Latest Posts

Meraih Impian untuk Studi Lanjut: It’s Not Impossible

Setiap orang yang menempuh studi di luar negeri pasti memiliki kisah dan motivasi yang berbeda-beda, demikian juga dengan apa yang saya alami hingga saat ini. Berawal dari keinginan saya untuk melanjutkan studi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan seminar dan talkshow tentang studi lanjut yang diselenggarakan di kampus saya semasa kuliah S1. Berbekal beberapa informasi yang saya dapatkan dari kegiatan-kegiatan tersebut, saya menyampaikan keinginan saya pada orang tua saya dan alhamdulilah kedua orang tua saya merestui keinginan tersebut. Awalnya, program profesi dietitian sempat menjadi pertimbangan saya, namun saya urung mengikuti program tersebut karena saya membulatkan tekad untuk mencari beasiswa agar tidak membebani orang tua saya. Apakah saya memilih studi S2 hanya karena alasan biaya? Tentu tidak. Pikiran saya sederhana: dengan menempuh studi master, akan lebih besar peluang untuk ke luar negeri dan saya bisa mengejar cita-cita awal saya waktu itu untuk menjadi akademisi.

Di masa pengerjaan skripsi, saya memulai perjalanan menuju impian untuk studi lanjut. Saya menemui dosen di jurusan saya, yang merupakan alumnus universitas yang saya inginkan. Universitas tersebut, setahu saya, adalah salah satu yang terbaik untuk memperdalam ilmu gizi di Eropa dan cukup banyak senior saya yang sudah melanjutkan studi ke sana. Sejujurnya saya tidak pernah berpikir untuk belajar di Australia, karena banyak orang yang mengatakan bahwa requirements-nya sangat tinggi. Bukan hanya terkait kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga beberapa required courses bagi calon mahasiswa di bidang kesehatan. Belum lagi cerita bahwa Australia Awards Scholarship (AAS), salah satu beasiswa idaman untuk belajar di negeri Kanguru, lebih banyak diberikan pada pegawai negeri atau orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja cukup banyak, bukan fresh graduate seperti saya.

Singkat cerita, saya mendapatkan banyak informasi dari dosen saya tersebut, terutama terkait IELTS dan persyaratan untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri. Beliau juga mengarahkan saya untuk tidak mengejar satu beasiswa dan satu kampus saja, melainkan saya harus mencoba semua peluang yang ada karena kita belum tahu di negara mana rezeki kita berada. Selain itu, hal terpenting untuk mengawali langkah saya adalah menempuh ujian IELTS, tes Bahasa Inggris yang awalnya saya sama sekali tidak tertarik mempelajarinya.

Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tetapi pertemuan saya dengan dosen saya tersebut membawa banyak perubahan dalam cara berpikir saya, khususnya dalam mencari beasiswa. Berdasarkan arahan beliau, saya membuat daftar panjang yang berisi lebih dari sepuluh beasiswa dan kampus potensial yang akan saya apply, lengkap dengan deadline dan persyaratannya. Finally, ada tujuh beasiswa yang saya coba mendaftar, termasuk AAS. Selain itu, satu hal lagi yang membuat saya sangat bersyukur adalah beliau dengan senang hati membantu saya belajar untuk persiapan tes IELTS dan aplikasi beasiswa. Mungkin beliau sudah bisa memprediksi bahwa persiapan saya akan kurang maksimal kalau tidak dibantu, hehehe.

Setelah jatuh bangun menjalani tes IELTS dan mendapatkan Letter of Acceptance dari kampus idaman saya di Eropa tersebut, datanglah rezeki yang tak disangka: email bahwa saya menjadi awardee AAS. Memang saat itu tidak mudah untuk langsung mengganti negara tujuan studi yang sudah terpatri di kepala selama setahun lebih, tetapi inilah jalan yang disiapkan-Nya untuk saya. Alhamdulilah semua rangkaian pre-departure training sudah saya lalui hingga tak terasa saat ini saya akan memasuki semester terakhir saya di University of Queensland (UQ).

Selama perjalanan mendapatkan beasiswa dan menjalani studi lanjut, saya mendapatkan banyak hal yang berarti, namun ada tiga hal utama yang ingin saya bagikan dalam story ini. Pertama, tentu saja banyak pengalaman baru yang didapatkan ketika menempuh studi: mendapatkan teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif. Kedua, sangat penting untuk menguatkan tekad dalam meraih cita-cita dengan diiringi niat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa? Karena pada beberapa contoh yang saya temui, niat yang kurang baik dan tidak adanya restu orang tua seringkali berujung pada keputusasaan dalam mengejar cita-cita untuk melanjutkan studi. Terakhir, jadilah pribadi yang rajin bersyukur karena tidak ada rasa syukur dan keikhlasan yang merugikan, walaupun mungkin butuh waktu yang lama untuk menyadarinya. Meraih impian untuk studi di luar negeri memang tidak mudah, but it’s not impossible.

Salam PPIA!

Hesti Retno Budi Arini

(University of Queensland)

IMG-20180924-WA0014

Bisa Karena Terbiasa

Thumbnail_PPIAVlog

Saya tidak lulus SMA. Begitu saya mendekati akhir SMA kelas dua, saya langsung merengek minta disekolahkan di foundation yang berlokasi di Sydney. Saya yang berumur 16 tahun waktu itu ngebet sekali cepat-cepat keluar dari Indonesia, tidak terpikir betapa susahnya hidup di negeri orang tanpa riset yang matang. Di sisi lain, saya juga tidak yakin kalau nilai A level saya akan mencukupi untuk masuk kuliah jika saya lulus nanti. Setelah saya menjelaskan alasan saya kepada orang tua, akhirnya mereka menyetujui dan menyanggupi.

Semua berjalan dengan lancar, awalnya. Setelah satu tahun saya belajar di Sydney, keluarga saya terkena kendala finansial. Dari uang jajan yang mulai dikirim terlambat, kemudian dikurangi, kemudian tidak sama sekali. Saya sadar saya harus putar otak untuk menutupi biaya hidup bahkan sampai daftar beasiswa sana-sini (yang sayang sekali hanya mentok di tahap interview karena nilai saya ngepas saja, hahaha).

Tapi saya sadar, rasanya saya kurang ajar sekali bila menyerah di tengah jalan seperti ini. Keluarga saya tidak kenal lelah mendukung saya, mentally dan financially, sedangkan saya merengek minta pulang ke Indonesia lagi. Ditambah lagi saya tidak memiliki ijazah SMA, tidak punya pegangan lain. Mau tidak mau, saya tetap belajar sambil kerja part-time. Anak manja seperti saya tiba-tiba berkerja di restoran cepat saji pada shift pagi, kemudian kuliah sore hingga malam. Keadaan berubah begitu mendadak, rasanya kalau saya ingat-ingat lagi begitu ngilu karena waktu itu belum terbiasa, hahaha!

