double degree yang dimiliki oleh Universitas Indonesia. Dua tahun dijalani di UI dan dua tahun selanjutnya di universitas mitra di luar negeri.

Berawal dari situ, saya pun memulai dua tahun pertama perkuliahan saya di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin. Saya merasakan kerasnya iklim pembinaan yang diterapkan oleh Fakultas Teknik. Iklim yang menurut banyak orang ketinggalan jaman karena dipenuhi oleh teriakan, baris-berbaris dan tugas-tugas bertumpuk yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Tentu saja semuanya memiliki maksud, membentuk pribadi saya yang sekarang, yang tahan oleh semua tekanan mental yang lahir dari kehidupan perkuliahan.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menemukan ketertarikan pada kehidupan di luar kelas yang jenuh, salah satunya adalah kehidupan organisasi kemahasiswaan. Langsung aktif pada tahun pertama, saya tergabung pada Ikatan Mahasiswa Program Internasional BEM FTUI dan aktif pada banyak kegiatan, mulai dari diskusi, olahraga, sosial, pergerakan mahasiswa dan salah satunya adalah ikut dalam aksi menuntut turunnya Gumilar Rusliwa Sumantri, Rektor UI pada saat itu, yang dijerat kasus korupsi Perpustakaan Pusat UI. Begitu luar biasa bila mengingat bagaimana negara kita dapat diubah melalui reformasi yang diawali dari pergerakan mahasiswa, bagaimana saya harus bisa menjalankan peran sebagai mahasiswa yang tidak hanya belajar namun dapat memberikan pengabdian kepada masyarakat.

(more…)