Kehidupan saya hanyalah kerja dan belajar, begitu terus setiap bulan. Saya kala itu tidak memiliki teman. Walaupun tampang saya seperti ‘anak gaul Jakarta’ (ini verbatim! Hahaha) saya sebenarnya tidak pandai berkenalan dengan orang baru. Namun, saya senang berorganisasi dari SMP, karena secara langsung organisasi ‘memaksa’ orang lain untuk berkenalan dan berkerja dengan saya. Saya bisa melewatkan kenalan basa-basi yang saya tidak sukai. Akhirnya, saya memutuskan untuk masuk PPIA University of Sydney (USYD) 2016.

Saya mendaftar menjadi anggota desain di PPIA USYD, dan di tahun yang sama ditawari posisi menjadi anggota seni budaya dan olahraga di PPIA New South Wales (NSW). PPIA NSW mempercayakan saya untuk menjadi project manager sebuah acara drama, yaitu Panggung Pahlawan. Sebagai anak baru yang juga culun, tak terhitung berapa kali saya menangis di depan teman-teman karena tekanan memegang acara, hahaha. Walaupun tidak semua berjalan mulus, saya senang dapat bertemu dengan teman-teman baru yang tidak sungkan untuk saling membantu. Teman-teman saya juga tidak ragu untuk mengajarkan hal baru kepada saya, alias tidak pelit ilmu. Kudos!

Selesai masa jabatan 2016-2017, saya kembali ditawarkan untuk menjadi anggota staf desain PPIA NSW tahun 2017-2018. Jujur saja, saya suka pusing bila ada tugas yang didelegasikan secara mendadak kepada saya. Namun, tugas-tugas seperti itu terkadang nagih lho, ya. Mungkin karena saya juga yang senang mengerjakan apapun yang berbau desain. PPIA UTS tahun itu juga menyelenggarakan drama musikal yang berjudul Epilogue, yang saya, lagi-lagi, juga menjadi bagian dari itu. Saya bersyukur karena PPIA cabang dan ranting tidak bosan melihat muka saya yang begitu-begitu saja.

Di tahun terakhir saya kuliah, saya sudah berpikir untuk tidak mendaftar ataupun terlibat dengan PPIA manapun, karena ingin fokus serta memberikan kesempatan kepada murid lainnya. Mendekati akhir periode saya menjabat di PPIA NSW, saya tiba-tiba ditelpon oleh teman saya dari Wollongong. Kemudian ia bilang ketua PPIA Pusat ingin berbicara dengan saya. Waktu itu Mas Hakam baru saja terpilih menjadi ketua baru, dan wajahnya terpampang di instastory teman-teman saya yang mengikuti Kongres PPIA di Brisbane. Mas Hakam menawarkan posisi ketua divisi desain kepada saya, dan saya, tentu saja, sempat ragu karena saya terbiasa berkerja di bawah pimpinan orang lain. Namun kini di sinilah saya, di semester terakhir kuliah, menjabat sebagai ketua divisi desain, hahaha! Acara dan skala yang diurus oleh PPIA Pusat membuat saya sempat kewalahan karena perbedaan yang mencolok dibanding ketika saya menjabat di cabang dan ranting. Sekalian saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang kini berkerja dengan saya bila saya masih banyak kurangnya, hehehe.

Saya senang menjadi bagian dari PPIA, di manapun itu, karena saya tidak pernah berhenti mempelajari hal baru. Walaupun capek harus juggling waktu antara kuliah, kerja dan berorganisasi, saya tidak pernah kapok terlibat dengan PPIA. Sebagai orang yang mudah kesepian namun juga malu berkenalan dengan orang lain, PPIA beserta acara-acaranya membantu saya untuk bertemu dengan teman-teman baru, bahkan konco kenthel, hehehe. Kesibukan-kesibukan yang berarti ini membuat saya lupa bahwa saya adalah murid manja yang penakut tiga tahun lalu. Saya sangat bersyukur akan hal itu.

Kalau saya diizinkan untuk memutar waktu, saya ingin berbicara kepada diri saya tiga tahun lalu. Ingin sekali memberi tahu kalau hidup tidak semulus yang kamu kira. Namun jangan terlalu khawatir, karena kamu akan bertemu orang-orang baik. Dan orang-orang baik ini akan membuat hidupmu lebih baik pula. Also, perbanyak istighfar biar gak nangis terus, hahaha!

Jangan lupa, kamu bisa karena terbiasa.

Salam PPIA! 🙂

 

Alya Budiman

(University of Sydney)

Woman from East and her dreams

IMG_1485 

Setiap kita tentu punya impian, entah itu akan tercapai suatu saat nanti ataukah tetap menjadi sepotong impian yang tergantung dilangit sana. Dan sayapun memiliki impian masa kecil untuk menjadi seorang Apoteker yang bekerja di apotek dan bertemu banyak orang. Seru saja berpikir menjadi seorang “penjual obat”.

Bagi seorang bocah usia 7 tahun, tergila-gila dengan profesi apoteker tentulah tak lazim kala itu. Harusnya bermimpi menjadi princess seperti dalam dongeng.  Dan pula profesi apoteker saat itupun belum sepopuler sekarang yang banyak digandrungi anak-anak muda. Terus, kok bisa ya? Hmmmmhm…… Pemberian vitamin C Bodde bergambar boneka sirkus oleh sepupu jauh saat saya main ke apotek tempat kerjanya itu yang menjadi alasannya. Rasa asam manis asam askorbat dan gambar yang lucu itulah yang membuat saya penasaran dengan sekolah yang bisa mengantarku bekerja di apotek.

Dan saat yang telah lama kunanti akhirnya datang juga. Di tahun 1998, saya bisa mendaftar pada sekolah impian. Walaupun mama, yang merupakan “entrepreneur” sejati, menghendaki agar saya menjadi perawat. Yah, jika nanti sudah berusia lanjut dan sakit, tentu saya bisa merawatnya. Lagi pula, waktu kecil saya langganan ke dokter hampir setiap bulannya. Namun, karena saya sudah menunggu waktu ini dari sewindu, maka diam-diam Sekolah Menengah Farmasi Depkes Kupang (SMF) yang saya daftar. Waktu bilang ke mama tentang SMF, beliau sedikit kecewa karena menginginkan saya masuk SPK. Alasannya saya dapat langsung bekerja selepas lulus nanti. Walaupun sebenarnya itu bukan alasan utama, anak tunggal merupakan alasan utama. SMF lokasinya di Kupang (pulau Timor), sedangkan saya bisa tetap berdomisili di Ende bersama mama, jika memilih SPK. Apa mau dikata, saya terlalu ingin menjadi Apoteker dan SMF adalah langkah awal menjadi Apoteker. Sayapun berada dalam dilema apakah tinggal dengan mama atau meraih mimpi. Tapi saya percaya yang terbaik sesuai kehendak-Nya. Sayapun lulus test masuk SMF dan merantau ke Kupang di usia 15 tahun.

Saya bersekolah selama 3 tahun di SMF dan lulus di bulan Juni tahun 2001. Saya sudah menggapai separuh mimpi saya. Dalam usia masih 18 tahun saya sudah bekerja dan punya gaji sendiri. Senangnya bukan kepalang, apalagi gaji saya lebih besar dari PNS kala itu.  Itu adalah salah satu alasan saya malas daftar CPNS saat itu. Saya masih punya banyak waktu, pikirku.  Rencansaya bekerja 2-3 tahun lagi sambil menabung biaya kuliah yang masih mahal saat itu. Kasian mama saya kalau harus menanggung semuanya. Apalagi biaya SMF-ku dulu sudah terhitung mahal buat ukuran SMA. Cita-citaku melamar CPNS saat 25 tahun, setelah menjadi apoteker dan bekerja di swasta 2 tahun. Namun, saya disarankan aji mumpung mendaftar CPNS. Lulus syukur, kalaupun  tidak lulus masih ada tahun-tahun berikutnya.

Sayapun menguji peruntungan di bulan Agustus 2001. Namun ketika lulus sekitar November, saya lalu berpikir kapan saya bisa lanjut kuliah? Antara bahagia, bingung dan shocked karena di luar ekspektasi. Bingung karena saya harus menunggu 5 tahun buat tugas belajar. Bahagia karena telah membanggakan mama dan almamater saat langsung lulus PNS provinsi hanya 5 bulan setelah lulus SMF. Namun, saya percaya “semua indah pada waktu-Nya”. Saat menelpon mama, beliau amat terkejut bercampur bahagia. Kemudian berpesan untuk tetap selalu menjadi anak yang jujur, takut akan Tuhan dan banyak berdoa karena saya bekerja bagi orang sakit.  Jangan pernah membuat orang yang kena musibah menangis karena air mata mereka akan membuat hidup kita lebih susah dikemudian hari. Dan hidupku dimulai dengan babak baru bekerja sebagai PNS namun tetap meredam asa.

Pada tahun 2004, saya mendaftar program khusus 2 tahun D3 Farmasi bagi lulusan SMF yang sudah bekerja. Perjuangan mendapat beasiswa Pemda NTT gagal dengan alasan masa kerja. Namun tak hilang akal, saya melobi beasiswa bagi tenaga kesehatan NTT pada Dinas Kesehatan dan bertemu dengan Kadis dr. Stefanus Bria Seran yang sangat mendukung peningkatan pendidikan bagi SDM Kesehatan. Setelah melewati proses yang penuh tantangan, akhirnya sayapun mendapatkan beasiswa. Walaupun tidak sepenuhnya ditanggung Dinkes, paling tidak waktu bisa kubeli buat mempersingkat waktu kuliah apoteker nanti.

Selesai kuliah D3 Farmasi dengan segala lika-likunya, akhirnya pada tahun 2006 di pulau Alor,  saya bertemu dengan kak Ermi Ndun, alumni AAS yang bekerja pada Dinkes NTT dan sosok yang sangat menginspirasi anak muda NTT. Hasil dari pertemuan itu adalah rajutan mimpi terbesarku, yaitu kuliah S2 di Australia. Yeiiii!!!! Mimpi kali ini membuatku berpacu lebih cepat melawan waktu. Segera kuusulkan tugas belajar di tahun 2008 agar secepatnya lulus apoteker dan melamar AAS.

Kali ini sebagai wanita yang sudah menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang berasal dari pulau Rote, menggapai mimpi bersama AAS bukanlah perkara mudah, dimana saya harus kuliah ribuan mil dari Kupang. Namun membawa anak-anak adalah mimpiku juga, sambil membagi waktu belajar dan keluarga. Dan pengorbanan terbesar saya adalah saat mengikuti Pre Departure Training di Bali, karena harus meninggalkan keluarga tercinta berbulan-bulan lamanya. Setelah melalui perjuangan dan drama kehidupan yang menantang, akhirnya saya bisa meraih mimpi dari masa kecil menjadi apoteker dan mimpi terbesar saya, mengambil pendidikan master di Australia. Dan bonus dari mimpi-mimpi itu adalah anak-anak pun akan dapat merasakan kehidupan di Australia.

Kepada anak-anak saya maupun semua anak muda yang saya jumpai, saya selalu berkata : “Selama mimpi masih gratis dan tidak berbayar bagi siapapun dia, maka mimpilah setinggi-tingginya, semesta akan mendukung jika kita percaya dan bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi kita”. Sekalipun sekarang saya sudah mencapai mimpi-mimpi saya, namun saya masih menaruh mimpi-mimpi lainnya pada rasi bintang Crux di atas sana. Ketika saya melihatnya, saya teringat mimpi-mimpi saya yang digantung di atas bintang dan akan menggapainya. Semoga.

 

Salam sukses buat para peraih mimpi.

 

Thresia Maria Wonga

(The University of Adelaide)

 

 

Great Things Never Came from Comfort Zones

 

Berada jauh dari negara asal dan harus beradaptasi di negara yang kita tidak familiar jelas merupakan sebuah tantangan. Tidak pernah terpikir dari bangku SMA kalau pada akhirnya saya akan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Pertama kali menginjakkan kaki di Canberra, satu hal yang terpikir adalah “Mengapa kota ini begitu sepi?” Hahaha. Dibandingkan dengan Jakarta, Canberra bisa dibilang bukanlah pilihan yang tepat untuk anak yang terbiasa dengan kehidupan di Jakarta. Namun melalui kota inilah saya banyak belajar dan saya bertumbuh menjadi diri saya  sekarang.

Sempat merasa menyesal dengan keputusan saya karena memilih untuk melanjutkan di kota Canberra, namun melalui organisasi PPIA inilah saya merasa beruntung bisa belajar di kota Canberra. Saya cukup aktif dalam organisasi PPIA dari awal saya masuk university. Awal mulanya, keinginan bergabung di PPIA ANU dikarenakan adanya rasa senang di dalam hati di saat bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Namun setelah bergabung, saya merasa organisasi ini sangatlah penting. Selain mengobati rasa rindu akan rumah, kita juga bisa memberikan kontribusi positif sebagai mahasiswa dan sebagai orang Indonesia. Maka dari itu, hingga hari ini saya masih aktif dalam organisasi PPIA ini. Selain di PPIA ANU, saya juga pada akhirnya memutuskan untuk bergabung PPIA cabang Australian Capital Territory (PPIA ACT). Menariknya, memang pada waktu itu saya sudah mempunyai minat untuk bergabung dalam PPIA ACT, tapi saya tidak menyangka akan bergabung di posisi sekretaris dan dengan cara seperti itu.

Beberapa hari setelah terpilihnya Welhelmus Poek atau yang lebih dikenal sebagai Mas Mus sebagai president PPIA ACT 2018-2019, sekitar jam 6 pagi saya menerima permintaan pertemanan dari Mas Mus di Facebook saya. Dikarenakan Canberra tergolong kota kecil, kita dengan mudah mengetahui kabar terpilihnya Mas Mus. Lalu setelah saya menerima permintaan pertemanan dari dia, saya mengirim pesan untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi President PPIA ACT. Setelah itu kami berbincang dan saya menawarkan diri saya untuk menjadi kepala bagian di divisi minat, bakat, dan keterampilan. Lalu saya ingat Mas Mus menjawab “Wah aku senang kalau ada anak muda kayak kamu, I will give one strategic position to you.” Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan Mas Mus untuk membicarakan posisi di PPIA ACT dan saya sempat bimbang saat ditawarkan untuk memilih antara posisi sekretaris atau kepala bagian divisi minat, bakat, dan keterampilan. Sejujurnya, saya sedikit takut jika saya memilih menjadi sekretaris saya hanya belajar hal administrasi-administrasi saja. Namun pada waktu itu, Mas Mus bilang ke saya kalau ini merupakan posisi yang strategis kalau kamu mau belajar banyak.  Saya bersyukur saya mengambil keputusan untuk mengambil posisi sekretaris ini, karena saya benar-benar belajar banyak. Mulai dari bertemu dengan orang-orang penting dan juga mengkoordinir acara-acara Indonesia di Canberra dan juga antar negara bagian.

Selain itu, berada di ibukota Australia yang merupakan pusat pemerintahan Australia merupakan suatu privilege bagi saya sebagai pengurus PPIA. Kedutaan Besar Indonesia yang terletak di Canberra cukup memudahkan bagi kami sebagai pengurus PPIA ACT untuk berkomunikasi dengan Duta Besar Indonesia di Australia dan pejabat-pejabat lainnya. Salah satu yang membuat saya terkesan atas privilege bisa belajar dan berorganisasi di PPIA ACT ini adalah ketika Konselor Menteri Penerangan, Sosial, dan Budaya secara personal memuji kinerja saya. Sebagai mahasiswa, pujian itu sangat berarti dan membuat saya sendiri termotivasi untuk berkembang dan berkontribusi lebih lagi. Dari PPIA, saya banyak belajar mengenai leadership, teamwork, dan juga dalam hal time management, khususnya di saat saya diharuskan untuk bijak dalam membagi waktu untuk mengerjakan assignment dan mengkoordinir keberlangsungan kegiatan PPIA.

Seperti yang tertera pada judul, saya percaya “Great things never came out from comfort zone.” Jadi melalui tulisan ini, saya ingin mendorong kalian, di mana pun kalian berada dan ditempatkan, always challenge yourself dan jangan takut untuk berkontribusi lebih! Apalagi untuk Indonesia!

Salam PPIA!

October

Joshlyne Edwina

(Australian National University)

Petualangan yang Berawal dari Mimpi

Saat masih di bangku SMA mungkin kita pernah menuliskan mimpi kita untuk melanjutkan kuliah di universitas mana. Beberapa orang mungkin tidak percaya dengan hal ini karena apalah arti dari sebuah tulisan di kertas yang ditempel di dinding kelas. Termasuk saya, bahkan setiap kali saya disuruh untuk menuliskan cita-cita mau ke mana selanjutnya , saya tidak pernah serius untuk menulisnya. Oleh karena itu saya selalu menulis akan melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Australia. Sejujurnya saya juga tidak tau apa motivasi saya untuk menuliskan cita-cita yang bahkan pada saat itu saya cuma menganggap sebagai mimpi saja, karena tidak ada yang salah dengan mimpi. Tetapi dengan berjalannya waktu, setiap kali melihat tulisan tersebut, hati kecil saya selalu meminta untuk mewujudkannya. Alhamdulillah dengan doa dan dukungan orang tua, mimpi saya terwujud, saya berhasil sampai di University of Wollongong (UoW). Di sinilah petualangan itu dimulai.

Sebelum masuk Uni, saya harus mengikuti college Bahasa Inggris selama 6 minggu di UoW. Tidak memiliki kerabat atau orang yang saya kenal di Wollongong, saya memutuskan untuk mengontak PPIA UoW. Terima kasih untuk Mas Aan, President PPIA UoW waktu itu (tahun 2015), yang mau membantu saya untuk mencarikan rumah dan bahkan saat pertama kali sampai, beliau membantu saya untuk pergi membeli barang yang saya butuhkan sembari mengajak keliling kota Wollongong. Saat itu saya masih pemalu karena masih baru dan jadinya merasa kesepian karena tidak memiliki teman, lalu saya diajak main dan mulai berkenalan dengan teman-teman lainnya dan juga keluarga besar PPIA UoW.

Lalu tahun pertama saya di Uni dimulai, saat itu saya sudah pindah ke Sydney karena kelas yang saya ikuti memang berada di Sydney bukan di Wollongong. Di Sydney saya tinggal di rumah wakaf yang juga berfungsi sebagai musholla milik salah satu komunitas muslim di Sydney. Tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di luar kesibukan perkuliahan. Tugas, buku, dan angka mungkin teman dekat yang saya punya. Jarang ada waktu untuk nongkrong seperti saat masih di Indonesia, paling hanya beberapa kali saja karena memang teman kampus saya hanya ada sekitar 32 orang dan itu pun setelah kelas mereka langsung pulang karena kebanyakan dari mereka berasal atau tinggal diluar kota Sydney. Jadi ya saya lebih banyak aktif dan berteman dengan komunitas. Rata-rata mereka semua telah berkerja dan berkeluarga. Sebagai anak muda pastilah ingin mencari teman sebaya dan merasakan ‘Sydney’ tetapi masih belum kesampaian. Mungkin hanya keliling kota untuk menghapus rasa bosan. Untungnya saya berkenalan dengan seseorang yang kita sering jalan bareng. At least saya ada teman ngobrol dan curhatlah. Oleh dia, saya akhirnya berkenalan dengan anak-anak PPIA kampus lain yang ada di Sydney.

Tahun kedua, petualangan ini saya lanjutkan dengan memutuskan untuk pindah ke kampus utama di Wollongong. Salah satu alasanya adalah saya ingin merasakan kehidupan kampus yang sebenarnya karena kampus yang di Sydney hanya kampus satelit atau cabang dari UoW. Kembali ke Wollongong, saya tinggal di Dallas House, rumah legendnya mahasiswa Indonesia di Wollongong. Karena saya ingin merasakan kehidupan kampus di luar negeri seperti di film-film, saya memutuskan petualangan ini untuk melakukannya dengan ‘STUDY HARD, PLAY HARD’.

Sibuk dengan tugas, essay dan dikejar deadline. Saya masih sempat untuk menikmati kehidupan dengan teman-teman, main game bareng dan melakukan hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah saya pikirkan untuk melakukannya. Selain itu juga ada drama-drama klasik seperti pertemanan dan percintaan yang turut mewarnai petualangan ini.

Lalu saya juga mulai aktif di PPIA UoW dan saat ini juga di PPIA Pusat. Belajar berorganisasi dari orang – orang hebat dan menambah networking sangat berarti bagi saya. Hingga satu waktu saya pernah termenung mengingat apa saja yang telah saya lalui dalam petualangan saya  selama ini.

Dulu yang hanya sebatas mimpi yang saya tempel di dinding kelas, entah bagaimana mengantarkan saya berdiri dan bertualang di benua Australia. Bertualang mencari ilmu dengan dosen terbaik, bertemu dengan beragam macam orang dan pengalaman baik yang enak maupun tidak enak, telah emberi saya pelajaran yang beguna untuk masa depan. Tidak hanya dalam konteks studi tetapi juga dalam kehidupan.

Di situ saya percaya, bahwa mimpi bisa jadi nyata. Mimpi yang dulu saya tidak anggap serius saja bisa jadi nyata. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi-mimpi itu akan membawamu pada petualangan yang luar biasa!

20180917_120630

Fuad Alghani

(University of Wollongong)

Ketika Saya Memilih Jalan yang Sulit

35721691_10212281620304283_3429017840911384576_n

Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk melanjutkan studi Strata 2 (Master), walau harus melewati berbagai drama kehidupan. Yah, seperti yang Allah firmankan dalam Alquran, “Innamal khayatud dunya la’ibuw wa lahwun…”, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Oke, gak nyambung.

Kok jalan yang sulit? Hmmm… Gimana yah. Tahun 2012 saya menjadi sarjana dan mulai memasuki jenjang karir pada dunia kerja. Dari tahun itulah saya mulai menikmati uang hasil kerja sendiri dengan hasil yang ‘proper’. Uang hasil kerja saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Yah, untuk modal membangun keluarga kelak. Walau sampai sekarang gak nemu-nemu juga yang cocok, wkwkwkwk… Di saat kondisi seperti itu, mungkin sebagian orang mungkin lebih memilih karir dan kehidupan yang settle, daripada kembali ke bangku kuliah, ngekos lagi, ngerjain tugas lagi, dan sederet kegiatan mahasiswa lainnya. Namun, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Saya sadar, tak ada yang menjamin 100% bahwa dengan saya kuliah, saya akan menjadi pribadi yang saya cita-citakan. Tak ada. Tak ada garansi bahwa kondisi finansial saya akan menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya masih kerja dulu. Tak ada. Namun, saya ambil resiko itu. Bukankah hidup itu pengorbanan? Bukankah untuk menggapai bintang kita harus berusaha dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Tidak menjamin berhasil memang. Tapi tidak melakukan apa-apa akan menjamin kita untuk gagal meraih mimpi. Takkan lari gunung kau kejar, tapi takkan sampai bila tak kau daki. Begitu kira-kira.

Lah, emangnya apa sih yang mau dicari dari belajar Master? Mau jadi dosen? Enggak, sih. Soal alasan mendasar untuk melanjutkan jenjang Master kayaknya bakal perlu kisah dengan judul tersendiri, deh. Gak cukup kalo diceritakan di sini, hehehe…

Anyway, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa saya agak terlambat mengambil jenjang Master ini. Mungkin benar juga sih, hahaha… Banyak teman-teman saya yang kini sudah mengambil jenjang Doktoral di luar negeri, beasiswa pula. Bahkan adik kelas saya sudah banyak yang menyandang gelar Master. Yang tak melanjutkan kuliah pun banyak yang sudah melanglang buana, berkeliling dunia, dan memberi kontribusi kepada manusia dengan prestasinya yang berjuta. Saya? Kuliah S2 saja baru mau mulai. Tertinggal banyak langkah nampaknya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Ngapain sih lu, pake S2-S2 segala. Kawin dulu, lu tuh dah tua tauk!” Jlebbb… Hikss, tak apalah, kan katanya tiap orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri (ini lebih ke arah “menghibur diri” sih, wkwkwk…). Yah apapun itu, semoga kedepannya saya masih diberi kesempatan untuk berhasil dan menjadi manusia yang bermanfaat, sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW, “khoyrunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin. Yang baca bilang aamiin juga donk, hahaha…

Well, sebenarnya ide untuk melanjutkan studi master sudah ada dari dulu. Bahkan sebelum saya masuk kuliah Strata 1 (Bachelor). Namun, mimpi ini sempat terkubur dan terlupakan selama bertahun-tahun. Awalnya saya berkeinginan untuk kuliah di Inggris, dan praktis Chevening menjadi sorotan saya. Sayangnya, beasiswa bergengsi ini mensyaratkan pelamar harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun. Oh ya sudah, kerja dulu lah. Begitu pikir saya. Dan ternyata, saya keterusan bekerja hingga 5 tahun. Kemampuan Bahasa Inggris? Jangan ditanya, degradasi dimana-mana. Hingga pada pertengahan 2016, saya azzamkan hati untuk menggali kembali mimpi yang sudah tertimbun rutinitas harian. Saya mulai bergabung dengan Indonesia Mengglobal dan belajar banyak tentang dunia scholarship termasuk academic writing bersama mentor saya waktu itu. Bulan Desember 2016 saya putuskan untuk mengambil unpaid leave dari perusahaan agar saya bisa belajar IELTS. Dan saya memilih Pare Kampung Inggris sebagai tempat pertapaan saya.

Singkat cerita, setelah melalui drama ini dan itu (dramanya juga bisa dibikin cerita tersendiri, loh, hahaha…), saya memilih Monash University sebagai tempat tujuan belajar dan Master of Business Information System sebagai subjek studi, bukan kampus-kampus kenamaan di UK. Saya pun ambil tes IELTS dengan modal hasil belajar di Pare, buat essay lalala lilili, translate ijazah ke dalam Bahasa Inggris dengan bantuan penerjemah tersumpah. Setelah dokumen untuk mendaftar kampus dirasa lengkap, termasuk transkrip IELTS, saya apply tujuan studi yang saya minati itu dengan bantuan IDP. Setelah mendapat Unconditional Offer Letter, saya memupuk kepercayaan diri saya untuk mendaftar beasiswa LPDP reguler. Dan, alhamdulillah, tahap demi tahap berhasil saya lalui. Dengan kemudahan dari-Nya, wejangan-wejangan teman dan mentor, dan doa-doa dari keluarga tercinta, saya dinyatakan lulus. Sampailah saya di sini sekarang, Melbourne yang katanya kota pendidikan. Salah satu kota ternyaman untuk ditinggali di muka bumi. Katanya.

Jalan perjuangan masih panjang, dan itu harus saya lalui. Mungkin tidak semudah jalan waktu saya bekerja dulu, tapi Allah berfirman, “Inna ma’al ‘usri yusroo”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Oleh karena itu, saya mohon doa para pembaca sekalian yang budiman agar saya memperoleh ilmu yang bermanfaat, berhasil meraih apa yang saya cita-citakan, dan mampu memberi kontribusi yang nyata kepada masyarakat di manapun saya berada. Dan semoga doa-doa yang pembaca panjatkan juga kembali kepada diri pembaca sekalian.

Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasku dan atas orang-orang yang menuntut ilmu dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan jalan kami payah dan bermasalah, Aamiin…

Salam sukses!

Yugo P. Ananda, Melbourne, 20180619

Sebuah Mimpi yang Pernah Kandas.

Sewaktu kecil saya sering berkunjung ke rumah sakit dikarenakan kondisi kesehatan saya yang lemah. Dalam kunjungan saya ke rumah sakit, saya sering bertemu dengan figur dokter yang berwibawa. Saya sangat terpukau saat pertama kali melihat para dokter yang mengenakan pakaian putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Semenjak saat itulah saya termotivasi untuk menjadi salah satu dari mereka.

Waktu saya duduk di bangku SMA, saya mendengar berita bahwa PEMDA (pemerintah daerah) Belu menawarkan beasiswa untuk jurusan dokter umum. Mendengar berita tersebut tentu membuat semangat saya terpacu. Jalan menuju cita-cita saya untuk menjadi dokter umum pun akhirnya terbentang di hadapan saya. Namun, semuanya itu hilang begitu saja saat PEMDA memutuskan untuk melakukan perubahan yaitu jurusan yang akan disponsori dari dokter umum ke dokter hewan dan mitra kerja yang telah disepakati. Ditambah lagi kondisi fisik saya yang lemah, membuat orang tua saya khawatir kalau nantinya saya harus melanjutkan studi saya di Pulau Jawa.

Keputusan saya tentu tidak mudah karena menurut banyak orang ini ialah sebuah kesempatan emas yang seharusnya tidak dilewatkan sebab banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi serupa. Namun,karena dari dulu saya tidak mempunyai inspirasi untuk menjadi dokter hewan,maka tekad saya tentu tidak akan mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain. Hal ini terbukti ketika seorang sosok ayah yang tegas dan disiplin mempertanyakan perihal keputusan tersebut.

Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik merupakan jurusan yang tidak pernah saya pikirkan  sebelumnya. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya dimana ini menjadi titik perubahan pola pikir dan batu lompatan yang mempersiapkan saya menghadapi tantangan yang lebih besar. Mimpi menjadi seorang dokter memang telah kandas akan tetapi mimpi besar lainnya telah berhasil saya raih yaitu melanjutkan Studi Master di University of Melbourne selama 2 tahun dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS).

Tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan kesempatan kuliah Master di Australia. Banyak liku-liku yang saya hadapi mulai dari mengumpulkan informasi perkuliahan di Australia hingga belajar mandiri untuk mendapatkan skor TOEFL yang memadai. Perjuangan untuk meraih mimpi tersebut  menuntut kegigihan dan kesabaran diri selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah mendapatkan gelar sarjana, saya pun memberanikan diri untuk mengajukan salah satu beasiswa bergengsi yang disponsori oleh Pemerintah Australia yaitu AAS. Banyak waktu yang saya habiskan untuk melengkapi formulir aplikasi saat itu. Bahasa Inggris yang pas-pasan tentu menjadi tantangan bagi saya. Namun, saya sangat beruntung karena ada pintu-pintu bantuan yang akhirnya menjadi jalan keluar dalam mengatasi keterbatasan skor TOEFL saya. English Language Training Assistance (ELTA) NTT adalah pintu pertama yang akhirnya mengantarkan saya menjadi pelamar yang layak untuk melamar beasiswa AAS.

Dengan berdiskusi dengan para alumni di Forum Akademia NTT (FAN) melalui kelas Berburu Beasiswa ala FAN, aplikasi saya menjadi semakin tajam. Usaha belakang layar saya tidak berhenti di situ. Saya meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dengan beberapa dosen di jurusan Matematika yang pernah berkesempatan kuliah di negeri Kangguru. Alhasil, berkat pengorbanan tenaga, waktu, dan pikiran ,saya pun berhasil lolos dalam seleksi tahap pertama AAS hingga akhirnya resmi menyandang gelar AAS Awardee 2014 intake.

Menurut saya, mimpi adalah cikal bakal dari segala cerita sukses. Ketika mimpi itu kita pupuk dengan benih usaha dan kerja keras, panen yang melimpah pasti akan kita tuai. Pengorbanan belakang layar akan terasa sangat bernilai ketika puncak mimpi itu berhasil kita tapaki. Percayalah, pemandangan dari puncak ini sangat indah. Walaupun kini saya sudah menyandang gelar sebagai alumni AAS, saya masih mempunyai banyak mimpi yang sudah saya simpan dalam bucket list saya.

Go grab the chance.

Salam,

Seluz Fahik

Australia Awards Recipient 2014

School of Mathematics and Statistics, the University of Melbourne.

BEHIND THE SCENE

Sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas terkemuka di Australia, saya sering berpikir, “Apakah tangga pendidikan yang akan saya raih ini cukup untuk memulai karir saya di dunia pekerjaan nanti?” Berbagai berita tingkat penganguran yang tinggi sering mengganggu pikiran saya. Dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi, saya terinspirasi untuk mencari keunikan saya yang dapat membedakan saya dengan undergraduate lainnya.  Setelah memikirkan berbagai opsi, pilihan saya jatuh kepada berorganisasi. Mungkin beberapa orang akan bertanya mengapa saya memilih untuk meluangkan waktu dan tenaga saya untuk berorganisasi. Tetapi saya berharap, penjelasan yang dibawah ini dapat mengubah cara pandang orang-orang tersebut.

Dari kecil sampai saya duduk di bangku SMA, saya termasuk salah satu murid berprestasi. Saya menggunakan kebanyakan waktu diluar sekolah untuk belajar. Saya merasa bahwa dengan mendapakatkan prestasi yang baik dan menjadi murid yang cemerlang, saya dapat menjadi orang yang bisa membawa dampak positif di dunia ini. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya sadar bahwa pendidikan dan nilai ‘A’ tidak menjamin saya untuk menjadi orang sukses. Cara pandang saya beralih ketika saya mulai menjad murid di University of Melbourne.

Kurikulum di sekolah menengah jelas beda dengan di kuliah. Saya dituntut untuk menjadi lebih mandiri dalam belajar. Di samping itu, saya juga menyadari realita yang penting; cepat atau lambat, mau tidak mau, saya harus bekerja. Bukankah itu tujuan akhir pendidikan? bahwa kita dipersiapkan untuk bekerja. Namun apakah dengan bekerja kita bisa menjadi sukses? Jadi, jaringan atau koneksi memang penting dan bisa menentukan ‘nasib’ di masa depan. Tapi, seperti yang ditulis Hoey pada Inc Asean, “Pendidikan saja tidak cukup menyelamatkanmu dari kerasnya dunia karier. Kamu juga harus punya koneksi yang banyak, agar bisa bersaing dengan orang lain.”

Organisasi adalah sebuah platform yang tepat untuk bertemu dengan orang-orang baru dan mulai berkoneksi. Saya memutuskan untuk bergabung dengan organisasi murid Indonesia yang berada di Australia. Di tahun pertama, saya bergabung dengan PPIA Unimelb dan di tahun kedua saya bergabung dengan PPI Australia. Salah satu pengalaman yang paling membuat saya terpukau ialah ketika saya terpilih menjadi co-project manager. Melalui posisi ini, saya diberi kesempatan untuk memimpin dan menyelenggarakan acara diskusi yang bertema “The Forum”.

Disini saya belajar bahwa di dalam sebuah tim, kita tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri tetapi kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Selain itu saya juga belajar the pentingnya seorang individual yang dapat mengambil keputusan. Tetapi yang paling penting adalah kepuasan yang didapati setelah menyelesaikan sebuah projek. Berorganisasi tidak hanya dapat menambah jaringan dan pengalaman, tetapi berorganisasi memberikan makna di masa kuliah saya.

Estrella Desi Advensia

(Univeristy of Melbourne)

 

Mengejar Kebahagiaan yang Dapat Diterima Diri Sendiri

IMG_0354

 

Sebenarnya apa sih yang perlu manusia lakukan selama hidupnya? Menurut saya, setiap pribadi perlu berjuang untuk mengejar kebahagiaannya dengan cara yang bisa diterima oleh dirinya sendiri, bukan yang bisa diterima oleh lingkungan. Terdengar klasik yah, tapi itulah yang selalu saya pegang untuk terus bahagia. Saya tidak pernah kecewa dengan konsep hidup tersebut – karena dari hal tersebut, saya bisa berdiri di mana saya sekarang.

Nama saya Marvin Lucky. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen. Kenapa saya memulai dengan informasi ini? Karena saya bangga dengan kondisi saya saat ini. Saya menjalani masa perkuliahan saya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Dari sanalah, rasa cinta saya pada Republik Indonesia ini terpupuk dan bertumbuh. Semakin banyak saya tahu tentang pertanian Indonesia, semakin saya ingin menjadi bagian dalam perkembangan bangsa. Apakah latar belakang saya membuat saya mundur? Tentu tidak. Saya mengerti dan sadar, menjadi pejuang pertanian dengan latar belakang sebagai mahasiswa Indonesia-Tionghoa bukan hal yang lumrah. Dimana sebagian besar lebih tertarik menjadi seorang pebisnis, saya mencoba untuk bertahan dengan idealisme ini.

 

Sempat hampir menyerah dengan idealisme tersebut, Tuhan memberikan jalan untuk tetap bertahan dan berjuang di bidang pertanian. Saya mendapatkan beasiswa LPDP Indonesia (terima kasih banyak, LPDP, untuk kesempatan ini). Tidak ingin membuang kesempatan emas ini, saya segera bergerak dan mencari kampus dan jurusan pertanian terbaik di dunia. Pilihan saya jatuh ke the University of Adelaide. Saya mengambil Master of Global Food and Agricultural Business untuk jangka waktu 2 tahun perkuliahan. Tidak pernah ada penyesalan saat mengambil keputusan ini, karena the University of Adelaide adalah universitas terbaik dengan sejarah pertanian yang kuat. Saya banyak belajar (hingga sekarang) dari sistem pembelajaran, ilmu baru, dan teman-teman yang luar biasa.

 

Dua minggu setelah menginjakkan kaki di Adelaide, saya ditawarkan untuk menyalonkan diri menjadi ketua PPIA The University of Adelaide periode 2015. Awalnya, saya sempat minder karena latar belakang saya. Tapi saya memutuskan untuk menyalonkan diri. Meskipun ada kemungkinan kalah, setidaknya saya telah berjuang. Prinsip yang saya pegang teguh saat proses pemilihan hingga sekarang adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan berkat prinsip tersebut saya berhasil menjadi Ketua PPIA The University of Adelaide tahun lalu. Setahun bersama tim PPIA The University of Adelaide memberikan pengalaman dan cerita yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Susah, senang, capek, dan semangat mengiringi jalan kami selama setahun. Saya belajar untuk menerima kritik, untuk menerima perbedaan, dan untuk terus merangkul seluruh mahasiswa Indonesia di Adelaide. Saya sadar saya ketua yang jauh dari sempurna ketika menjalankan tugas, akan tetapi saya bangga dapat menyelesaikan masa jabatan saya dengan baik.

 

Selama berkuliah, mimpi saya adalah untuk pergi ke Roma, Italia dan bekerja di FAO-UN (Food and Agricultural Organization – United Nations) yang berpusat di ibu kota Italia. Saya bercita-cita untuk membantu seluruh manusia di dunia ini untuk mendapatkan makanan yang cukup, sehat, dan bergizi. Mimpi yang cukup simple, bukan? Memang, tapi saya sadar saya harus banting tulang dan berkorban demi mewujudkan impian saya. Meskipun begitu, saya tidak akan menyerah karena saya tahu saya sedang berjuang untuk mengejar kebahagiaan diri saya sendiri. Jujur, saya masih belum mengerti bagaimana cara terbaik untuk menuju ke sana. Namun saat ini saya sedang magang di UNORCID (United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia) yang bergerak di bidang kerusakan hutan dan pengurangan emisi karbon. Rasa cinta saya terhadap Indonesia semakin bertambah setelah saya mengerti bahwa sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi mengapa banyak orang Indonesia tidak ingin berkontribusi untuk memajukan Indonesia? Kenapa orang Indonesia cenderung merusak tatanan yang sudah baik ini? Kenapa orang Indonesia hanya bisa menggerutu dan protes saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya? Sebagai informasi, menurut World Bank 2015, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tahun 2015 menghasilkan kerugian dua kali lebih banyak dibandingkan dana yang diperlukan untuk membangun Aceh setelah tsunami. Singkatnya, tiga bulan kebakaran di tahun 2015 sama dengan rekonstruksi pembangunan di Aceh selama 10 tahun, dikali dua!

 

Sebagai penutup, saya bukan orang yang cukup percaya diri dengan masa depan. Saya pun belum memiliki gambaran jelas mengenai diri saya sendiri dalam lima tahun ke depan. Saya hanya ingin mengejar kebahagiaan yang bisa saya terima. Saya pun mengajak rekan-rekan untuk terus berjuang. Sesulit atau serumit apapun itu, jangan pernah menyerah. Tidak perlu minder akan masa lalu dan segala sesuatu yang sudah “nempel” di diri kita, tapi banggalah karena kita tidak menyerah untuk berjuang untuk bahagia. Salam PPIA ^^

___________________________________________________________________________________________

Marvin Lucky adalah penerima beasiswa LPDP yang saat ini sedang menekuni gelar Master of Global Food and Agricultural Business di University of Adelaide.

Mengejar cita-cita di bawah langit Adelaide

Oleh: Rifqi Satya Adhyasa *)

Selepas kelas 12, sama halnya dengan mayoritas alumni SMA pada umumnya, saya galau dalam memilih jurusan kuliah S1 saya. “Pilih jurusan kuliah ga usah yang susah-susah Qi, pilih aja yang kamu gemari dan sukai,” tutur orangtua saya. “Karena kalau kamu pilih suatu jurusan demi gaji tinggi saja, kamu akan stress dan nggak akan puas dengan hidupmu. Semua profesi bisa bikin kamu sukses, selama kamu jalani dengan sebaik-baiknya dan kasih semuanya. Pilih jurusan yang bisa menonjolkan bakat dan kegemaranmu. Jangan ambil jurusan mainstream cuma karena kamu khawatir nggak dapet pekerjaan. Bila industrinya belum ada, kamu selalu bisa bikin sendiri. Batasan satu-satunya dalam hidup adalah dirimu sendiri.”

“Kamu harus bangga jadi diri sendiri. Ayah sama Ibu bangga kok sama kamu, selama kamu bisa hidup mandiri dan nggak jadi beban hidup orang lain.”

Perkataan bijak di atas ini menginspirasikan saya untuk memilih jalan hidup yang juga tidak kalah anti-mainstream. Tidak seperti kota-kota utama lain di Australia seperti Melbourne, Sydney, Perth, dan Brisbane, Adelaide adalah satu-satunya kota yang belum pernah saya datangi semasa menjalani pendidikan SMP dan SMA di Canberra selama lima tahun. Saya juga belum punya koneksi mahasiswa Indonesia di Adelaide sebelumnya. Sedangkan dari segi demografis, Adelaide juga merupakan kota utama yang memiliki jumlah pelajar Indonesia paling sedikit di Australia.

“Life begins at the end of your comfort zone” (Kehidupan dimulai di luar zona aman kita). Pepatah dari jejaring sosial Instagram inilah yang telah menjadi pedoman saya untuk tidak pernah takut akan berbagai ketidakpastian dalam hidup. Berbekalkan saran dari orang tua, tingkat kenekatan level dewa serta sebuah pepatah pendek dari Instagram, saya putuskan untuk menjalani program S1 jurusan Marketing and Communication di University of South Australia (UniSA), Adelaide. Adelaide bukanlah kota yang terkenal bagi pelajar S1 Indonesia seperti saya. Namun, saya melihat kota ini sebagai tempat yang tepat untuk memperluas wawasan dan menemukan jati diri saya yang sebenarnya.

Sudah banyak hal yang saya pelajari selama berdomisili di Adelaide dua tahun ini. Pertama, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri adalah suatu kesempatan langka. Menurut saya, penting bagi pelajar Indonesia di luar negeri untuk memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan melalui menjalin koneksi internasional yang dapat bermanfaat di masa depan. Tetapi, kenyataannya masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang terjebak dalam “The Indonesian Circle”. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana budaya konservatif di Indonesia sering mengakibatkan rasa takut untuk menjalin silaturahmi dan persahabatan dengan warga asing, serta memperkaya wawasan mengenai berbagai pandangan hidup budaya asing di luar negeri. Ironisnya, sistem pendidikan S1 di Australia bertolak belakang dengan ideologi tersebut.

Semasa kuliah di UniSA, saya sadar bahwa pendidikan di dalam kampus tidak lengkap bila tidak dikolaborasikan dengan membangun pengalaman dan wawasan kerja di luar kampus. Dalam kelas, kita diajarkan teori dan ilmu pokok untuk bekerja di industri sesuai bidang masing-masing, namun proses pembelajaran praktis terjadi justru di luar kampus. Contohnya dengan menjadi sukarelawan, bekerja paruh waktu, mengikuti program penempatan kerja dan juga sesi networking. Lewat hal-hal inilah kita dapat mengimplementasikan berbagai ilmu yang telah kita pelajari di kelas, terhadap praktik di ‘dunia nyata’. Ideologi tersebut memotivasi saya untuk bekerja paruh waktu dalam bidang yang sedang saya tekuni. Walau kuliah adalah prioritas utama saya, saya juga selalu berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional. Sekarang, saya bekerja di dua perusahaan yang berbeda – sebagai staf Marketing and Communication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan sebagai Marketing Ambassador di AUG Global Networks cabang Adelaide.

Semasa hidup, awalnya saya pernah mengira bahwa kesempatan datang kepada orang-orang yang sabar menunggu. Namun pengalaman hidup mandiri selama dua tahun di Australia mengajarkan saya bahwa hal tersebut kurang akurat. Salah satu dosen favorit saya pernah berkata; “Opportunities are often disguised as hard work; that is why most people don’t recognize them”. Maka dalam kehidupan nyata, kesempatan emas datang kepada orang-orang yang berani untuk mengambil resiko untuk keluar dari zona amannya demi menjemput berbagai kesempatan dalam hidupnya. Lebih dari itu, kesempatan datang kepada pribadi yang selalu bersyukur pada semua yang ia miliki, serta mereka yang gigih dan cermat dalam membangun koneksi dan relasi. Yang paling penting, kesempatan datang kepada mereka yang cukup percaya akan impian dan tujuan dalam hidupnya. Faktor-faktor tersebutlah yang membuat saya sadar akan empat nilai-nilai pribadi terpenting dalam hidup saya: integritas, pola pikir terbuka, kreativitas, dan rasa bersyukur.

Poin inilah yang memberikan saya motivasi untuk mengambil berbagai inisiatif untuk membantu pelaksanaan berbagai acara dan program di UniSA. Berbagai kontribusi yang telah saya berikan terhadap UniSA antara lain: bertugas sebagai salah satu Business Mentor di kampus, bertanggung jawab sebagai Promotion Team Member di University of South Australia Student Association (USASA), menjabat sebagai Wakil Ketua PPIA UniSA periode 2015/2016, berpartisipasi dalam Unite Leadership Program 2015 dan Business Career Mentoring Scheme, serta berbagai kesempatan acara volunteering lainya. Berbagai aktivitas tersebut memberikan saya ruang dan peluang untuk berinteraksi dan menjalin koneksi lokal maupun internasional. Hal ini dapat bermanfaat bagi berbagai aspek jangka pendek maupun jangka panjang, dalam bidang personal, sosial maupun profesional dalam hidup saya.

Berbagai pengalaman di Adelaide telah merevolusi cara pandang saya mengenai definisi kesuksesan. Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan, namun kebahagiaanlah yang menjadi kunci kesuksesan. Awalnya, saya kira kesuksesan bisa diukur lewat materi. Namun, saya sekarang berpendapat bahwa kesuksesan dapat diukur dari dampak positif dalam kebahagiaan pribadi sekaligus dampak yang kita berikan kepada orang lain. Saya juga belajar bahwa selama kita masih diberi umur oleh Tuhan, sukses tidak akan ada ujungnya, dan tidak akan pernah ada batasnya – karena sesungguhnya, satu-satunya sekat yang membatasi kita dari sebuah impian adalah rasa takut akan kegagalan yang hanya terpancar dari dalam diri kita sendiri.

 

 

 

*) Rifqi Satya saat ini sedang menekuni program studi Bachelor of Marketing and Communication di University of South Australia, Adelaide. Selain kuliah, Rifqi berupaya untuk memperkaya pengalaman profesional dan berorganisasi. Hal ini ia raih dengan berpengalaman kerja di dua perusahaan yang berbeda. Saat ini, Rifqi tercatat sebagai staf Marketing and Comunication kasual di TEDxAdelaide Conferences, dan di AUG Global Networks cabang Adelaide sebagai Marketing Ambassador. Selain itu, Rifqi juga bertanggung jawab sebagai Wakil Presiden PPIA University of South Australia, periode 2015/2016 demi mempromosikan budaya nasional Indonesia, serta membentuk wadah silaturahmi internasional untuk seluruh pelajar Indonesia di University of South Adelaide.